Senin, 04 Maret 2013

Keajaiban Lima Ribu Lima Ratus Lima Puluh Rupiah

Keajaiban Lima Ribu Lima Ratus Lima Puluh Rupiah

Entah dari mana inspirasi cerita ini dibuat, yang jelas sesuatu yang kita yakini di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.

Amel baru berumur sembilan tahun ketika dia mendengar ibu dan ayahnya sedang berbicara mengenai adik lelakinya, Heri. Heri sakit parah dan mereka telah melakukan apa pun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwa Heri. Akan tetapi, biaya operasi untuk menyelamatkan jiwa Heri amat mahal, di luar kemampuan kedua orang tua Amel. Amel mendengar ayahnya menghela napas panjang lalu berbisik kepada ibunya, "Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang."

Segera Amel pergi ke kamarnya dan mengambil celengan yang disembunyikannya di sudut lemari. Ia memecahkan celengan itu dan mengeluarkan semua isinya ke lantai. Kemudian dia menghitungnya dengan cermat. Diulangnya hitungan itu hingga lima kali. Dia tidak boleh salah menghitung.

Sambil membawa uang tersebut, Amel secara diam-diam menyelinap keluar rumah dan berjalan cepat ke apotik di sudut jalan. Setibanya di apotik tersebut, dia melihat seorang petugas paruh baya berambut sedikit memutih sedang menelepon. Saat itu tak ada orang lain di sana.

Amel menunggu dengan sabar sampai petugas itu memberi perhatian, tapi rupanya dia demikian asyik berbicara di telepon, sehingga sama sekali mengabaikan anak kecil yang berusia sembilan tahun itu. Amel berusaha menarik perhatian dengan berjalan mondar-mandir, mengangkat tangan, tapi gagal. Akhirnya dia mengambil sebuah uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase. Cring!

"Apa yang kamu lakukan, heh?" bentak petugas itu dengan suara marah. "Aku ini sedang berbicara dengan saudaraku." "Tapi, saya ingin berbicara kepada bapak mengenai adik saya," jawab Amel dengan nada yang sama. "Dia sakit, ... dan saya ingin membeli keajaiban." "Apa katamu?" tanya petugas tadi. "Ayah saya mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwanya sekarang, jadi berapa harga keajaiban?"

"Kami tidak menjual keajaiban, adik kecil. Aku tidak bisa menolongmu," ucap petugas tadi. "Pak, saya mempunyai uang untuk membeli keajaiban. Katakan saja berapa harganya," kata Amel. Saat itu tampak seorang laki-laki berpakaian rapi keluar dari balik ruang. Dia menghampiri Amel, jongkok, menatap matanya, dan bertanya, "Keajaiban macam apa yang dibutuhkan oleh adikmu, nak?"

"Saya ... tidak ... tahu," jawab Amel sambil menangis. Air mata mulai menetes di pipinya. "Saya hanya tahu dia sakit parah, ibu mengatakan bahwa Heri harus dioperasi. Tapi orang tua saya tidak mampu membayarnya karena biayanya sangat mahal. Tapi saya punya uang."

"Berapa uang yang kamu punya?" tanya laki-laki itu lagi. "Lima ribu lima ratus lima puluh rupiah," jawab Amel dengan mata berbinar-binar. "Dan itulah seluruh uang saya di dunia ini."

"Wah, kebetulan sekali," kata laki-laki itu sambil tersenyum. "Lima ribu lima ratus lima puluh rupiah ini harga yang tepat dan pas untuk membeli sebuah keajaiban yang dapat menolong adikmu." Dia mengambil uang tersebut, memasukkannya ke dalam saku dan kemudian memegang tangan Amel sambil berkata, "Bawalah saya kepada adikmu. Saya ingin bertemu dengannya, juga dengan orangtuamu."

Ternyata laki-laki itu adalah seorang dokter ahli bedah terkenal. Heri segera dibawa ke rumah sakit. Operasi dilakukan dan dalam waktu beberapa hari Heri dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat seperti sediakala. Orangtua Heri tidak dikenai biaya apa pun. Mereka sangat takjub mengalami keajaiban tersebut, mereka sungguh sangat bersyukur dan mengucapkan terima kasih tak putus-putusnya kepada dokter bedah tadi. "Operasi itu," bisik ibunya, "adalah suatu keajaiban. Tak terbayangkan berapa harganya." Mendengar bisikan itu Amel tersenyum. Hanya dia yang tahu secara pasti berapa harga keajaiban tersebut.

Lima ribu lima ratus lima puluh rupiah, ditambah dengan "keyakinan", dan sedikit campur tangan Sang Maha Pencipta.

Diedit dari http://situslakalaka.blogspot.com/2011/04/keajaiban-lima-ribu-lima-ratus-lima.html

Salam,
Alexander Sindoro

Tidak ada komentar:

Posting Komentar