Dashboard:
1. Bensin (Level Energi). Apakah bahan bakar masih cukup? Ini ibaratkan energy level yang kita miliki ketika bekerja. Kalau energy level rendah, kita merasa malas bekerja, lama menyelesaikan pekerjaan.
2. Termometer (Level Emosi). Pada mobil, mesinnya bisa panas atau dingin. Pada manusia, orang yang energy levelnya rendah terlihat moody, sendu, melo. Orang yang energy levelnya sangat tinggi mudah marah, jengkel. Manusia memerlukan jeda/istirahat agar energy levelnya tidak ekstrem.
3. Speedometer (Level Stress). Disaat stress, beban emosi lagi tinggi, jantung berdetak dengan kencang. Sebaliknya disaat level stress rendah, tidak ada usaha, tidak ada tantangan yang dihadapi. Demikian pula sebaliknya, ketika tidak ada tantangan, level stress rendah.
Ada kisah seseorang yang target tahunannya sudah tercapai pada bulan Maret. Dia memperlambat pekerjaannya supaya tidak terlihat menganggur. Apakah targetnya kerendahan, atau dianya hebat.
4. Petunjuk Oli. (Level Motivasi). Oli bisa kehilangan fungsinya setelah sekian lama dipakai dan memerlukan ganti oli. Motivasi juga sama, dimana seiring dengan berjalannya waktu, level motivasi bisa drop. Oli itu ibaratkan makna, alasan didalam motivasi. Bila seseorang kehilangan makna akan apa yang dilakukannya, maka motivasinyapun akan rendah.
Antonio Dio Martin
Jumat, 15 Maret 2013
Jumat, 08 Maret 2013
Terapi Image Rehearsal Ciptakan Mimpi Indah
Terapi Image Rehearsal Ciptakan Mimpi Indah
Penulis : prita daneswari
PENGALAMAN buruk seperti pernah merasakan suatu situasi yang menegangkan semisal bencana alam pastinya akan meninggalkan trauma tersendiri. Seperti masyarakat Tanah Air yang telah melalui berbagai bencana alam. Dan, tak sedikit pula yang mengalami mimpi buruk berulang karena belum hilangnya perasaan takut tersebut.
Ketika bermimpi buruk, sebagian orang akan terbangun dengan rasa takut dan cemas sehingga sulit untuk kembali tertidur lelap. Namun, kini ditemukan sebuah cara baru untuk mengubah mimpi buruk menjadi mimpi indah.
Tak hanya di Indonesia, tentunya juga ada jutaan masyarakat dunia yang kerap mengalami mimpi buruk seperti sedang dikejar oleh sesuatu atau terjebak di sebuah tempat, bahkan mimpi yang menakutkan seperti bertemu dengan makhluk yang menakutkan. Ilmuwan yang meneliti perilaku tidur Dr Ross Levin mengatakan ada orang yang memiliki kepribadian yang lebih cenderung mengalami mimpi buruk. Satu cara terbaru untuk mengatasinya yakni dengan terapi image rehearsal yang dilakukan dalam tiga tahap.
"Orang yang mudah cemas, yang tengah tertekan, terutama tengan mangalami situasi yang buruk memang akan cenderung mengalami mimpi buruk lebih sering," kata Dr Levin.
"Dengan membayangkan mimpi buruk dan terus berusaha mengubah kisah yang ada dalam mimpi dengan cara yang menyenangkan. Dengan begitu, secara bertahap mimpi buruk akan terasa kurang menakutkan," jelasnya. Dengan terus berusaha melatihnya setiap hari, sistem syaraf akan lebih tenang dan lama-kelamaan mimpi buruk akan menghilang.
Dr Levin mengisahkan ia pernah memiliki pasien yang selalu bermimpi dikejar oleh sesuatu hingga menuju ke sebuah lorong yang gelap. Untuk mengatasinya, Dr Levin mengupayakan agar pasiennya tersebut mengubah mimpi tersebut. Ia lalu mencoba mengubah kisah mimpi itu dengan menjadikan pria itu berhasil mengejar si pasien lalu berkata, "Maaf, dompet Anda tertinggal di meja." Dengan akhir cerita seperti itu, si pasien memang akan tetap bermimpi dengan akhir cerita yang sama selam 4-5 hari berikutnya.
Lama-kelamaan, ia pun menjadi tak takut dan mimpi itu akan menghilang. (Pri/OL-06)
Selasa, 09 November 2010 10:05 WIB
Kekayaan, Kesuksesan, Cinta
Kekayaan, Kesuksesan, Cinta
Suatu ketika, ada seorang perempuan yang kembali pulang ke rumah dan ia melihat ada tiga orang laki-laki berjanggut yang duduk di halaman depan. Perempuan itu tidak mengenal mereka semua.
Perempuan itu berkata: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut kalian."
Laki-laki berjanggut itu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?"
Perempuan itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar."
"Oh, kalau begitu kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali," kata laki-laki itu.
Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang istri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata kepada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini."
Perempuan itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.
"Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama," kata laki-laki itu hampir bersamaan.
"Lho, kenapa?" tanya perempuan itu karena merasa heran.
Salah seorang laki-laki itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang laki-laki berjanggut di sebelahnya, "Sedangkan yang ini bernama Kesuksesan," sambil memegang bahu laki-laki berjanggut lainnya. "Sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa di antara kami yang boleh masuk ke rumahmu."
Perempuan itu kembali masuk ke dalam dan memberitahu pesan laki-laki di luar. Suaminya pun merasa heran. "Oh, menyenangkan sekali. Baiklah kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan kekayaan."
Istrinya tidak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen gandum kita."
Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh kehangatan Cinta."
Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si Cinta ini ke dalam. Dan malam ini, si Cinta menjadi teman santap malam kita."
Perempuan itu kembali ke luar dan bertanya kepada tiga laki-laki itu, "Siapa di antara Anda yang bernama Cinta? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini."
Si Cinta bangkit dan berjalan menuju beranda rumah. Oh, ternyata kedua laki-laki berjanggut lainnya pun ikut serta.
Karena merasa ganjil, perempuan itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan, "Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi kenapa kalian ikut juga?"
Kedua laki-laki yang ditanya itu menjawab bersamaan, "Kalau Anda mengundang si Kekayaan atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka kemanapun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya.
Dimana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab ketahuilah, sebenarnya kami buta dan hanya si Cinta yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita kepada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan, saat kami menjalani hidup ini."
Suatu ketika, ada seorang perempuan yang kembali pulang ke rumah dan ia melihat ada tiga orang laki-laki berjanggut yang duduk di halaman depan. Perempuan itu tidak mengenal mereka semua.
Perempuan itu berkata: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut kalian."
Laki-laki berjanggut itu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?"
Perempuan itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar."
"Oh, kalau begitu kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali," kata laki-laki itu.
Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang istri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata kepada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini."
Perempuan itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.
"Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama," kata laki-laki itu hampir bersamaan.
"Lho, kenapa?" tanya perempuan itu karena merasa heran.
Salah seorang laki-laki itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang laki-laki berjanggut di sebelahnya, "Sedangkan yang ini bernama Kesuksesan," sambil memegang bahu laki-laki berjanggut lainnya. "Sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa di antara kami yang boleh masuk ke rumahmu."
Perempuan itu kembali masuk ke dalam dan memberitahu pesan laki-laki di luar. Suaminya pun merasa heran. "Oh, menyenangkan sekali. Baiklah kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan kekayaan."
Istrinya tidak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen gandum kita."
Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh kehangatan Cinta."
Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si Cinta ini ke dalam. Dan malam ini, si Cinta menjadi teman santap malam kita."
Perempuan itu kembali ke luar dan bertanya kepada tiga laki-laki itu, "Siapa di antara Anda yang bernama Cinta? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini."
Si Cinta bangkit dan berjalan menuju beranda rumah. Oh, ternyata kedua laki-laki berjanggut lainnya pun ikut serta.
Karena merasa ganjil, perempuan itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan, "Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi kenapa kalian ikut juga?"
Kedua laki-laki yang ditanya itu menjawab bersamaan, "Kalau Anda mengundang si Kekayaan atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka kemanapun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya.
Dimana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab ketahuilah, sebenarnya kami buta dan hanya si Cinta yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita kepada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan, saat kami menjalani hidup ini."
Mengelola Semangat Dengan Pikiran
Mengelola Semangat dengan Pikiran
Dalam jurnal Psychological Science,
Veronika Job, peneliti dari Stanford University melakukan serangkaian eksperimen untuk menguji para mahasiswa tentang kegigihan mereka.
"Mahasiswa yang diberikan pengaruh bahwa konsentrasi mereka ada batasnya harus mengambil jeda beberapa saat sebelum melakukan tugas berikutnya.
Dan yang diberikan keyakinan bahwa semangat adalah sesuatu yang tidak terbatas, membuat mahasiswa lainnya lebih kuat dalam menghadapi tantangan tugas sulit,"
Dari hasil penelitian mereka, diketahui:
- Kuat tidaknya seseorang menghadapi godaan sangat ditentukan oleh kekuatan pikiran.
- Kesanggupan seseorang untuk terus bekerja atau bersemangat sangat ditentukan oleh seberapa besar dan sebatas apa keyakinan mereka mampu melakukannya.
- Semangat yang layu lebih disebabkan karena faktor mindset belaka.
"Bila Anda merasa semangat itu ada batasnya, maka Anda juga akan mudah lelah jika melakukan pekerjaan yang sulit. Tapi jika Anda merasa tekad dan semangat adalah sesuatu yang tak mudah habis, Anda bisa terus dan terus,"
Hasil penelitian ini dapat menjadi landasan keyakinan untuk mengatasi orang yang kecanduan atau menangani para pekerja yang sering kehilangan motivasi bekerja.
Apa yang kita pikirkan akan mendefinisikan semangat kita. Sangat penting untuk selalu membuat diri termotivasi dan memanamkan dalam pikiran bahwa kita mampu memberikan hasil terbaik.
Semangat !!!
Kompas, 18 Oktober 2010 | 15.28 WIB
Dalam jurnal Psychological Science,
Veronika Job, peneliti dari Stanford University melakukan serangkaian eksperimen untuk menguji para mahasiswa tentang kegigihan mereka.
"Mahasiswa yang diberikan pengaruh bahwa konsentrasi mereka ada batasnya harus mengambil jeda beberapa saat sebelum melakukan tugas berikutnya.
Dan yang diberikan keyakinan bahwa semangat adalah sesuatu yang tidak terbatas, membuat mahasiswa lainnya lebih kuat dalam menghadapi tantangan tugas sulit,"
Dari hasil penelitian mereka, diketahui:
- Kuat tidaknya seseorang menghadapi godaan sangat ditentukan oleh kekuatan pikiran.
- Kesanggupan seseorang untuk terus bekerja atau bersemangat sangat ditentukan oleh seberapa besar dan sebatas apa keyakinan mereka mampu melakukannya.
- Semangat yang layu lebih disebabkan karena faktor mindset belaka.
"Bila Anda merasa semangat itu ada batasnya, maka Anda juga akan mudah lelah jika melakukan pekerjaan yang sulit. Tapi jika Anda merasa tekad dan semangat adalah sesuatu yang tak mudah habis, Anda bisa terus dan terus,"
Hasil penelitian ini dapat menjadi landasan keyakinan untuk mengatasi orang yang kecanduan atau menangani para pekerja yang sering kehilangan motivasi bekerja.
Apa yang kita pikirkan akan mendefinisikan semangat kita. Sangat penting untuk selalu membuat diri termotivasi dan memanamkan dalam pikiran bahwa kita mampu memberikan hasil terbaik.
Semangat !!!
Kompas, 18 Oktober 2010 | 15.28 WIB
Timun Emas
”Mbah Buto Ijo”
Cerita Panji bermuatan ”ramalam masa depan” yang menyangkut sistem sosial-ekonomi kapitalis. Alkisah, ada seorang janda disebut Mbok Rondho. Dia ingin sekali memiliki seorang anak. Maka, datanglah dia kepada seorang raksasa bernama Mbah Buto Ijo agar hajatnya terkabulkan. Buto Ijo setuju dengan syarat kelak agar anaknya diberikan kepadanya untuk dimangsa. Lantaran keinginan yang tidak terbendung, Mbok Rondho itu setuju saja.
Dalam cerita dongeng tersebut tidak dijelaskan bagaimana prosesnya sehingga Mbok Rondho benar-benar mempunyai anak perempuan yang diberi nama Timun Emas. Setelah Timur Emas menapak usia remaja, Mbok Rondho ingat janjinya. Akan tetapi, dia tidak tega memberikan anaknya untuk dimangsa Buto Ijo.
Lantas berkunjunglah Mbok Rondho bersama Timun Emas kepada seorang pertapa di Gunung Gundul. Oleh pertapa tersebut Timun Emas diberi empat macam senjata penolak bala, yaitu jarum, biji timun, garam, dan secuil terasi. Pertapa itu berpesan apabila Buto Ijo mengejar, senjata tersebut supaya dilemparkan satu per satu.
Tiba saatnya Buto Ijo menagih janji. Walaupun Mbok Rondho dan Timun Emas memohon agar keinginan tersebut dibatalkan, tetapi Buto Ijo tidak bisa mengendalikan kerakusannya. Apalagi setelah melihat tubuh Timun Emas yang semloheh....
Timun Emas melarikan diri sambil melemparkan jarum. Maka, muncullah hutan dengan pepohonan yang lebat. Buto Ijo pun membabati hutan tersebut sampai bisa mendekati Timun Emas.
Dalam keadaan terpepet, Timun Emas melempar biji timun. Maka, jadilah ladang timun yang suburdengan batangnya yang melingkar-lingkar. Buto Ijo dengan mudahnya membabati tanaman tersebut.
Begitu Buto Ijo berhasil mendekat, Timun Emas melem- par garam. Maka jadilah laut. Buto Ijo bisa menyeberangi laut itu dan hampir saja menangkap Timun Emas. Dalam situasi gawat, Timun Emas melempar terasi dan jadilah danau lumpur. Danau lumpur tersebut semakin meluas dan menenggelamkan Buto Ijo.
Cerita ini ditafsirkan bagaimana rakyat menghadapi sistem kapitalisme raksasa. Sosok Mbok Rondho sebagai kiasan rakyat yang melarat. Timun Emas adalah kiasan dari kekayaan harta benda. Bermaksud mendapatkan kekayaan, rakyat datang kepada kekuatan kapitalisme yang dikiaskan dengan Buto Ijo. Buto atau raksasa itu biasanya bersifat jahat, tamak, rakus, dan mentalan. Dari situ pula lahir penafsiran sistem ijon.
Kapitalisme tidak pernah memberikan suatu dengan gratis, apalagi yang bersifat sedekah. Tidak peduli terhadap kemanusiaan. Selalu hanya pertimbangan mendapat keuntungan yang lebih besar dari apa yang diinvestasikan atau pura-pura disedekahkan.
Untuk mereguk Timun Emas atau kekayaan, kapitalisme akan menerjang apa saja biarpun ladang pertanian, hutan, ataupun lautan. Namun, pada akhirnya keserakahan, kerakusan, ketakaburan kapitalisme raksasa pada akhirnya akan ditenggelamkan bumi.
Cerita Timun Emas sarat ajaran bahwa manusia tidak boleh rakus, serakah. Kalau memberikan pertolongan, berikan dengan ikhlas tanpa pamrih. Kejahatan kemanusiaan akan membuat bumi murka.
Cerita Panji bermuatan ”ramalam masa depan” yang menyangkut sistem sosial-ekonomi kapitalis. Alkisah, ada seorang janda disebut Mbok Rondho. Dia ingin sekali memiliki seorang anak. Maka, datanglah dia kepada seorang raksasa bernama Mbah Buto Ijo agar hajatnya terkabulkan. Buto Ijo setuju dengan syarat kelak agar anaknya diberikan kepadanya untuk dimangsa. Lantaran keinginan yang tidak terbendung, Mbok Rondho itu setuju saja.
Dalam cerita dongeng tersebut tidak dijelaskan bagaimana prosesnya sehingga Mbok Rondho benar-benar mempunyai anak perempuan yang diberi nama Timun Emas. Setelah Timur Emas menapak usia remaja, Mbok Rondho ingat janjinya. Akan tetapi, dia tidak tega memberikan anaknya untuk dimangsa Buto Ijo.
Lantas berkunjunglah Mbok Rondho bersama Timun Emas kepada seorang pertapa di Gunung Gundul. Oleh pertapa tersebut Timun Emas diberi empat macam senjata penolak bala, yaitu jarum, biji timun, garam, dan secuil terasi. Pertapa itu berpesan apabila Buto Ijo mengejar, senjata tersebut supaya dilemparkan satu per satu.
Tiba saatnya Buto Ijo menagih janji. Walaupun Mbok Rondho dan Timun Emas memohon agar keinginan tersebut dibatalkan, tetapi Buto Ijo tidak bisa mengendalikan kerakusannya. Apalagi setelah melihat tubuh Timun Emas yang semloheh....
Timun Emas melarikan diri sambil melemparkan jarum. Maka, muncullah hutan dengan pepohonan yang lebat. Buto Ijo pun membabati hutan tersebut sampai bisa mendekati Timun Emas.
Dalam keadaan terpepet, Timun Emas melempar biji timun. Maka, jadilah ladang timun yang suburdengan batangnya yang melingkar-lingkar. Buto Ijo dengan mudahnya membabati tanaman tersebut.
Begitu Buto Ijo berhasil mendekat, Timun Emas melem- par garam. Maka jadilah laut. Buto Ijo bisa menyeberangi laut itu dan hampir saja menangkap Timun Emas. Dalam situasi gawat, Timun Emas melempar terasi dan jadilah danau lumpur. Danau lumpur tersebut semakin meluas dan menenggelamkan Buto Ijo.
Cerita ini ditafsirkan bagaimana rakyat menghadapi sistem kapitalisme raksasa. Sosok Mbok Rondho sebagai kiasan rakyat yang melarat. Timun Emas adalah kiasan dari kekayaan harta benda. Bermaksud mendapatkan kekayaan, rakyat datang kepada kekuatan kapitalisme yang dikiaskan dengan Buto Ijo. Buto atau raksasa itu biasanya bersifat jahat, tamak, rakus, dan mentalan. Dari situ pula lahir penafsiran sistem ijon.
Kapitalisme tidak pernah memberikan suatu dengan gratis, apalagi yang bersifat sedekah. Tidak peduli terhadap kemanusiaan. Selalu hanya pertimbangan mendapat keuntungan yang lebih besar dari apa yang diinvestasikan atau pura-pura disedekahkan.
Untuk mereguk Timun Emas atau kekayaan, kapitalisme akan menerjang apa saja biarpun ladang pertanian, hutan, ataupun lautan. Namun, pada akhirnya keserakahan, kerakusan, ketakaburan kapitalisme raksasa pada akhirnya akan ditenggelamkan bumi.
Cerita Timun Emas sarat ajaran bahwa manusia tidak boleh rakus, serakah. Kalau memberikan pertolongan, berikan dengan ikhlas tanpa pamrih. Kejahatan kemanusiaan akan membuat bumi murka.
Mau Punya Tetangga Musuh atau Teman?
MAU PUNYA TETANGGA
MUSUH ATAU TEMAN?
Pd zaman Tiongkok Kuno, ada seorg petani mempunyai seog tetangga yg berprofesi sbg pemburu & mempunyai anjing-anjing yg galak & kurang terlatih.
Anjing-anjing itu sering melompati pagar & mengejar-ngejar domba-domba petani.
Petani itu meminta tetangganya u/ menjaga anjing-anjingnya, ttp ia tidak mau peduli.
Suatu hari aning-anjing itu melompati pagar & menyerang beberapa kambing shg terluka parah.
Petani itu merasa tak sabar & memutuskan u/ pergi ke kota u/ berkonsultasi pd seorg hakim.
Hakim itu mendengarkan cerita petani itu dgn hati-hati & berkata,
"Saya bisa saja menghukum pemburu itu & memerintahkan dia u/ merantai & mengurung anjing-anjingnya.
Tetapi Anda akan kehilangan seorang teman & mendapatkan seorang musuh.
Mana yang kau inginkan, teman atau musuh yg jadi tetanggamu?"
Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.
"Baik, saya akan menawari Anda sebuah solusi yang mana Anda harus menjaga domba-domba Anda supaya tetap aman & ini akan membuat tetangga Anda tetap sebagai teman."
Mendengar solusi pak hakim, petani itu setuju.
Ketika sampai dirumah, petani itu sgr melaksanakan solusi pak hakim.
Dia mengambil tiga domba terbaiknya & menghadiahkannya kpd 3 anak tetangganya itu, yg mana ia menerima dgn sukacita & mulai bermain dgn domba-domba tsb.
Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing pemburunya.
Sejak saat itu anjing-anjing itu tak pernah menggangu domba-domba pak tani.
Disamping rasa terima kasihnya kpd kedermawaan petani kpd anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasil buruan kpd petani. Sbg balasannya petani mengirimkan daging domba & keju buatannya.
Dlm wkt singkat tetangga itu menjadi teman yg baik.
Sebuah ungkapan Tiongkok Kuno mengatakan:
"Cara Terbaik untuk mengalahkan & mempengaruhi orang adalah dgn kebajikan & belas kasih.
MUSUH ATAU TEMAN?
Pd zaman Tiongkok Kuno, ada seorg petani mempunyai seog tetangga yg berprofesi sbg pemburu & mempunyai anjing-anjing yg galak & kurang terlatih.
Anjing-anjing itu sering melompati pagar & mengejar-ngejar domba-domba petani.
Petani itu meminta tetangganya u/ menjaga anjing-anjingnya, ttp ia tidak mau peduli.
Suatu hari aning-anjing itu melompati pagar & menyerang beberapa kambing shg terluka parah.
Petani itu merasa tak sabar & memutuskan u/ pergi ke kota u/ berkonsultasi pd seorg hakim.
Hakim itu mendengarkan cerita petani itu dgn hati-hati & berkata,
"Saya bisa saja menghukum pemburu itu & memerintahkan dia u/ merantai & mengurung anjing-anjingnya.
Tetapi Anda akan kehilangan seorang teman & mendapatkan seorang musuh.
Mana yang kau inginkan, teman atau musuh yg jadi tetanggamu?"
Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.
"Baik, saya akan menawari Anda sebuah solusi yang mana Anda harus menjaga domba-domba Anda supaya tetap aman & ini akan membuat tetangga Anda tetap sebagai teman."
Mendengar solusi pak hakim, petani itu setuju.
Ketika sampai dirumah, petani itu sgr melaksanakan solusi pak hakim.
Dia mengambil tiga domba terbaiknya & menghadiahkannya kpd 3 anak tetangganya itu, yg mana ia menerima dgn sukacita & mulai bermain dgn domba-domba tsb.
Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing pemburunya.
Sejak saat itu anjing-anjing itu tak pernah menggangu domba-domba pak tani.
Disamping rasa terima kasihnya kpd kedermawaan petani kpd anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasil buruan kpd petani. Sbg balasannya petani mengirimkan daging domba & keju buatannya.
Dlm wkt singkat tetangga itu menjadi teman yg baik.
Sebuah ungkapan Tiongkok Kuno mengatakan:
"Cara Terbaik untuk mengalahkan & mempengaruhi orang adalah dgn kebajikan & belas kasih.
Hasta Brata
Menggali kepemimpinan asli di Indonesia. Bisa kita lihat dalam lakon wayang: Wahyu Makutha Rama.
Diceritakan siapa saja yang ingin menjadi raja di raja, harus menjalani laku (tapa dan mencari)untuk mendapatkan Wahyu Makutha Rama yang berisi ajaran Hasta Brata.
Akhir cerita: Arjuna yg mendapatkan Wahyu tersebut dan anaknya Parikesit yang menjadi raja berikutnya.
Hasta berarti 8, Brata berarti sikap atau laku. Hasta Brata ini adalah quality of leadership yang di gali dari budaya Indonesia dan asli Indonesia.
Cara mencarinya adalah dari fenomena alam, karena memang hukum manusia itu adalah nature (alam). Kita harus belajar dari alam, jagat kecil yaitu diri kita ini dikaitkan dengan jagat gede yaitu jagat raya. Kita pribadi selalu dilihat dengan konteks jagat yang lebih besar . Kita belajar dari konteks yang lebih besar itu.
Hasta Brata adalah ajaran tentang kepemimpinan, siapa pun adalah pemimpin, apalagi kalau memegang jabatan yang tinggi. Sebagai pemimpin maka setiap orang harus mengerti bagaimana bersikap sebagai pemimpin yang baik.
Secara singkat isi Hasta Brata itu adalah:
1. Surya yaitu matahari.
Matahari memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan yang membuat semua makhluk tumbuh dan berkembang. Seorang pemimpin hendaknya mampu menumbuhkembangkan daya hidup rakyatnya untuk membangun bangsa dan negara, dengan memberikan bekal hadir dan batin untuk dapat berkarya.
(empowering)
2. Candra yaitu bulan.
Bulan memancarkan sinar kegelapan malam. Cahaya bulan yang lembut mampu menumbuhkan semangat dan harapan-harapan yang indah. Seorang pemimpin hendaknya mampu memberikan dorongan atau motivasi untuk membangkitkan semangat rakyatnya, dalam suasana suka dan duka.
(Encouraging)
3.Kartika yaitu bintang.
Bintang memancarkan sinar indah kemilauan, mempunyai tempat yang tepat di langit hingga dapat menjadi pedoman arah. Seorang pemimpin hendaknya menjadi teladan, untuk membuat kebaikan. Tidak ragu menjalankan keputusan yang disepakati, serta tidak mudah terpengaruh oleh pihak yang akan menyesatkan.
(Inspiring)
4.Angkasa yaitu langit.
Langit itu luas tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan batin dan kemampuan mengendalikan diri yang kuat, higga dengan sabar mampu menampung pendapat rakyatnya yang bermacam-macam.
5.Maruta yaitu angin.
Angin selalu ada di mana-mana, tanpa membedakan tempat serta selalu mengisi semua ruang yang kosong. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat da martabatnya, bisa mengetahui keadaan dan keinginan rakyatnya. Mampu memahami dan menyerap aspirasi.
(Participative)
` 6.Samodra yaitu laut /air.
Laut, betapapun luasnya, senantiasa mempunyai permukaan yang rata dan bersifat sejuk menyegarkan. Seorang pemimipin hendaknya menempatkan semua orang pada derajat dan martabat yang sama, sehingga dapat berlaku adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang terhadap rakyatnya.
(Value: team playership, service-mindedness)
7.Dahana yaitu api.
Api mempunyai kemampuan untuk membakar habis dan menghancurleburkan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan berani menegakkan kebenaran dan keadilan secara tegas dan tuntas tanpa pandang bulu.
(Decisiveness)
8.Bumi yaitu bumi / tanah.
Bumi mempunyai sifat kuat dan murah hati. Selalu memberi hasil kepada siapapun yang mengolah dan memeliharanya dengan tekun. Seorang pemimpin hedaknya berwatak sentosa, teguh dan murah hati, suka beramal dan senantiasa berusaha untuk tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya.
(process driven-performance oriented)
Diceritakan siapa saja yang ingin menjadi raja di raja, harus menjalani laku (tapa dan mencari)untuk mendapatkan Wahyu Makutha Rama yang berisi ajaran Hasta Brata.
Akhir cerita: Arjuna yg mendapatkan Wahyu tersebut dan anaknya Parikesit yang menjadi raja berikutnya.
Hasta berarti 8, Brata berarti sikap atau laku. Hasta Brata ini adalah quality of leadership yang di gali dari budaya Indonesia dan asli Indonesia.
Cara mencarinya adalah dari fenomena alam, karena memang hukum manusia itu adalah nature (alam). Kita harus belajar dari alam, jagat kecil yaitu diri kita ini dikaitkan dengan jagat gede yaitu jagat raya. Kita pribadi selalu dilihat dengan konteks jagat yang lebih besar . Kita belajar dari konteks yang lebih besar itu.
Hasta Brata adalah ajaran tentang kepemimpinan, siapa pun adalah pemimpin, apalagi kalau memegang jabatan yang tinggi. Sebagai pemimpin maka setiap orang harus mengerti bagaimana bersikap sebagai pemimpin yang baik.
Secara singkat isi Hasta Brata itu adalah:
1. Surya yaitu matahari.
Matahari memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan yang membuat semua makhluk tumbuh dan berkembang. Seorang pemimpin hendaknya mampu menumbuhkembangkan daya hidup rakyatnya untuk membangun bangsa dan negara, dengan memberikan bekal hadir dan batin untuk dapat berkarya.
(empowering)
2. Candra yaitu bulan.
Bulan memancarkan sinar kegelapan malam. Cahaya bulan yang lembut mampu menumbuhkan semangat dan harapan-harapan yang indah. Seorang pemimpin hendaknya mampu memberikan dorongan atau motivasi untuk membangkitkan semangat rakyatnya, dalam suasana suka dan duka.
(Encouraging)
3.Kartika yaitu bintang.
Bintang memancarkan sinar indah kemilauan, mempunyai tempat yang tepat di langit hingga dapat menjadi pedoman arah. Seorang pemimpin hendaknya menjadi teladan, untuk membuat kebaikan. Tidak ragu menjalankan keputusan yang disepakati, serta tidak mudah terpengaruh oleh pihak yang akan menyesatkan.
(Inspiring)
4.Angkasa yaitu langit.
Langit itu luas tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan batin dan kemampuan mengendalikan diri yang kuat, higga dengan sabar mampu menampung pendapat rakyatnya yang bermacam-macam.
5.Maruta yaitu angin.
Angin selalu ada di mana-mana, tanpa membedakan tempat serta selalu mengisi semua ruang yang kosong. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat da martabatnya, bisa mengetahui keadaan dan keinginan rakyatnya. Mampu memahami dan menyerap aspirasi.
(Participative)
` 6.Samodra yaitu laut /air.
Laut, betapapun luasnya, senantiasa mempunyai permukaan yang rata dan bersifat sejuk menyegarkan. Seorang pemimipin hendaknya menempatkan semua orang pada derajat dan martabat yang sama, sehingga dapat berlaku adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang terhadap rakyatnya.
(Value: team playership, service-mindedness)
7.Dahana yaitu api.
Api mempunyai kemampuan untuk membakar habis dan menghancurleburkan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan berani menegakkan kebenaran dan keadilan secara tegas dan tuntas tanpa pandang bulu.
(Decisiveness)
8.Bumi yaitu bumi / tanah.
Bumi mempunyai sifat kuat dan murah hati. Selalu memberi hasil kepada siapapun yang mengolah dan memeliharanya dengan tekun. Seorang pemimpin hedaknya berwatak sentosa, teguh dan murah hati, suka beramal dan senantiasa berusaha untuk tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya.
(process driven-performance oriented)
Love You Mom
“RYN, bangun.. Sarapanmu udah mama siapin di meja.” Tradisi ini sudah berlangsung 22 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat tapi kebiasaan mama tak pernah berubah,meskipun aku hanya pulang sekali2 menjenguknya
“Mama sayang… ga usah repot-repot ma, aku sudah dewasa.” pintaku pada mama pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah.
Pun ketika mama mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya, ingin kubalas jasa mama selama ini dengan hasil keringatku.. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.
Kenapa mama mudah sekali sedih? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami mama karena dari sebuah artikel yang kubaca.. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak. tapi entahlah..
Niatku ingin membahagiakan malah membuat mama sedih. Seperti biasa, mama tidak akan pernah mengatakan apa-apa.
Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya “Ma, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan mama. Apa yang bikin mama sedih?” Kutatap sudut-sudut mata mama, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata mama berkata, “Tiba-tiba mama merasa kalian tidak lagi membutuhkan mama. Kamu sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Mama tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kamu, mama tidak bisa lagi jajanin kamu. Semua sudah bisa kamu lakukan sendiri”
Ah, Ya Tuhan, ternyata buat seorang Ibu.. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya.
Diam-diam aku merenungkan. Apa yang telah kupersembahkan untuk mama dalam usiaku sekarang? Adakah mama bahagia dan bangga pada putrinya?
Ketika itu kutanya pada mama. Mama menjawab “Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kamu berikan pada mama. Kamu tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kamu berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat mama. Setelah dewasa, kamu berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat mama. Setiap kali binar mata kamu mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua.”
Lagi-lagi aku hanya bisa berucap “Ampunkan aku ya Tuhan kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada mama. Masih banyak alasan ketika mama menginginkan sesuatu.”
Betapa sabarnya mamaku melalui liku-liku kehidupan..
Mamaku seorang yang idealis, menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Ah, maafin kami mama….. 18 jam sehari sebagai “pekerja” seakan tak pernah membuat mama lelah..
Sanggupkah aku ya Tuhan?
— +++ —
“Ryn, bangun nak.. sarapannya udah mama siapin di meja.. ”
Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul mama sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan.. “Terimakasih mama, aku beruntung sekali memiliki mama yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan mama.”
Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan..
Cintaku ini milikmu, Mama. Aku masih sangat membutuhkanmu.. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..
— +++ —
Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat “Aku sayang padamu.” Namun begitu, Tuhan menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai..
Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita, Ibu.. Walau mereka tak pernah meminta. Percayalah.. kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.
“Ya Tuhan, cintailah mamaku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan mama selagi ENGKAU mengizinkan aku hidup. Dan jika saatnya nanti mama Kau panggil, terimalah dan jagalah ia disisiMu.. Titip mamaku ya Tuhan..”
Untuk dan oleh semua Mama yang mencintai anak-anaknya dan semua anak yang mencintai Mamanya..
(dikutip dari karya : Catarina Angie)
“Mama sayang… ga usah repot-repot ma, aku sudah dewasa.” pintaku pada mama pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah.
Pun ketika mama mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya, ingin kubalas jasa mama selama ini dengan hasil keringatku.. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.
Kenapa mama mudah sekali sedih? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami mama karena dari sebuah artikel yang kubaca.. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak. tapi entahlah..
Niatku ingin membahagiakan malah membuat mama sedih. Seperti biasa, mama tidak akan pernah mengatakan apa-apa.
Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya “Ma, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan mama. Apa yang bikin mama sedih?” Kutatap sudut-sudut mata mama, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata mama berkata, “Tiba-tiba mama merasa kalian tidak lagi membutuhkan mama. Kamu sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Mama tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kamu, mama tidak bisa lagi jajanin kamu. Semua sudah bisa kamu lakukan sendiri”
Ah, Ya Tuhan, ternyata buat seorang Ibu.. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya.
Diam-diam aku merenungkan. Apa yang telah kupersembahkan untuk mama dalam usiaku sekarang? Adakah mama bahagia dan bangga pada putrinya?
Ketika itu kutanya pada mama. Mama menjawab “Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kamu berikan pada mama. Kamu tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kamu berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat mama. Setelah dewasa, kamu berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat mama. Setiap kali binar mata kamu mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua.”
Lagi-lagi aku hanya bisa berucap “Ampunkan aku ya Tuhan kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada mama. Masih banyak alasan ketika mama menginginkan sesuatu.”
Betapa sabarnya mamaku melalui liku-liku kehidupan..
Mamaku seorang yang idealis, menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Ah, maafin kami mama….. 18 jam sehari sebagai “pekerja” seakan tak pernah membuat mama lelah..
Sanggupkah aku ya Tuhan?
— +++ —
“Ryn, bangun nak.. sarapannya udah mama siapin di meja.. ”
Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul mama sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan.. “Terimakasih mama, aku beruntung sekali memiliki mama yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan mama.”
Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan..
Cintaku ini milikmu, Mama. Aku masih sangat membutuhkanmu.. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..
— +++ —
Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat “Aku sayang padamu.” Namun begitu, Tuhan menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai..
Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita, Ibu.. Walau mereka tak pernah meminta. Percayalah.. kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.
“Ya Tuhan, cintailah mamaku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan mama selagi ENGKAU mengizinkan aku hidup. Dan jika saatnya nanti mama Kau panggil, terimalah dan jagalah ia disisiMu.. Titip mamaku ya Tuhan..”
Untuk dan oleh semua Mama yang mencintai anak-anaknya dan semua anak yang mencintai Mamanya..
(dikutip dari karya : Catarina Angie)
Syukur dan Bahagia
Seorang petani dan istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan.
Lewatlah sebuah motor di depan mereka.
Berkatalah petani ini pada istrinya: "Lihatlah Bu, betapa bahagianya suami istri yang naik motor itu, meskipun mereka juga kehujanan, tapi mereka bisa cepat sampai di rumah. Tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai ke rumah."
Sementara itu, pengendara sepeda motor dan istrinya yang sedang berboncengan di bawah derasnya air hujan, melihat sebuah mobil pick up lewat di depan mereka.
Pengendara motor itu berkata kepada istrinya: "Lihat bu, betapa bahagianya orang yang naik mobil itu. Mereka tidak perlu kehujanan seperti kita."
Di dalam mobil pick up yang dikendarai sepasang suami istri, terjadi perbincangan, ketika sebuah mobil sedan Mercy lewat di hadapan mereka.
"Lihatlah bu, betapa bahagia orang yang naik mobil bagus itu. Mobil itu pasti nyaman dikendarai, tidak seperti mobil kita yang sering mogok."
Pengendara mobil Mercy itu seorang pria kaya, dan ketika dia melihat sepasang suami istri yang berjalan bergandengan tangan di bawah guyuran air hujan.
Pria kaya itu berkata dalam hatinya: "Betapa bahagianya suami istri itu. Mereka dengan mesranya berjalan bergandengan tangan sambil menyusuri indahnya jalan di pedesaan ini. Sementara aku dan istriku tidak pernah punya waktu untuk berdua karena kesibukan kami masing masing.
"Kebahagiaan tak akan pernah kau miliki jika kau hanya melihat kebahagiaan milik orang lain, dan selalu membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain.
Bersyukurlah atas hidupmu supaya kau tahu di mana kebahagiaan itu berada.
Lewatlah sebuah motor di depan mereka.
Berkatalah petani ini pada istrinya: "Lihatlah Bu, betapa bahagianya suami istri yang naik motor itu, meskipun mereka juga kehujanan, tapi mereka bisa cepat sampai di rumah. Tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai ke rumah."
Sementara itu, pengendara sepeda motor dan istrinya yang sedang berboncengan di bawah derasnya air hujan, melihat sebuah mobil pick up lewat di depan mereka.
Pengendara motor itu berkata kepada istrinya: "Lihat bu, betapa bahagianya orang yang naik mobil itu. Mereka tidak perlu kehujanan seperti kita."
Di dalam mobil pick up yang dikendarai sepasang suami istri, terjadi perbincangan, ketika sebuah mobil sedan Mercy lewat di hadapan mereka.
"Lihatlah bu, betapa bahagia orang yang naik mobil bagus itu. Mobil itu pasti nyaman dikendarai, tidak seperti mobil kita yang sering mogok."
Pengendara mobil Mercy itu seorang pria kaya, dan ketika dia melihat sepasang suami istri yang berjalan bergandengan tangan di bawah guyuran air hujan.
Pria kaya itu berkata dalam hatinya: "Betapa bahagianya suami istri itu. Mereka dengan mesranya berjalan bergandengan tangan sambil menyusuri indahnya jalan di pedesaan ini. Sementara aku dan istriku tidak pernah punya waktu untuk berdua karena kesibukan kami masing masing.
"Kebahagiaan tak akan pernah kau miliki jika kau hanya melihat kebahagiaan milik orang lain, dan selalu membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain.
Bersyukurlah atas hidupmu supaya kau tahu di mana kebahagiaan itu berada.
Senin, 04 Maret 2013
Bahagia
Bahagia
Seorang wanita cantik, kaya, dan hidup nyaris sempurna secara ekonomi dan fisik, merasa ad yang kurang dalam dirinya. Suatu hari, ketika tidak tahan dengan impitan kekosongan dalam hidup, dia mendatangi psikiaternya, dan bercerita. Ia ingin merasa bahagia. Maka si psikiater memanggil seorang wanita tua penyapu lantai dan berkata kepada si wanita kaya, “Saya akan menyuruh Rabi’ah di sini untuk menceritakan kepada Anda bagaimana dia menemukan kebahagiaan.
Saya ingin Anda mendengarnya.” Si wanita tua meletakkan gagang sapunya dan duduk di kursi dan menceritakan kisahnya: “OK, suamiku meninggal akibat malaria dan tiga bulan kemudian anak tunggalku tewas akibat kecelakaan. Aku tidak punya siapa-siapa. Aku kehilangan segalanya. Aku tidak bisa tidur, tidak bisa makan, aku tidak pernah tersenyum kepada siapa pun, bahkan aku berpikir untuk mengakhiri hidupku.
Sampai suatu sore seekor anak kucing mengikutiku pulang. Sejenak aku merasa kasihan melihatnya. Cuaca dingin di luar, jadi aku memutuskan membiarkan anak kucing itu masuk ke rumah. Aku memberikannya susu dan dia minum sampai habis. Lalu si anak kucing itu bermanja-manja di kakiku dan, untuk pertama kalinya aku tersenyum.
Sesaat kemudian aku berpikir, jikalau membantu seekor anak kucing saja bisa membuat aku tersenyum, maka mungkin melakukan sesuatu bagi orang lain akan membuatku bahagia. Maka di kemudian hari aku membawa beberapa biskuit untuk diberikan kepada tetangga yang terbaring sakit di tempat tidur.
Tiap hari aku mencoba melakukan sesuatu yang baik kepada setiap orang. Hal itu membuat aku bahagia tatkala melihat orang lain bahagia. Hari ini, aku tak tahu apa ada orang yang bisa tidur dan makan lebih baik dariku. Aku telah menemukan kebahagiaan dengan memberi.”
Ketika si wanita kaya mendengarkan hal itu, menangislah dia. Dia memiliki segala sesuatu yang bisa dibeli dengan uang namun dia kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Jadi, mulailah memberi kebahagiaan kepada orang lain maka kita akan merasakan sensasi kebahagiaan yang tidak pernah kita duga sebelumnya ..
Seorang wanita cantik, kaya, dan hidup nyaris sempurna secara ekonomi dan fisik, merasa ad yang kurang dalam dirinya. Suatu hari, ketika tidak tahan dengan impitan kekosongan dalam hidup, dia mendatangi psikiaternya, dan bercerita. Ia ingin merasa bahagia. Maka si psikiater memanggil seorang wanita tua penyapu lantai dan berkata kepada si wanita kaya, “Saya akan menyuruh Rabi’ah di sini untuk menceritakan kepada Anda bagaimana dia menemukan kebahagiaan.
Saya ingin Anda mendengarnya.” Si wanita tua meletakkan gagang sapunya dan duduk di kursi dan menceritakan kisahnya: “OK, suamiku meninggal akibat malaria dan tiga bulan kemudian anak tunggalku tewas akibat kecelakaan. Aku tidak punya siapa-siapa. Aku kehilangan segalanya. Aku tidak bisa tidur, tidak bisa makan, aku tidak pernah tersenyum kepada siapa pun, bahkan aku berpikir untuk mengakhiri hidupku.
Sampai suatu sore seekor anak kucing mengikutiku pulang. Sejenak aku merasa kasihan melihatnya. Cuaca dingin di luar, jadi aku memutuskan membiarkan anak kucing itu masuk ke rumah. Aku memberikannya susu dan dia minum sampai habis. Lalu si anak kucing itu bermanja-manja di kakiku dan, untuk pertama kalinya aku tersenyum.
Sesaat kemudian aku berpikir, jikalau membantu seekor anak kucing saja bisa membuat aku tersenyum, maka mungkin melakukan sesuatu bagi orang lain akan membuatku bahagia. Maka di kemudian hari aku membawa beberapa biskuit untuk diberikan kepada tetangga yang terbaring sakit di tempat tidur.
Tiap hari aku mencoba melakukan sesuatu yang baik kepada setiap orang. Hal itu membuat aku bahagia tatkala melihat orang lain bahagia. Hari ini, aku tak tahu apa ada orang yang bisa tidur dan makan lebih baik dariku. Aku telah menemukan kebahagiaan dengan memberi.”
Ketika si wanita kaya mendengarkan hal itu, menangislah dia. Dia memiliki segala sesuatu yang bisa dibeli dengan uang namun dia kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Jadi, mulailah memberi kebahagiaan kepada orang lain maka kita akan merasakan sensasi kebahagiaan yang tidak pernah kita duga sebelumnya ..
Motivasi
Lima Tip. oleh Andrie Wongso
1. If you are right, then there is no need to get angry.
And if you are wrong then you don't have any right to get angry.
Jika Anda benar, maka Anda tidak perlu marah.
Dan jika Anda salah, maka Anda tidak layak marah.
2. Patience with family is love.
Patience with others is respect.
Patience with self is confidence.
Sabar dengan keluarga, itu namanya cinta.
Sabar dengan orang lain, itu namanya respek.
Sabar dengan diri sendiri, itulah kepercayaan diri.
3. Never think hard about the past, it brings tears.
Don't think more about the future, it brings fears.
Live this moment with a smile, it brings cheers.
Jangan berpikir terlalu serius mengenai masa lalu, itu Anda sedih.
Jangan pula berpikir terlalu banyak mengenai masa depan, itu membuat Anda takut.
Jalani hidup saat ini dengan senyuman, itu akan membuat Anda bersukacita.
4. Every test in our life can makes us bitter or better.
Every problem comes to make us or break us.
The choice is ours, whether we become victim or victorious.
Setiap cobaan dalam hidup kita, bisa membuat kita lebih terpuruk atau lebih baik.
Setiap masalah datang untuk membuat kita lebih berprestasi, atau hancur sama sekali.
Pilihan ada di tangan kita, apakah kita memilih untuk menjadi seorang pecundang atau pemenang.
5. Search a beautiful heart, not a beautiful face.
Beautiful things are not always good, but good things are always beautiful.
Temukan hati yang indah/tulus, bukan wajah yang rupawan.
Hal-hal yang indah tidak selalu baik, namun hal-hal yang baik selalu indah.
Kiriman dari Endro Widagdo
Alexander Sindoro
1. If you are right, then there is no need to get angry.
And if you are wrong then you don't have any right to get angry.
Jika Anda benar, maka Anda tidak perlu marah.
Dan jika Anda salah, maka Anda tidak layak marah.
2. Patience with family is love.
Patience with others is respect.
Patience with self is confidence.
Sabar dengan keluarga, itu namanya cinta.
Sabar dengan orang lain, itu namanya respek.
Sabar dengan diri sendiri, itulah kepercayaan diri.
3. Never think hard about the past, it brings tears.
Don't think more about the future, it brings fears.
Live this moment with a smile, it brings cheers.
Jangan berpikir terlalu serius mengenai masa lalu, itu Anda sedih.
Jangan pula berpikir terlalu banyak mengenai masa depan, itu membuat Anda takut.
Jalani hidup saat ini dengan senyuman, itu akan membuat Anda bersukacita.
4. Every test in our life can makes us bitter or better.
Every problem comes to make us or break us.
The choice is ours, whether we become victim or victorious.
Setiap cobaan dalam hidup kita, bisa membuat kita lebih terpuruk atau lebih baik.
Setiap masalah datang untuk membuat kita lebih berprestasi, atau hancur sama sekali.
Pilihan ada di tangan kita, apakah kita memilih untuk menjadi seorang pecundang atau pemenang.
5. Search a beautiful heart, not a beautiful face.
Beautiful things are not always good, but good things are always beautiful.
Temukan hati yang indah/tulus, bukan wajah yang rupawan.
Hal-hal yang indah tidak selalu baik, namun hal-hal yang baik selalu indah.
Kiriman dari Endro Widagdo
Alexander Sindoro
Bukan Karena
BUKAN karena hari ini INDAH, maka kita BAHAGIA ...
melainkan karena kita BAHAGIA, maka hari ini menjadi INDAH.
BUKAN karena tak ada RINTANGAN, maka kita menjadi OPTIMIS ...
melainkan karena kita OPTIMIS, maka RINTANGAN menjadi tak terasa.
BUKAN karena MUDAH, maka kita YAKIN BISA ...
melainkan karena kita YAKIN BISA, maka semuanya menjadi MUDAH.
BUKAN karena semua BAIK, maka kita TERSENYUM ...
melainkan karena kita mau TERSENYUM, maka semua menjadi BAIK.
Tak ada hari yang MENYULITKAN kita, kecuali kita SENDIRI yang membuat SULIT.
Diedit dari artikel kiriman Budi Sulistyo
Alexander Sindoro
melainkan karena kita BAHAGIA, maka hari ini menjadi INDAH.
BUKAN karena tak ada RINTANGAN, maka kita menjadi OPTIMIS ...
melainkan karena kita OPTIMIS, maka RINTANGAN menjadi tak terasa.
BUKAN karena MUDAH, maka kita YAKIN BISA ...
melainkan karena kita YAKIN BISA, maka semuanya menjadi MUDAH.
BUKAN karena semua BAIK, maka kita TERSENYUM ...
melainkan karena kita mau TERSENYUM, maka semua menjadi BAIK.
Tak ada hari yang MENYULITKAN kita, kecuali kita SENDIRI yang membuat SULIT.
Diedit dari artikel kiriman Budi Sulistyo
Alexander Sindoro
Bill Gates
Bill Gates
Siapa tidak kenal Bill Gates? Pendiri perusahaan software raksasa Microsoft ini dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Dia juga dikenal sebagai dermawan yang banyak sekali menyumbangkan uang bagi aktivitas kemanusiaan melalui yayasan Bill & Melinda Gates Foundation.
Dalam beberapa kesempatan, drop out dari Universitas Harvard ini mengemukakan beberapa quote yang mungkin bisa menginspirasi. Berikut beberapa di antaranya yang dikutip dari berbagai sumber:
- Saya sungguh memiliki banyak impian ketika masih kecil dan saya pikir hal itu tumbuh dari fakta bahwa saya punya kesempatan untuk banyak membaca.
- Saya gagal dalam beberapa subyek saat ujian, namun teman saya lulus semuanya. Sekarang dia bekerja sebagai seorang insinyur di Microsoft dan saya adalah pemilik Microsoft.
- Jika Anda tidak bisa membuatnya dengan baik, setidaknya buatlah terlihat baik.
- Tidak masalah untuk merayakan kesuksesan, namun lebih penting untuk memperhatikan pelajaran dari kegagalan.
- Berlakulah baik kepada para pekerja. Ada kemungkinan Anda akan bekerja untuk salah satu dari mereka.
- Dalam bisnis ini, saat Anda menyadari sedang berada dalam masalah, sudah terlambat untuk menyelamatkan diri. Kecuali Anda ketakutan setiap saat, Anda musnah.
- Teknologi hanyalah alat. Untuk membuat anak-anak bekerja sama dan memotivasi mereka, guru adalah yang paling penting.
- Jika Anda pikir guru Anda adalah orang yang keras, tunggulah sampai Anda memiliki bos. - Televisi bukanlah kehidupan yang nyata. Di kehidupan sebenarnya, orang-orang harus meninggalkan warung kopi dan pergi bekerja.
- Jangan merengek-rengek tentang kesalahan Anda, belajarlah dari kesalahan itu.
- Saya yakin jika Anda menunjukkan orang permasalahannya dan menunjukkan pada mereka solusi, mereka akan bergerak untuk beraksi.
- Saya mengambil langkah raksasa dan segera. Jika Anda berada di tempat dan waktu yang tepat dan memiliki visi ke mana teknologi baru akan menuju namun Anda tidak beraksi, Anda tidak akan pernah bisa sukses.
Anthonio Dio Martin
Siapa tidak kenal Bill Gates? Pendiri perusahaan software raksasa Microsoft ini dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Dia juga dikenal sebagai dermawan yang banyak sekali menyumbangkan uang bagi aktivitas kemanusiaan melalui yayasan Bill & Melinda Gates Foundation.
Dalam beberapa kesempatan, drop out dari Universitas Harvard ini mengemukakan beberapa quote yang mungkin bisa menginspirasi. Berikut beberapa di antaranya yang dikutip dari berbagai sumber:
- Saya sungguh memiliki banyak impian ketika masih kecil dan saya pikir hal itu tumbuh dari fakta bahwa saya punya kesempatan untuk banyak membaca.
- Saya gagal dalam beberapa subyek saat ujian, namun teman saya lulus semuanya. Sekarang dia bekerja sebagai seorang insinyur di Microsoft dan saya adalah pemilik Microsoft.
- Jika Anda tidak bisa membuatnya dengan baik, setidaknya buatlah terlihat baik.
- Tidak masalah untuk merayakan kesuksesan, namun lebih penting untuk memperhatikan pelajaran dari kegagalan.
- Berlakulah baik kepada para pekerja. Ada kemungkinan Anda akan bekerja untuk salah satu dari mereka.
- Dalam bisnis ini, saat Anda menyadari sedang berada dalam masalah, sudah terlambat untuk menyelamatkan diri. Kecuali Anda ketakutan setiap saat, Anda musnah.
- Teknologi hanyalah alat. Untuk membuat anak-anak bekerja sama dan memotivasi mereka, guru adalah yang paling penting.
- Jika Anda pikir guru Anda adalah orang yang keras, tunggulah sampai Anda memiliki bos. - Televisi bukanlah kehidupan yang nyata. Di kehidupan sebenarnya, orang-orang harus meninggalkan warung kopi dan pergi bekerja.
- Jangan merengek-rengek tentang kesalahan Anda, belajarlah dari kesalahan itu.
- Saya yakin jika Anda menunjukkan orang permasalahannya dan menunjukkan pada mereka solusi, mereka akan bergerak untuk beraksi.
- Saya mengambil langkah raksasa dan segera. Jika Anda berada di tempat dan waktu yang tepat dan memiliki visi ke mana teknologi baru akan menuju namun Anda tidak beraksi, Anda tidak akan pernah bisa sukses.
Anthonio Dio Martin
Kepiting
"Kepiting"
Kepiting adalah binatang yang terkenal lezat dan unik karena mempunyai 2sapit tajam
Anak-anak Nelayan di Pantai punya trik khusus dan jitu saat berburu Kepiting
Alatnya hanya batang/bilah bambu dan keranjang/baskom
Cara uniknya adalah :
Saat mereka menemukan Kepiting bersembunyi didalam air, mereka akan mengganggu Kepiting dengan bilah bambunya.
Karena marasa terganggu, maka kepiting akan menjepit bilah itu.
Anak Nelayan akan mendorong lebih dalam dan keras kepada Kepiting.
Kepiting semakin marah dan akan semakin kuat dan erat menjepit bilah tersebut. Dan pada saat itulah Anak Nelayan dengan mudahnya menarik bilah itu ke daratan.
Lalu bagaimana caranya supaya Kepiting itu tidak kabur?
Padahal mau mengikat Kepiting itu resikonya tangan akan terjepit sapit.
Ternyata ada trik sederhana yang akan membuat Kepiting itu tidak bisa kebur.
Anak Nelayan mengumpulkan Kepiting-kepiting tangkapan dalam baskom tanpa diikat.
Kenapa Kepiting tidak bisa kabur?
Karena Kepiting-kepiting akan berebut keluar dari Baskom, pada saat 1 Kepiting akan berhasil keluar, maka kepiting lainnya akan menariknya lagi jatuh kedalam baskom.
Begitu seterusnya, sehingga tak ada seekorpun Kepiting yang akan lolos keluar dari Baskom.
Moral Story :
A. Hati-hati saat kita dikuasai emosi-negatif, karena akan menjatuhkan diri kita sendiri
B. Untuk naik keatas kita harus terlebih dahulu mengangkat orang lain.
Jika kita menginjak maka kita akan dijatuhkan.
Bill McCarthey :
"We have not come to compete with one another. We have come to complete one onother"
Kita disini bukan untuk saling menjatuhkan/bersaing. Kita disini untuk saling mengisi
GM. Agung Nugroho
Kepiting adalah binatang yang terkenal lezat dan unik karena mempunyai 2sapit tajam
Anak-anak Nelayan di Pantai punya trik khusus dan jitu saat berburu Kepiting
Alatnya hanya batang/bilah bambu dan keranjang/baskom
Cara uniknya adalah :
Saat mereka menemukan Kepiting bersembunyi didalam air, mereka akan mengganggu Kepiting dengan bilah bambunya.
Karena marasa terganggu, maka kepiting akan menjepit bilah itu.
Anak Nelayan akan mendorong lebih dalam dan keras kepada Kepiting.
Kepiting semakin marah dan akan semakin kuat dan erat menjepit bilah tersebut. Dan pada saat itulah Anak Nelayan dengan mudahnya menarik bilah itu ke daratan.
Lalu bagaimana caranya supaya Kepiting itu tidak kabur?
Padahal mau mengikat Kepiting itu resikonya tangan akan terjepit sapit.
Ternyata ada trik sederhana yang akan membuat Kepiting itu tidak bisa kebur.
Anak Nelayan mengumpulkan Kepiting-kepiting tangkapan dalam baskom tanpa diikat.
Kenapa Kepiting tidak bisa kabur?
Karena Kepiting-kepiting akan berebut keluar dari Baskom, pada saat 1 Kepiting akan berhasil keluar, maka kepiting lainnya akan menariknya lagi jatuh kedalam baskom.
Begitu seterusnya, sehingga tak ada seekorpun Kepiting yang akan lolos keluar dari Baskom.
Moral Story :
A. Hati-hati saat kita dikuasai emosi-negatif, karena akan menjatuhkan diri kita sendiri
B. Untuk naik keatas kita harus terlebih dahulu mengangkat orang lain.
Jika kita menginjak maka kita akan dijatuhkan.
Bill McCarthey :
"We have not come to compete with one another. We have come to complete one onother"
Kita disini bukan untuk saling menjatuhkan/bersaing. Kita disini untuk saling mengisi
GM. Agung Nugroho
Burung Gagak
Burung Gagak
Suatu sore hari di suatu desa kecil, tampak seorang lelaki yang sudah cukup berumur duduk di halaman rumahnya. Di sampingnya terlihat anaknya, seorang pemuda yang minggu yang lulus dari perguruan tinggi ternama. Mereka duduk berbincang-bincang mengenai apa yang akan dilakukan oleh pemuda itu.
Tiba-tiba terlihat seekor burung hinggap di ranting pohon tak jauh dari situ. Si ayah lalu menudingkan jari ke arah burung itu sambil bertanya, “Nak, apakah benda hitam itu?” “Burung gagak,” jawab si anak.
Ayah mengangguk-anggukkan kepala, namun tak berapa lama kemudian, ayah mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu menjawab dengan sedikit keras, “Itu burung gagak, ayah!”
Tetapi tak berapa lama si ayah kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama. Si anak merasa sedikit bingung dengan pertanyaan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan suara keras, “BURUNG GAGAK!!” Si ayah terdiam seketika.
Tidak lama kemudian, sang ayah sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama, hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada tinggi dan kesal kepada sang ayah, “Itu gagak, ayah!”
Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah. “Ayah!!! Saya tak tahu ayah paham atau tidak. Sudah 5 kali ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang ayah mau saya katakan???? Itu burung gagak, ayah ….., burung gagaaak!”, bentak si anak dengan nada yang begitu marah.
Kemudian si ayah lalu bangun, berjalan ke dalam rumah, meninggalkan si anak yang kebingungan. Tak lama si ayah keluar lagi sambil memegang sebuah buku di tangannya. Ternyata buku tersebut adalah sebuah buku harian yang sudah tua. Dibukanya buku itu, dibalik-balik dan kemudian mengulurkan kepada anaknya dan berkata, “Coba kau bacakan dengan suara keras, apa yang ayah tulis di dalam buku harian ini.”
“Tadi sore aku bermain di halaman dengan anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Melihat itu anakku menunjuk ke arah gagak dan bertanya, ‘Ayah, apa itu?’ Dan aku menjawab, ‘Burung gagak, nak.’ Rupanya anakku belum puas, dia bertanya lagi, dan lagi, dan lagi, mungkin sampai lebih dari 25 kali. Aku bersabar untuk tetap menjawabnya. Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.”
Suara si anak semakin lama semakin perlahan. Selesai membaca paragraf tersebut si anak tersipu malu, mengangkat muka memandang wajah ayahnya. Si ayah berkata dengan bersuara lembut, “Hari ini ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau telah hilang kesabaran serta marah. Engkau telah dewasa anakku. Asahlah kesabaranmu, karena itu adalah salah satu kunci untuk meraih suksesmu.”
Mendengar itu segera si anak bersimpuh di kedua kaki ayahnya meminta maaf, atas apa yg telah ia perbuat.
Bahan dikutip dan diedit dari internet
Saat waktu telah menyergapku, badanku menjadi renta, tidak sekuat dulu lagi.
Kaki terkadang terasa tak kuat lagi menopang badanku yang sudah menjadi lebih kurus.
Tangan terkadang gemetar tak bertenaga, tanpa dapat kucegah, sehingga piring atau gelas jatuh dan pecah. Isinya tumpah.
Aku berharap saat itu anakku mau bersabar terhadap diriku.
Alexander Sindoro
Suatu sore hari di suatu desa kecil, tampak seorang lelaki yang sudah cukup berumur duduk di halaman rumahnya. Di sampingnya terlihat anaknya, seorang pemuda yang minggu yang lulus dari perguruan tinggi ternama. Mereka duduk berbincang-bincang mengenai apa yang akan dilakukan oleh pemuda itu.
Tiba-tiba terlihat seekor burung hinggap di ranting pohon tak jauh dari situ. Si ayah lalu menudingkan jari ke arah burung itu sambil bertanya, “Nak, apakah benda hitam itu?” “Burung gagak,” jawab si anak.
Ayah mengangguk-anggukkan kepala, namun tak berapa lama kemudian, ayah mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu menjawab dengan sedikit keras, “Itu burung gagak, ayah!”
Tetapi tak berapa lama si ayah kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama. Si anak merasa sedikit bingung dengan pertanyaan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan suara keras, “BURUNG GAGAK!!” Si ayah terdiam seketika.
Tidak lama kemudian, sang ayah sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama, hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada tinggi dan kesal kepada sang ayah, “Itu gagak, ayah!”
Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah. “Ayah!!! Saya tak tahu ayah paham atau tidak. Sudah 5 kali ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang ayah mau saya katakan???? Itu burung gagak, ayah ….., burung gagaaak!”, bentak si anak dengan nada yang begitu marah.
Kemudian si ayah lalu bangun, berjalan ke dalam rumah, meninggalkan si anak yang kebingungan. Tak lama si ayah keluar lagi sambil memegang sebuah buku di tangannya. Ternyata buku tersebut adalah sebuah buku harian yang sudah tua. Dibukanya buku itu, dibalik-balik dan kemudian mengulurkan kepada anaknya dan berkata, “Coba kau bacakan dengan suara keras, apa yang ayah tulis di dalam buku harian ini.”
“Tadi sore aku bermain di halaman dengan anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Melihat itu anakku menunjuk ke arah gagak dan bertanya, ‘Ayah, apa itu?’ Dan aku menjawab, ‘Burung gagak, nak.’ Rupanya anakku belum puas, dia bertanya lagi, dan lagi, dan lagi, mungkin sampai lebih dari 25 kali. Aku bersabar untuk tetap menjawabnya. Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.”
Suara si anak semakin lama semakin perlahan. Selesai membaca paragraf tersebut si anak tersipu malu, mengangkat muka memandang wajah ayahnya. Si ayah berkata dengan bersuara lembut, “Hari ini ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau telah hilang kesabaran serta marah. Engkau telah dewasa anakku. Asahlah kesabaranmu, karena itu adalah salah satu kunci untuk meraih suksesmu.”
Mendengar itu segera si anak bersimpuh di kedua kaki ayahnya meminta maaf, atas apa yg telah ia perbuat.
Bahan dikutip dan diedit dari internet
Saat waktu telah menyergapku, badanku menjadi renta, tidak sekuat dulu lagi.
Kaki terkadang terasa tak kuat lagi menopang badanku yang sudah menjadi lebih kurus.
Tangan terkadang gemetar tak bertenaga, tanpa dapat kucegah, sehingga piring atau gelas jatuh dan pecah. Isinya tumpah.
Aku berharap saat itu anakku mau bersabar terhadap diriku.
Alexander Sindoro
Nasehat Seorang Ibu
Nasihat Seorang Ibu
Suatu sore seorang anak gadis berkata pada ibunya, "Ibu, ibu selalu terlihat cantik. Aku ingin sepertimu. Beritahulah aku caranya."
Dengan tatapan lembut & senyum haru, sang ibu menjawab, "Untuk bibir yang menarik, ucapkanlah perkataan yang baik. Untuk lesung di pipi, tebarkanlah senyum ikhlas kepada siapa pun. Untuk mata yang indah menawan, lihatlah selalu kebaikan orang lain. Untuk tubuh yang langsing, sisihkanlah makanan untuk fakir miskin. Untuk jemari tangan yang lentik menawan, hitunglah kebajikan yang telah diperbuat orang lain kepadamu. Untuk wajah putih bercahaya, bersihkanlah kotoran batin.
Anakku, janganlah mendambakan atau membanggakan akan kecantikan fisik, karena itu akan pudar oleh waktu. Kecantikan perilaku tidak akan pudar, walaupun oleh kematian. Janganlah dandan berlebihan, karena itu hanya dilakukan oleh mereka yang tidak percaya diri.”
”Jika kamu BENAR, maka kamu tidak perlu marah. Jika kamu SALAH, maka kamu tidak berhak marah.”
”Kesabaran dengan keluarga adalah KASIH. Kesabaran dengan orang lain adalah HORMAT. Kesabaran dengan diri sendiri adalah KEYAKINAN. Kesabaran dengan TUHAN adalah IMAN.”
”Jangan terlalu mengingat masa lalu, karena itu akan membawa AIR MATA. Jangan terlalu memikirkan masa depan, karena itu akan mendatangkan KETAKUTAN. Jalani hidup saat ini dengan senyum, karena hal itu akan membawa KECERIAAN!”
”Setiap ujian dalam hidup ini bisa membuat kamu merasa pedih atau menjadi lebih baik. Setiap masalah yang timbul bisa menguatkan atau menghancurkan dirimu. Pilihan ada di tanganmu, apakah kamu akan memilih menjadi korban atau pemenang.”
”Carilah hati yang indah, bukan wajah yang cantik. Hal-hal yang indah tidak selalu baik, tapi hal-hal yang baik akan selalu indah.”
”Tahukah kamu, mengapa TUHAN menciptakan ruang antar jari tanganmu? Agar seseorang, yang menurutmu spesial, dapat datang dan mengisi ruang tersebut, dengan memegang tanganmu selamanya.”
Selamat berjuang menyemai dan menanam bibit-bibit kebajikan.
Ira Oei
Diedit dari artikel kiriman Endro Widagdo
Salam,
Alexander Sindoro
Suatu sore seorang anak gadis berkata pada ibunya, "Ibu, ibu selalu terlihat cantik. Aku ingin sepertimu. Beritahulah aku caranya."
Dengan tatapan lembut & senyum haru, sang ibu menjawab, "Untuk bibir yang menarik, ucapkanlah perkataan yang baik. Untuk lesung di pipi, tebarkanlah senyum ikhlas kepada siapa pun. Untuk mata yang indah menawan, lihatlah selalu kebaikan orang lain. Untuk tubuh yang langsing, sisihkanlah makanan untuk fakir miskin. Untuk jemari tangan yang lentik menawan, hitunglah kebajikan yang telah diperbuat orang lain kepadamu. Untuk wajah putih bercahaya, bersihkanlah kotoran batin.
Anakku, janganlah mendambakan atau membanggakan akan kecantikan fisik, karena itu akan pudar oleh waktu. Kecantikan perilaku tidak akan pudar, walaupun oleh kematian. Janganlah dandan berlebihan, karena itu hanya dilakukan oleh mereka yang tidak percaya diri.”
”Jika kamu BENAR, maka kamu tidak perlu marah. Jika kamu SALAH, maka kamu tidak berhak marah.”
”Kesabaran dengan keluarga adalah KASIH. Kesabaran dengan orang lain adalah HORMAT. Kesabaran dengan diri sendiri adalah KEYAKINAN. Kesabaran dengan TUHAN adalah IMAN.”
”Jangan terlalu mengingat masa lalu, karena itu akan membawa AIR MATA. Jangan terlalu memikirkan masa depan, karena itu akan mendatangkan KETAKUTAN. Jalani hidup saat ini dengan senyum, karena hal itu akan membawa KECERIAAN!”
”Setiap ujian dalam hidup ini bisa membuat kamu merasa pedih atau menjadi lebih baik. Setiap masalah yang timbul bisa menguatkan atau menghancurkan dirimu. Pilihan ada di tanganmu, apakah kamu akan memilih menjadi korban atau pemenang.”
”Carilah hati yang indah, bukan wajah yang cantik. Hal-hal yang indah tidak selalu baik, tapi hal-hal yang baik akan selalu indah.”
”Tahukah kamu, mengapa TUHAN menciptakan ruang antar jari tanganmu? Agar seseorang, yang menurutmu spesial, dapat datang dan mengisi ruang tersebut, dengan memegang tanganmu selamanya.”
