Garam Kehidupan vs Telaga Hati
Alkisah di sebuah kota kecil di kaki bukit, terlihat seorang pemuda dengan wajah murung, duduk termenung di sudut pasar sejak pagi hari. Menjelang siang ada seorang tua, yang masih terlihat amat sehat walaupun rambutnya sudah tampak putih, berjalan mendekatinya. Disapanya pemuda tadi, “Nak, mengapa kau seharian duduk termenung seorang diri?” “Saya memang sedang bingung, memikirkan masalah yang saya hadapi,” jawab pemuda tadi. “Kalau engkau percaya padaku, datanglah besok ke pondokku di balik bukit itu,” kata kakek itu sambil menunjuk ke arah bukit. “Mungkin aku bisa sedikit membantumu.” “Terima kasih, pak,” jawab pemuda tadi.
Keesokan harinya, pemuda itu pergi ke balik bukit untuk mencari kakek yang kemarin dijumpainya. Setelah cukup lama berjalan, dia melihat sebuah telaga yang cukup besar, airnya jernih. Ada sebuah rumah kecil yang dikelilingi oleh pepohonan rimbun. Udara di situ terasa sejuk, walaupun langit cerah. Sekali-sekali dia mendengar kicau burung di sana-sini. Dia merasakan pengaruh dari keasrian alam pada dirinya. Hatinya agak tentram melihat pemandangan itu.
Dari kejauhan dia melihat kakek yang kemarin dijumpainya sedang bekerja di halaman rumah, merawat tanaman di sekitar rumahnya. “Selamat datang anak muda,” sapa kakek itu. “Bagaimana keadaanmu hari ini? Lebih baikkah?” “Pak, terima kasih bapak mempedulikan saya. Saya ke mari mau mendengarkan nasihat bapak,” jawab pemuda itu. “Mari, silakan masuk.”
Mereka berdua berjalan ke arah pondok dan duduk di teras rumah. “Sebentar, nak,” kata kakek itu dan masuk ke dalam. Tak lama kemudian kakek itu keluar membawa nampan dengan dua buah gelas berisi air di atasnya. Diletakkannya sebuah gelas di depan pemuda itu dan satu lagi di dekat dia duduk. “Silakan diminum, nak,” kata kakek ini sambil berjalan masuk lagi menenteng nampan. Tanpa menunggu undangan kedua kalinya, pemuda itu langsung mengambil gelas dan meminum airnya. Akan tetapi, baru setengah teguk air masuk ke mulutnya, secara refleks dipalingkannya wajahnya ke arah halaman, dan “Bruuuur,” disemburkannya lagi air itu dan dia terbatuk-batuk. “Maaf, nak. Aku memang sudah pikun. Aku salah meletakkan gelasnya. Seharusnya itu untukku,” kata kakek itu sambil berbalik dan menyodorkan gelas yang satunya untuk tamunya. “Aku biasa minum air garam,” jelas kakek itu. Pemuda tadi agak ragu-ragu sebelum mengangkat gelas yang satunya, dan perlahan-lahan dia mencicipi air dalam gelas itu. Segar, dan dalam sekejap air itu diminum habis.
Setelah balik ke teras, kakek itu mengajak tamunya berjalan ke telaga. Dia menenteng sebuah bungkusan yang lumayan besar. Di jalan kakek ini bercerita tentang sekelumit hidupnya dan keprihatinannya tentang keadaan masyarakat dewasa ini. Di tepi telaga ada semacam darmaga kecil dari kayu. Mereka berdiri di situ dan kakek tadi meminta tamunya untuk menuangkan isi bungkusan, yang ternyata berisi garam, ke dalam telaga. Walaupun tidak memahami maksudnya, pemuda itu mengikuti permintaan kakek itu. Menggunakan sebatang tongkat, kakek itu mengaduk air di tempat pemuda tadi menuangkan garam. Beberapa saat kemudian dia mengambil air telaga menggunakan sebuah ember dan dia meminta pemuda tadi mencicipi rasanya. “Tawar dan segar,” katanya.
Dalam perjalanan pulang dari telaga ke rumahnya, sang kakek bercerita. “Aku memang dengan sengaja memasukkan 2 sendok garam ke dalam gelasmu. Bagaimana rasanya?” “Aneh, asin,” jawab pemuda itu. “Sadarkah kamu bahwa garam yang cukup banyak, mungkin 1 kg, bahkan lebih banyak lagi, tidak membuat air telaga menjadi asin. Sedangkan 2 sendok saja sudah membuat air dalam gelas menjadi asin. Kalau engkau menghadapi masalah kehidupan, seperti garam, hadapilah dengan hati yang seperti air telaga. Semakin luas hatimu dapat menerima garam kehidupan, semakin engkau terbebas dari kepahitan hidup. Bersyukurlah kepada-Nya atas segala anugerah yang telah kau terima. Ikhlaslah menerima cobaan dari-Nya, tetapi jangan lupa mohon kekuatan dari-Nya agar engkau berhasil melewati cobaan.”
Dengan pembukaan seperti itu berbagai nasihat praktis sang kakek untuk mengatasi masalahnya menjadi jauh lebih mudah diterima oleh pemuda tadi.
Diedit dari artikel tulisan Feri Susanto di internet
Alexander Sindoro
Tidak ada komentar:
Posting Komentar