Jumat, 08 Maret 2013

Timun Emas

”Mbah Buto Ijo”
Cerita Panji bermuatan ”ramalam masa depan” yang menyangkut sistem sosial-ekonomi kapitalis. Alkisah, ada seorang janda disebut Mbok Rondho. Dia ingin sekali memiliki seorang anak. Maka, datanglah dia kepada seorang raksasa bernama Mbah Buto Ijo agar hajatnya terkabulkan. Buto Ijo setuju dengan syarat kelak agar anaknya diberikan kepadanya untuk dimangsa. Lantaran keinginan yang tidak terbendung, Mbok Rondho itu setuju saja.

Dalam cerita dongeng tersebut tidak dijelaskan bagaimana prosesnya sehingga Mbok Rondho benar-benar mempunyai anak perempuan yang diberi nama Timun Emas. Setelah Timur Emas menapak usia remaja, Mbok Rondho ingat janjinya. Akan tetapi, dia tidak tega memberikan anaknya untuk dimangsa Buto Ijo.
Lantas berkunjunglah Mbok Rondho bersama Timun Emas kepada seorang pertapa di Gunung Gundul. Oleh pertapa tersebut Timun Emas diberi empat macam senjata penolak bala, yaitu jarum, biji timun, garam, dan secuil terasi. Pertapa itu berpesan apabila Buto Ijo mengejar, senjata tersebut supaya dilemparkan satu per satu.

Tiba saatnya Buto Ijo menagih janji. Walaupun Mbok Rondho dan Timun Emas memohon agar keinginan tersebut dibatalkan, tetapi Buto Ijo tidak bisa mengendalikan kerakusannya. Apalagi setelah melihat tubuh Timun Emas yang semloheh....

Timun Emas melarikan diri sambil melemparkan jarum. Maka, muncullah hutan dengan pepohonan yang lebat. Buto Ijo pun membabati hutan tersebut sampai bisa mendekati Timun Emas.
Dalam keadaan terpepet, Timun Emas melempar biji timun. Maka, jadilah ladang timun yang suburdengan batangnya yang melingkar-lingkar. Buto Ijo dengan mudahnya membabati tanaman tersebut.
Begitu Buto Ijo berhasil mendekat, Timun Emas melem- par garam. Maka jadilah laut. Buto Ijo bisa menyeberangi laut itu dan hampir saja menangkap Timun Emas. Dalam situasi gawat, Timun Emas melempar terasi dan jadilah danau lumpur. Danau lumpur tersebut semakin meluas dan menenggelamkan Buto Ijo.

Cerita ini ditafsirkan bagaimana rakyat menghadapi sistem kapitalisme raksasa. Sosok Mbok Rondho sebagai kiasan rakyat yang melarat. Timun Emas adalah kiasan dari kekayaan harta benda. Bermaksud mendapatkan kekayaan, rakyat datang kepada kekuatan kapitalisme yang dikiaskan dengan Buto Ijo. Buto atau raksasa itu biasanya bersifat jahat, tamak, rakus, dan mentalan. Dari situ pula lahir penafsiran sistem ijon.
Kapitalisme tidak pernah memberikan suatu dengan gratis, apalagi yang bersifat sedekah. Tidak peduli terhadap kemanusiaan. Selalu hanya pertimbangan mendapat keuntungan yang lebih besar dari apa yang diinvestasikan atau pura-pura disedekahkan.

Untuk mereguk Timun Emas atau kekayaan, kapitalisme akan menerjang apa saja biarpun ladang pertanian, hutan, ataupun lautan. Namun, pada akhirnya keserakahan, kerakusan, ketakaburan kapitalisme raksasa pada akhirnya akan ditenggelamkan bumi.

Cerita Timun Emas sarat ajaran bahwa manusia tidak boleh rakus, serakah. Kalau memberikan pertolongan, berikan dengan ikhlas tanpa pamrih. Kejahatan kemanusiaan akan membuat bumi murka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar