Jumat, 28 November 2014

Kemerdekaan Dalam Memilih Respon

Kemerdekaan Dalam Memilih Respon Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Dan Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu (QS 2:45)

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan kisah Nabi Muhammad saw: Setiap Nabi Muhammad saw selesai beribadah dan lewat pada salah satu gang beliau diludahi, dilempar kotoran oleh salah seorang kafir setiap hari. Beliau hanya berdoa agar orang kafir itu dibukakan pintunya hatinya seraya tanpa marah dan dendam. Pada suatu ketika Nabi berjalan di gang yang sama, setelah beberapa hari Nabi pun heran, ”kemana orang yang sering melempari aku ketika aku selesai beribadah di ujung gang ini”, dan bertanyalah beliau kepada salah satu penduduk dan penduduk itu menjawab, ”Ia sedang sakit yaa Rasul”.

Ketika ada kabar bahwa orang itu sakit, Rasulullah langsung menjenguknya tanpa ada dendam sedikit pun. Datanglah Rasul ke rumah orang yang sering sekali melampari beliau sambil membawa semangkok makanan. Sang pemilik rumah pun tersentak dan menangis tersedu sambil berkata “Yaa Muhammad aku sering sekali melempari engkau dengan ludahan, kotoran dan sekarang engkau ke rumahku h
... baca selengkapnya di Kemerdekaan Dalam Memilih Respon Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Kamis, 27 November 2014

Bahagia Menjadi Seorang Guru

Bahagia Menjadi Seorang Guru Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

“Happiness comes of the capacity to feel deeply, to enjoy simply, to think freely, to risk life, to be needed. – Kebahagiaan berasal dari kapasitas untuk merasakan, menikmati, berpikir bebas, menghadapi resiko hidup, dan menjadi dibutuhkan.” Storm Jameson.

Kebahagiaan adalah ide yang sangat abstrak dan bersifat sangat subyektif. Kebahagiaan dapat terkait dengan tercapainya suatu keinginan atau kebutuhan kita. Tetapi kebahagiaan seorang guru menurut saya sangat terkait dengan tanggung jawabnya mendidik dan mengajarkan nilai-nilai penting dan inspiratif terhadap para siswanya. Ketika seorang guru dapat melakukan beberapa hal berikut ini kemungkinan besar ia dapat memiliki semua sumber kebahagiaan bahkan lebih dari semua yang dipaparkan oleh Storm Jameson tersebut.

Seorang guru bahagia karena ia mencintai profesi sebagai pendidik. Ia mendapatkan kepuasan tersendiri ketika dapat mendidik para murid, walaupun mungkin kehidupan pribadi mereka sederhana dan jauh dari kemewahan. Seorang guru akan jauh lebih bahagia, jika apa yang telah mereka lakukan tak hanya membuat para murid pintar melainkan menginspirasi bahkan menggerakkan para murid untuk mengubah diri mereka menjadi lebih baik.... baca selengkapnya di Bahagia Menjadi Seorang Guru Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Kamis, 20 November 2014

Aku siji kowe siji

Maaf bs Jawa

"AKU SIJI.. KOWE SIJI"

Badrun karo sodron bengi-bengi peteng ndedet nyolong jeruk neng kebon, lagi oleh setengah karung, ono asu njegog langsung mlayu banter wedi selak konangan.

Tekan ngarep Gerbang Kuburan angker jeruke tibo ngglundung loro tapi ditinggal wae mergo kesusu arep cepet-cepet ngumpet neng mburi kijing timbang konangan.

Kendel tenan maling loro iki....

Kiro2 wis aman, Badrun karo sodron wiwit bagi hasil..

"aku siji....kowe siji....aku siji..kowe siji..aku siji..kowe siji...."

Ngono terus nganti ono wong liwat, yoiku Si paijo, kaget, mandeg mrinding krungu swara aneh seko njero kuburan angker......

"aku siji..kowe siji..aku siji..kowe siji......."

Saking wedine Paijo mlayu marani daleme pak kyai cedhak kono lan karo ngos-ngosan pucet ndeprok dengkule meh copot crito memedi suara neng kuburan wingit mau.

Pak kyai penasaran, ngajak Paijo ngindik neng ngarep Gerbang Kuburan, ora wani mlebu. Paijo gemeter gocekan sarunge pak kyai seko mburi...

Seko jero kuburan tetep krungu swara :

"Aku siji..kowe siji..aku siji..kowe siji..."

Paijo: " Pak kyai nopo niku swara malaikat itung2an nyowo menungso sing sampun dicabut ajeng dilaporke dumateng gusti sing kuwaos pak kyai ? Paijo takon bisik-bisik gemeter keweden....

"Mbuh aku dewe ora paham" jawabe pak kyai karo megeng napas...

Ora suwe ono swara maneh seko njero kuburan..

"Iki wis rampung kabeh, saiki kari 2 neng ngarep Gerbang Kuburan kae arep dijupuk sopo? Kowe opo aku??"

Pak Kyai lan Paijo: "WAAAAAAAA..... .blaik tenaannn.....!! " 
Njenggirat kaget saknaliko Pak Kyai lan Paijo mlumpat kalen mbradat mlayu keponthal-ponthal nganti sandale keri.....lan sarunge mlorot.......

Minggu, 16 November 2014

Umur seperti es batu

RENUNGAN MALAM :
Umur itu seperti Batu Es ...

Sukses tidak diukur dari posisi yang dicapai seseorang dalam hidup, tapi dari kesulitan- kesulitan yang berhasil diatasi ketika berusaha meraih sukses.

Bila kamu mengisi hati kamu dengan penyesalan untuk masa lalu,
dan kekhawatiran untuk masa depan,
kamu tak memiliki hari ini untuk kamu syukuri.

Jika kamu berpikir tentang hari kemarin, tanpa rasa penyesalan,
dan hari esok tanpa rasa takut,
berarti kamu sudah berada dijalan yang benar menuju sukses.

Umur itu seperti batu es, dipakai atau tidak dipakai akan tetap mencair, begitu juga dengan umur, digunakan atau tidak digunakan umur kita akan tetap bertambah ...
Intinya : selagi kita masih hidup, lakukanlah kebaikan sebanyak mungkin

Impian adalah titik awal keberhasilan.
Tapi, hanya titik awal.
Bermimpi saja tidak cukup untuk bisa berhasil.
Kerja keras tetap diperlukan.

Hujan besar itu seperti tantangan hidup.
Tidak perlu memohon supaya hujan berhenti, tetapi cukup memohon supaya payung kita bertambah kuat.

Hubungan tanpa saling percaya adalah seperti mobil tanpa bensin; hanya bisa berada didalamnya, tanpa bergerak kemana-mana.

Ingat, rezeki tidak selalu datang dibungkus dengan kain sutra.
Terkadang, rezeki itu datang dibungkus dengan koran bekas.

Sabtu, 08 November 2014

Perempuan

Prof Rhenald Kasali
Senin, 3 November 2014
(@Rhenald_Kasali)

KOMPAS.com — Saya kebetulan mentor bagi dua orang ini:
Dian Sastro dan Mooryati Soedibyo.

Akan tetapi, pada Susi Pudjiastuti yang kini menjadi menteri, saya justru belajar.

Ketiganya perempuan hebat, tetapi selalu diuji oleh sebagian kecil orang yang mengaku pandai.
Entah ini stereotyping, atau soal buruknya metakognisi bangsa, saya kurang tahu persis.

Mooryati Soedibyo.
Sewaktu diterima di program doktoral UI yang pernah saya pimpin, usianya saat itu sudah 75 tahun. Namun,
berbeda dengan mahasiswa lain yang datang pakai jins, dia selalu berkebaya. Anda tentu tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk berkebaya, bukan? Akan tetapi, ia memiliki hal yang tak dimiliki orang lain: self discipline.

Sampai hari ini, dia adalah satu-satunya mahasiswa saya yang tak pernah absen barang sehari pun. Padahal, saat itu ia salah satu pimpinan MPR. Memang ia tampak sedikit kewalahan "bersaing" dengan rekan kuliahnya yang jauh lebih muda. Akan tetapi, rekan-rekan kuliahnya mengakui, kemajuannya cepat. Dari bahasa jamu ke bahasa strategic management dan science yang banyak aturannya.

Teman-teman belajarnya bersaksi: "Pukul 08.00 malam, kami yang memimpin diskusi. Tetapi pukul 24.00, yang muda mulai ngantuk, Ibu Moor yang memimpin. Dia selalu mengingatkan tugas harus selesai, dan tak boleh asal jadi."

Masalahnya, ia pemilik perusahaan besar, dan usianya sudah lanjut. Ada stereotyping dalam kepala sebagian orang. Sosok seperti ini jarang ada yang mau kuliah sungguhan untuk meraih ilmu. Nyatanya, kalangan berduit lebih senang meraih gelar doktor HC (honoris causa) yang jalurnya cukup ringan.

Akan tetapi, Mooryati tak memilih jalur itu. Ia ingin melatih kesehatan otaknya, mengambil risiko dan lulus 4tahun kemudian. Hasil penelitiannya menarik perhatian Richard D’aveni (Tuck School-USA), satu dari 50 guru strategi teratas dunia. Belakangan, ia juga sering diminta memaparkan kajian risetnya di Amerika Serikat, Belanda, dan Jerman.

Meski diuji di bawah guru besar terkemuka Prof Dorodjatun Kuntjoro Jakti, kadang saya masih mendengar ucapan-ucapan miring dari orang-orang
yang biasa menggunakan kacamata buram dan lidahnya pahit. Ada saja orang yang mengatakan ia "diluluskan" dengan bantuan, "sekolahnya hanya dua tahun", dan seterusnya.

Anehnya, kabar itu justru beredar di kalangan perempuan yang tak mau tahu keteladanan yang ia tunjukkan. Kadang ada juga yang merasa lebih tahu dari apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi, ada satu hal yang sulit mereka sangkal. Perempuan yang meraih doktor pada usia 79 tahun ini
berhasil mewujudkan usahanya menjadi besar tanpa fasilitas. Perusahaannya juga go public.

Padahal, yang menjadi dosennya saja belum tentu bisa melakukan hal itu, bahkan membuat publikasi ilmiah internasional saja tidak. Namun, Bu Moor juga berhasil mengangkat reputasi jamu di pentas dunia.

Dian Sastro
Dia juga mahasiswi saya yang keren. Sewaktu diterima di program S-2 UI, banyak juga yang bertanya: apa benar artis mau bersusah payah belajar lagi di UI?
Anak-anak saya di UI tahu persis bahwa saya memang cenderung bersahabat, tetapi mereka juga tahu sikap saya: "no bargain on process and quality".

Dian, sudah artis, dan sedang hamil pula saat mulai kuliah.  Urusannya banyak: keluarga, film, dan seabrek tugas. Namun lagi-lagi, satu hal ini jarang dimiliki yang lain: self discipline. Ia tak pernah abai menjalankan tugas.

Sebulan yang lalu, setelah lulus dengan cum laude dari MM UI, ia berbagi pengalaman hidupnya di program S-1 pada kelas yang saya asuh.

"Saat ayah saya meninggal dunia, ibu saya berujar:
kamu bukan anak orang kaya. Ibu tak bisa menyekolahkan kalau kamu tidak outstanding," ujarnya. Ia pun melakukan riset terhadap putri-putri terkenal. Di situ ia melihat nama-nama besar yang tak lahir dari kemudahan. "Saya tidak cantik, dan tak punya apa-apa," ujarnya.

Dengan uang sumbangan dari para pelayat ayahnya, ia belajar di sebuah sekolah kepribadian. Setiap pagi, ia juga melatih disiplin, jogging berkilo-kilometer dari Jatinegara hingga ke Cawang, ikut seni bela diri.

"Mungkin kalian tak percaya karena tak pernah menjalaninya," ujarnya.

Itulah mental kejuangan, yang kini disebut ekonom James Heckman sebagai kemampuan nonkognisi.

Dian lulus cum laude dari S-2 UI, dari ilmu keuangan pula, yang sarat matematikanya. Padahal, bidang studi S-1 Dian amat berjauhan: filsafat.

Metakognisi Susi
Sekarang kita bahas menteri kelautan dan perikanan yang ramai diolok-olok karena "sekolahnya". Beruntung,
banyak juga yang membelanya.

Khusus terhadap Susi, saya bukanlah mentornya. Ia terlalu hebat. Ia justru sering saya undang memberi kuliah. Dia adalah "self driver" sejati, yang bukan putus sekolah, melainkan berhenti secara sadar. Sampai di sini, saya ingin mengajak Anda merenung, adakah di antara kita yang punya kesadaran dan keberanian sekuat itu?

Akan tetapi, berbeda dengan kebanyakan orangtua yang membiarkan anaknya menjadi "passenger", ayah Susi justru marah besar.

Pada usia muda, di pesisir selatan yang terik, Susi memaksa hidup mandiri. Ditemani sopir, ia menyewa truk dari Pangandaran, membawa ikan dan udang, dilelang di Jakarta. Hal itu dijalaninya selama bertahun-tahun, seorang diri.

Saat saya mengirim mahasiswa pergi "melihat pasar" keluar negeri yang terdiri dari tiga orang untuk satu negara, Susi membujuk saya agar cukup satu orang satu negara.

Saya menurutinya (kisah mereka bisa dibaca dalam buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor).

Dari usaha perikanannya itu, ia jadi mengerti penderitaan yang dialami nelayan. Ia juga belajar seluk-beluk logistik ikan, menjadi pengekspor, sampai terbentuk keinginan memiliki pesawat agar ikan tangkapan nelayan bisa diekspor dalam bentuk hidup, yang nilainya lebih tinggi.

Dari ikan, jadilah bisnis carter pesawat, yang di bawahnya ada tempat penyimpanan untuk membawa ikan segar.

Dari Susi, kita bisa belajar bahwa kehidupan tak bisa hanya dibangun dari hal-hal kognitif semata yang hanya
bisa didapat dari bangku sekolah. Kita memang membutuhkan matematika dan fisika untuk memecahkan rahasia alam. Kita juga butuh ilmu-ilmu baru yang basisnya adalah kognisi. Akan tetapi, tanpa kemampuan nonkognisi, semua sia-sia.

Ilmu nonkognisi itu belakangan naik kelas, menjadi metakognisi: faktor pembentuk yang paling penting dibalik lahirnya ilmuwan-ilmuwan besar, wirausaha kelas dunia, dan praktisi-praktisi andal.

Kemampuan bergerak, berinisiatif, self discipline, menahan diri, fokus, respek,
berhubungan baik dengan orang lain, tahu membedakan kebenaran dengan pembenaran, mampu membuka dan mencari "pintu" adalah fondasi penting bagi pembaharuan, dan kehidupan yang produktif.

Manusia itu belajar untuk membuat diri dan bangsanya tangguh, mengatasi masalah, mampu mengambil keputusan, bisa membuat kehidupan lebih produktif dan penuh kedamaian. Kalau cuma bisa membuat keonaran dan adu pandai saja, kita belum tuntas mengurai persepsi, baru sekadar mampu mendengar, tetapi belum bisa menguji kebenaran dengan bijak dan mengembangkannya ke dalam tindakan yang produktif.

Ketiga orang itu mungkin tak sehebat Anda yang senang melihat kecerdasan orang dari pendekatan kognitif yang
bermuara pada angka, teori, ijazah, dan stereotyping.

Akan tetapi, saya harus mengatakan, studi-studi terbaru menemukan, ketidakmampuan meredam rasa tidak suka atau kecemburuan pada orang lain, kegemaran menyebarkan fitnah dan rasa benar sendiri, hanya akan menghasilkan kesombongan diri.

Anak-anak kita pada akhirnya belajar dari kita, dan apa yang kita ucapkan dalam kesaharian kita juga.

Kamis, 06 November 2014

Bukti Kecantikan

Bukti Kecantikan - Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Siswa-siswi SMA Harapan 45 Surabaya berhamburan dari ruangan kelas yang berderet di setiap lorong bangunan. Jam pulang sekolah selalu dinanti oleh setiap siswa di dunia. Ada seribu satu rencana kegiatan siswa setelah melewati jam sekolah. Namun ada salah satu siswi masih berdiri sendiri di tempat parkir.

“Mbak, kenapa belum pulang?” tanya seorang bapak berseragam dengan mengenakan baju putih dan celana hitam panjang.
“Nggak apa-apa kok pak, ini saya mau pulang” jawab siswi berponi tersebut.
“Cepet pulang ya mbak, entar orangtuanya nyariin” lalu pak satpam berlalu.

Perempuan itu menghembuskan nafasnya dengan berat. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat parkir. Wajahnya tertekuk lemas seperti baju kusut yang tak pernah disetrika. Setelah beberapa saat berpikir, ia memutuskan pulang.
Namun saat ia hendak menghidupkan motornya. Matanya melotot hingga mampu memecahkan kaca pada helm. Dia melihat sebuah pandangan yang tak menyenangkan. Ia menyaksikan sepasang kekasih yang berjalan dengan mesra menuju sebuah motor gede di sebelahnya.
“Cherryl, nungguin Siapa? Duluan ya?” tanya yang perempuan saat melewatinya.
Cherryl masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun saat matanya menatap senyuman menawan yang mampu meluluhkan hat
... baca selengkapnya di Bukti Kecantikan - Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Rabu, 05 November 2014

Kedekatan

TABUNGAN KEDEKATAN...

(Renungan dari Yanti Rubiyanti "Iyang", psikolog...?)

Anak-anak tak selamanya kecil.
kalau Allah memberinya umur panjang
Sebelum habis kekuatan kita untuk berjalan dengan tegak
dan berbicara dengan suara lantang
anak-anak kita kemarin merengek meminta perhatian kita
sekarang mungkin mereka sudah sibuk memenuhi jadwal kegiatannya
yang padat...
Anak-anak yang kemarin menahan tangisnya karena kita tak kunjung mau
mendampingi mereka untuk menuturkan cerita,
hari ini mungkin kita harus belajar menahan diri
karena sangat ingin mendengar cerita mereka
dari lisan mereka sendiri...

Saat usianya memasuki remaja
posisi kita semakin lemah
mereka lebih mendengar temannya daripada orang tuanya sendiri
Kata-kata orangtua tak lagi berharga kecuali
jika kita sudah MENABUNG kedekatan dan penghormatan sejak
mereka masih balita
Jika anak-anak itu tidak memiliki penghormatan yang tinggi kepada orangtuanya
maka gurauan teman jauh lebih mereka dengar
daripada sapaan paling tulus dari orangtua
Jika anak-anak itu tidak memiliki kepercayaan yang penuh kepada orangtua
maka temannya lebih layak untuk diikuti daripada nasihat
paling serius dari orangtua.
Secara alamiah anak-anak yang telah memasuki usia remaja memiliki kebutuhan
eksistensi
Mereka ingin didengar, diakui, dihargai dan dipercaya
Mereka ingin menunjukkan bahwa dirinya memiliki kemampuan dan hak menentukan.
Mereka akan berontak dari orangtuanya kecuali jika kita selaku orangtua telah
MENABUNG kredibilitas, kepercayaan terhadap itikad baik
dan ketulusan di mata anak-anak kita...

Tak lama lagi mereka akan menikah
Sesudah berlalu masa remaja datanglah masa dewasa
Inilah masa ketika anak-anak yang dulu merindukan bapaknya itu sudah
benar-benar mandiri
Mereka tak lagi memerlukan orangtua kecuali
jika iman menancap kuat di hati mereka
Inilah yang menjadi kekuatan dalam diri mereka untuk
berkhidmat kepada orangtua...
Jadi, sebenarnya mereka berkhidmat bukan karena
sangat besarnya kerinduan dan penghormatan pada orangtua
tetapi
karena dorongan untuk meraih ridha Allah 'Azza wa Jalla....

Ya zaman berganti, masa bertukar
Yang dulu muda, sekrang tua
Yang dulu kanak-kanak sekarang dewasa
yang dulu terlihat gagah, sekarang renta tak berdaya
sebagian lagi mungkin sudah lama dikuburkan jenazahnya...
Tak ada lagi kekuatannya untuk berbuat,
Tak ada lagi kemampuannya untuk melakukan perubahan

Akan tetapi...
Mereka yang telah menyemai keyakinan, kebaikan dan kemuliaan
sesungguhnya telah hidup kebaikannya
Melalui anak-anak yang KUAT KARAKTERNYA,
TINGGI HARGA DIRINYA, BESAR CITA-CITANYA dan JIWANYA
senantiasa rindu untuk melakukan amal yang terbaik (ahsanu 'amala)
para orangtua itu sesungguhnya tetap menabung kebaikan meski
badan telah berselimut kafan
Sesungguhnya tidak akan ada yang bisa diharapkan dari
anak-anak sesudah kita mati kecuali KESHALIHAN
Anak-anak shalih yang mendoakan (waladun shalihun yad'unalahu)
merupakan harta yang tak dapat digantikan oleh do'a seribu manusia...

Ya....Shalih dulu baru do'a....

Bagaimana menjadi orangtua dan sekaligus sahabat bagi anak-anak kita?
Mampukan kita menjadi orangtua yang disayang dan dicintai anak-anak kita
walau kita sudah tiada? Anak seperti apa hasil didikan dan kasih sayang kita?

Anak Papua

Ada seorang anak Papua, usia 10 tahun, namanya
Johannes Goram.
Suatu hari, Goram lari lari
menemui Pak Purwadi.
Goram meminta Pak Purwadi utk mengobati anjingnya yang sekarat.
Pak Pur tersenyum dan
mengiyakan. Mereka berdua menuju rumah Goram.
Melihat anjing tsb sekarat, Pak Pur yang memang asli Bantul itu menempelkan telapak tangannya ke jidat anjing dan berkata dlm bhs Jawa..
"Su... Asu..., nek kowe arep mati yo mati yo..., nek arep urip yo ndang waras o ..."
Goram yang tdk bisa bhs jawa berpikir, Pak Pur menggunakan bahasa Latin
(diam2 Goram menghafalkan kata2 yg dia kira mantra/Do'a itu).
Setelah itu pak Pur langsung
pulang.
Beberapa hari kemudian, Goram lari2 ke rmh pak Pur bermaksud melaporkan kalau
anjingnya sudah sembuh.
Namun ternyata Pak Purwadi
sedang sakit. Goram terkejut ... langsung menuju ke kamar Pak Pur dan menempelkan telapak tangannya ke jidat pak Pur.
Selanjutnya Goram membaca
mantra:
"Su... Asu..., nek kowe arep mati yo mati yo.., nek arep urip yo ndang waras o... "
Pak Purwadi kaget dan tertawa ... langsung sembuh

Pengharapan

Pengharapan

Hikmah dari setiap kisah.
Suatu hari seorang ayah menyuruh anak2nya ke hutan melihat sebuah pohon pir di waktu yg berbeda.

Anak pertama disuruhnya pergi pada musim DINGIN,
anak ke 2 pada musim SEMI,
anak ke 3 pada musim PANAS,
dan yg ke 4 pada musim GUGUR.

Anak 1: pohon pir itu tampak sangat jelek dan batangnya bengkok.
Anak 2: pohon itu dipenuhi kuncup2 hijau yg menjanjikan.
Anak 3: pohon itu dipenuhi dgn bunga2 yg menebarkan bau yg harum.
Anak 4: ia tdk setuju dgn saudaranya, ia berkata bahwa pohon itu penuh dengan buah yg matang dan ranum.

Kemudian sang ayah berkata bahwa kalian semua benar, hanya saja kalian melihat di waktu yg berbeda.

Ayahnya berpesan: “Mulai sekarang jangan pernah menilai kehidupan hanya berdasarkan satu masa yg sulit.”

Ketika kamu sedang mengalami masa-masa sulit, segalanya terlihat tidak menjanjikan, banyak kegagalan dan kekecewaan, jangan cepat menyalahkan diri dan orang lain bahkan berkata bahwa kamu tidak mampu, bodoh dan bernasib sial…

Ingatlah, , tidak ada istilah “nasib sial” bagi orang yang percaya kepada Allah…!
Yg ada hanya waktu yg belum tepat….
Kerjakan apa yg menjadi bagianmu dan percayalah ALLAH akan mengerjakan bagian-Nya…

Jika kamu tidak bersabar ketika berada di musim dingin, maka kamu akan kehilangan musim semi dan musim panas yg menjanjikan harapan, dan kamu tdk akan menuai hasil di musim gugur.
"Gelapnya malam tak seterus nya bertahan, esok akan datang fajar yang mengusir kegelapan."
Selalu ada pengharapan yg baru

Yakinlah . . . . . .

Tukang Becak

Kisah nyata dari penarik becak tua ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Keikhlasan hati membantu orang lain tidak hanya bisa didapat saat kita sudah bergelimang harta. Bahkan dalam keadaan miskin sekalipun, kita bisa membantu orang yang lebih membutuhkan.

Nama pria tua ini adalah Bai Fang Li, dia adalah seorang tukang becak yang tinggal di Tianjin, China. Usianya tidak lagi muda, setiap hari dia menarik becak di kotanya. Pekerjaannya tidak menghasilkan banyak uang, bahkan Bai Fang Li termasuk dalam keluarga miskin yang tinggal di gubuk sederhana. Pakaian yang digunakan sangat lusuh, untuk makanpun, Bai Fang Li harus mencari makanan sisa di tempat sampah. Tapi tahukah Anda, penarik becak yang miskin ini telah menyumbang lebih dari $ 53.000 atau sekitar Rp 500 juta untuk anak-anak miskin.

Jumlah yang sangat besar bukan? Uang itu bisa saja dipakai Bai Fang Li untuk menghidupi dirinya sendiri, tetapi dia memilih untuk sedikit demi sedikit membantu sebuah yayasan yatim piatu yang mengasuh 300 anak tidak mampu. Saat matahari baru muncul Bai Fang Li sudah menarik becak dan bekerja. Saat malam mulai dingin, dia pulang ke rumah dan menyisihkan penghasilannya sedikit demi sedikit untuk yayasan tersebut. Sebenarnya apa yang membuat Bai Fang Li rela menyerahkan hasil kerja kerasnya pada orang lain yang tidak dia kenal?

