Senin, 04 Maret 2013

Monyet dan Angin

Monyet dan Angin

Di zaman dahulu kala, Angin Utara bertemu dengan Angin Timur, Angin Selatan, dan Angin Barat. Mereka saling membanggakan kekuatan masing-masing. Untuk menentukan siapa yang paling kuat mereka mencari objek untuk dijadikan sebagai bukti. Mereka melihat ada seekor monyet yang bergelayutan di sebuah pohon rambutan dan melahap buah rambutan yang kebetulan sedang berbuah lebat.

“Mari kita buktikan, siapa di antara kita yang paling kuat. Secara bergilir kita meniup selama 5 menit untuk menjatuhkan monyet itu. Syaratnya pohon itu dan pohon-pohon di sekitarnya tidak boleh ada yang tumbang,” kata Angin Utara. Semua setuju dengan usul itu.

Angin Utara meniup lebih dahulu, dengan kekuatan yang terukur agar tidak menumbangkan pohon. Monyet yang menjadi sasaran itu berpegang erat-erat di batang pohon. Lima menit berlalu, tetapi monyet itu tetap bertahan di pohon rambutan. Selanjutnya giliran Angin Timur, disusul oleh Angin Selatan, ternyata ketiganya gagal menjauhkan monyet tadi. Terakhir giliran Angin Barat. Angin Barat mulai dengan meniupkan angin sepoi-sepoi. Monyet itu, setelah cukup lelah berpegangan erat mempertahankan diri agar tidak jatuh, tampak mengantuk dengan tiupan angin sepoi-sepoi. Melihat kesempatan itu, Angin Barat tiba-tiba meniup dengan kuat dan lepaslah pegangan monyet, dan dia jatuh.

Ketika kita diuji dengan kesusahan, penderiaan, malapetaka, mungkin kita berusaha untuk menjadi lebih kuat agar tidak terjatuh dan berhasil melewati semua cobaan tadi. Akan tetapi, ketika kita diuji dengan kenikmatan, kesenangan, kelimpahan, kemakmuran, pujian, kekaguman, banyak orang yang kurang tahan uji. Kita mungkin jatuh dengan lupa pada orang-orang terdekat kita, lupa pada keluarga, lupa pada diri sendiri, lupa pada Tuhan. Saat kemakmuran datang, banyak “teman” baru datang “mengagumi” diri kita, membawa serta seribu satu godaan nan kemilau yang menyeret kita menjauh dari keluarga dan iman.

Oleh karena itu saat kita mengalami sukses dalam pekerjaan, jangan lalai untuk tetap meningkatkan kemampuan diri dengan inovasi, kreativitas, belajar dan belajar lagi. Jangan pernah puas dengan apa yang telah kita capai, sebab pengetahuan yang dapat kita pelajari amat luas. Kita dapat belajar dari siapa saja, dari alam, dari buku, dari teman, dari atasan, bahkan dari bawahan dan orang yang kita anggap “tidak terpelajar”. Jangan sampai kita menepuk dada, bangga pada keberhasilan usaha kita, menyepelekan pendapat orang lain, menganggap diri kita sendiri yang paling hebat, paling benar, paling pandai. Jangan pernah takabur.

Diedit dari tulisan Ariesandi di www.ariesandi.com


Salam,
Alexander Sindoro

Tidak ada komentar:

Posting Komentar