Pada tahun 1986, Bai Fang Li melihat seorang anak sekitar 6 tahun yang membantu ibu-ibu mengangkat belanjaannya di pasar. Setelah diberi uang, anak itu tetap saja mencari makan dengan mengumpulkan sisa-sisa makanan dari tempat sampah. Saat Bai Fang Li bertanya mengapa anak itu tidak membeli makanan dari hasil kerjanya, sang anak mengatakan bahwa dia akan memakai uang itu untuk membeli makanan untuk dua adiknya, karena orang tua mereka tidak diketahui keberadaannya.

Sejak saat itu, hati Bai Fang Li terketuk untuk melakukan cara yang sama. Dia selalu menyisihkan penghasilannya yang tidak seberapa untuk disumbangkan.

Tahun demi tahun berlalu. Pada tahun 2001, usia Bai Fang Li sudah lebih dari 90 tahun. Tubuh tuanya sudah tidak sanggup lagi bekerja dan menarik becak. Dengan tubuh ringkih, Bai Fang Li menyerahkan sisa uang terakhir yang bisa dia sumbangan pada yayasan. Uang tersebut berjumlah $ 80 atau sekitar Rp 712.000.

Saat itu, Bai Fang Li mengatakan, "Saya sudah terlalu tua dan lemah untuk menarik becak. Saya tidak bisa lagi memberi sumbangan secara rutin. Mungkin ini adalah sumbangan terakhir yang bisa saya berikan," Semua guru dan staf yayasan menangis menerima sumbangan itu. Mereka tahu bahwa bukan hal yang mudah bagi seorang tukang becak setua Bai Fang Li untuk mengumpulkan uang-uang itu. Dari catatan keuangan yayasan, terhitung bahwa sejak pertama kali memberi sumbangan, Bai Fang Li sudah memberi hampir Rp 500 juta untuk yayasan tersebut.

Pada tahun 2005, Bai Fang Li menghembuskan napas terakhir karena terserang kanker paru-paru. Semua anak yang pernah dibantu mengantar kepergian pria baik hati ini dengan tangis haru. Kebaikan hati Bai Fang Li menjadi contoh nyata bahwa kemiskinan bukanlah penghalang bagi seseorang untuk berguna bagi orang lain. "Sebuah cinta luar biasa dari sosok yang luar biasa" itulah isi tulisan yang mengiringi kepergian Bai Fang Li.

Satu kebaikan akan menghasilkan buah kebaikan yang lain. Anak-anak yang dulu dibantu oleh Bai Fang Li dan telah dewasa meneruskan kebaikan hati pria tua itu untuk selalu membantu anak-anak lain yang kekurangan.

***

Itulah sebuah kisah nyata yang bisa menjadi inspirasi kita. Sudahkah Anda membantu orang lain yang kekurangan? Jangan menunggu hingga kaya untuk memberi bantuan atau takut miskin karenanya. Sesungguhnya Tuhan Maha Kaya dan akan memberi rezeki dari sumber tidak terduga jika seseorang memiliki keikhlasan hati untuk membantu orang lain

Minggu, 02 November 2014

SEPATU SANG RAJA

Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1 - SEPATU SANG RAJASeorang raja berjalan kaki melihat-lihat keadaan ibu kota. Di jalan depan istana, kakinya terluka karena menginjak batu tajam. “Jalan di depan istana ini sangat buruk. Aku harus memperbaikinya,” begitu pikirnya. Maka, Sang Raja segera merumuskan proyek untuk memperbaiki jalan di depan istana itu. Ia ingin jalan itu dilapisi dengan kulit sapi terbaik, agar siapapun yang melewatinya tidak terluka. Persiapan mengumpulkan sapi-sapi di seluruh negeri dilakukan. Di tengah kesibukan luar biasa itu, seorang pertapa menghadap raja dan berkata, “Wahai Paduka. Mengapa Paduka mengorbankan sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan tersebut, padahal yang Paduka perlukan hanya dua potong kulit sapi untuk sepatu yang berfungsi melapisi telapak kaki Paduka?” ....
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1