Selamat berjuang menyemai dan menanam bibit-bibit kebajikan.
Ira Oei
Diedit dari artikel kiriman Endro Widagdo
Salam,
Alexander Sindoro
Keajaiban Lima Ribu Lima Ratus Lima Puluh Rupiah
Keajaiban Lima Ribu Lima Ratus Lima Puluh Rupiah
Entah dari mana inspirasi cerita ini dibuat, yang jelas sesuatu yang kita yakini di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.
Amel baru berumur sembilan tahun ketika dia mendengar ibu dan ayahnya sedang berbicara mengenai adik lelakinya, Heri. Heri sakit parah dan mereka telah melakukan apa pun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwa Heri. Akan tetapi, biaya operasi untuk menyelamatkan jiwa Heri amat mahal, di luar kemampuan kedua orang tua Amel. Amel mendengar ayahnya menghela napas panjang lalu berbisik kepada ibunya, "Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang."
Segera Amel pergi ke kamarnya dan mengambil celengan yang disembunyikannya di sudut lemari. Ia memecahkan celengan itu dan mengeluarkan semua isinya ke lantai. Kemudian dia menghitungnya dengan cermat. Diulangnya hitungan itu hingga lima kali. Dia tidak boleh salah menghitung.
Sambil membawa uang tersebut, Amel secara diam-diam menyelinap keluar rumah dan berjalan cepat ke apotik di sudut jalan. Setibanya di apotik tersebut, dia melihat seorang petugas paruh baya berambut sedikit memutih sedang menelepon. Saat itu tak ada orang lain di sana.
Amel menunggu dengan sabar sampai petugas itu memberi perhatian, tapi rupanya dia demikian asyik berbicara di telepon, sehingga sama sekali mengabaikan anak kecil yang berusia sembilan tahun itu. Amel berusaha menarik perhatian dengan berjalan mondar-mandir, mengangkat tangan, tapi gagal. Akhirnya dia mengambil sebuah uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase. Cring!
"Apa yang kamu lakukan, heh?" bentak petugas itu dengan suara marah. "Aku ini sedang berbicara dengan saudaraku." "Tapi, saya ingin berbicara kepada bapak mengenai adik saya," jawab Amel dengan nada yang sama. "Dia sakit, ... dan saya ingin membeli keajaiban." "Apa katamu?" tanya petugas tadi. "Ayah saya mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwanya sekarang, jadi berapa harga keajaiban?"
"Kami tidak menjual keajaiban, adik kecil. Aku tidak bisa menolongmu," ucap petugas tadi. "Pak, saya mempunyai uang untuk membeli keajaiban. Katakan saja berapa harganya," kata Amel. Saat itu tampak seorang laki-laki berpakaian rapi keluar dari balik ruang. Dia menghampiri Amel, jongkok, menatap matanya, dan bertanya, "Keajaiban macam apa yang dibutuhkan oleh adikmu, nak?"
"Saya ... tidak ... tahu," jawab Amel sambil menangis. Air mata mulai menetes di pipinya. "Saya hanya tahu dia sakit parah, ibu mengatakan bahwa Heri harus dioperasi. Tapi orang tua saya tidak mampu membayarnya karena biayanya sangat mahal. Tapi saya punya uang."
"Berapa uang yang kamu punya?" tanya laki-laki itu lagi. "Lima ribu lima ratus lima puluh rupiah," jawab Amel dengan mata berbinar-binar. "Dan itulah seluruh uang saya di dunia ini."
"Wah, kebetulan sekali," kata laki-laki itu sambil tersenyum. "Lima ribu lima ratus lima puluh rupiah ini harga yang tepat dan pas untuk membeli sebuah keajaiban yang dapat menolong adikmu." Dia mengambil uang tersebut, memasukkannya ke dalam saku dan kemudian memegang tangan Amel sambil berkata, "Bawalah saya kepada adikmu. Saya ingin bertemu dengannya, juga dengan orangtuamu."
Ternyata laki-laki itu adalah seorang dokter ahli bedah terkenal. Heri segera dibawa ke rumah sakit. Operasi dilakukan dan dalam waktu beberapa hari Heri dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat seperti sediakala. Orangtua Heri tidak dikenai biaya apa pun. Mereka sangat takjub mengalami keajaiban tersebut, mereka sungguh sangat bersyukur dan mengucapkan terima kasih tak putus-putusnya kepada dokter bedah tadi. "Operasi itu," bisik ibunya, "adalah suatu keajaiban. Tak terbayangkan berapa harganya." Mendengar bisikan itu Amel tersenyum. Hanya dia yang tahu secara pasti berapa harga keajaiban tersebut.
Lima ribu lima ratus lima puluh rupiah, ditambah dengan "keyakinan", dan sedikit campur tangan Sang Maha Pencipta.
Diedit dari http://situslakalaka.blogspot.com/2011/04/keajaiban-lima-ribu-lima-ratus-lima.html
Salam,
Alexander Sindoro
Entah dari mana inspirasi cerita ini dibuat, yang jelas sesuatu yang kita yakini di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.
Amel baru berumur sembilan tahun ketika dia mendengar ibu dan ayahnya sedang berbicara mengenai adik lelakinya, Heri. Heri sakit parah dan mereka telah melakukan apa pun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwa Heri. Akan tetapi, biaya operasi untuk menyelamatkan jiwa Heri amat mahal, di luar kemampuan kedua orang tua Amel. Amel mendengar ayahnya menghela napas panjang lalu berbisik kepada ibunya, "Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang."
Segera Amel pergi ke kamarnya dan mengambil celengan yang disembunyikannya di sudut lemari. Ia memecahkan celengan itu dan mengeluarkan semua isinya ke lantai. Kemudian dia menghitungnya dengan cermat. Diulangnya hitungan itu hingga lima kali. Dia tidak boleh salah menghitung.
Sambil membawa uang tersebut, Amel secara diam-diam menyelinap keluar rumah dan berjalan cepat ke apotik di sudut jalan. Setibanya di apotik tersebut, dia melihat seorang petugas paruh baya berambut sedikit memutih sedang menelepon. Saat itu tak ada orang lain di sana.
Amel menunggu dengan sabar sampai petugas itu memberi perhatian, tapi rupanya dia demikian asyik berbicara di telepon, sehingga sama sekali mengabaikan anak kecil yang berusia sembilan tahun itu. Amel berusaha menarik perhatian dengan berjalan mondar-mandir, mengangkat tangan, tapi gagal. Akhirnya dia mengambil sebuah uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase. Cring!
"Apa yang kamu lakukan, heh?" bentak petugas itu dengan suara marah. "Aku ini sedang berbicara dengan saudaraku." "Tapi, saya ingin berbicara kepada bapak mengenai adik saya," jawab Amel dengan nada yang sama. "Dia sakit, ... dan saya ingin membeli keajaiban." "Apa katamu?" tanya petugas tadi. "Ayah saya mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwanya sekarang, jadi berapa harga keajaiban?"
"Kami tidak menjual keajaiban, adik kecil. Aku tidak bisa menolongmu," ucap petugas tadi. "Pak, saya mempunyai uang untuk membeli keajaiban. Katakan saja berapa harganya," kata Amel. Saat itu tampak seorang laki-laki berpakaian rapi keluar dari balik ruang. Dia menghampiri Amel, jongkok, menatap matanya, dan bertanya, "Keajaiban macam apa yang dibutuhkan oleh adikmu, nak?"
"Saya ... tidak ... tahu," jawab Amel sambil menangis. Air mata mulai menetes di pipinya. "Saya hanya tahu dia sakit parah, ibu mengatakan bahwa Heri harus dioperasi. Tapi orang tua saya tidak mampu membayarnya karena biayanya sangat mahal. Tapi saya punya uang."
"Berapa uang yang kamu punya?" tanya laki-laki itu lagi. "Lima ribu lima ratus lima puluh rupiah," jawab Amel dengan mata berbinar-binar. "Dan itulah seluruh uang saya di dunia ini."
"Wah, kebetulan sekali," kata laki-laki itu sambil tersenyum. "Lima ribu lima ratus lima puluh rupiah ini harga yang tepat dan pas untuk membeli sebuah keajaiban yang dapat menolong adikmu." Dia mengambil uang tersebut, memasukkannya ke dalam saku dan kemudian memegang tangan Amel sambil berkata, "Bawalah saya kepada adikmu. Saya ingin bertemu dengannya, juga dengan orangtuamu."
Ternyata laki-laki itu adalah seorang dokter ahli bedah terkenal. Heri segera dibawa ke rumah sakit. Operasi dilakukan dan dalam waktu beberapa hari Heri dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat seperti sediakala. Orangtua Heri tidak dikenai biaya apa pun. Mereka sangat takjub mengalami keajaiban tersebut, mereka sungguh sangat bersyukur dan mengucapkan terima kasih tak putus-putusnya kepada dokter bedah tadi. "Operasi itu," bisik ibunya, "adalah suatu keajaiban. Tak terbayangkan berapa harganya." Mendengar bisikan itu Amel tersenyum. Hanya dia yang tahu secara pasti berapa harga keajaiban tersebut.
Lima ribu lima ratus lima puluh rupiah, ditambah dengan "keyakinan", dan sedikit campur tangan Sang Maha Pencipta.
Diedit dari http://situslakalaka.blogspot.com/2011/04/keajaiban-lima-ribu-lima-ratus-lima.html
Salam,
Alexander Sindoro
Mendengar Lebih Baik
Mendengar Lebih Baik
Suatu hari, seorang dari desa mengunjungi temannya di kota. Bunyi ribut mobil-mobil dan derap orang yang lalu-lalang sangat menganggu orang desa itu. Kedua orang itu kemudian berjalan-jalan dan tiba-tiba orang desa itu berhenti, menepuk pundak temannya dan berbisik, "Berhentilah sebentar. Apakah kamu mendengar suara yang kudengar?"
Teman kotanya itu menoleh ke arah orang desa itu sambil tersenyum, dan kemudian berkata, "Yang saya dengar hanyalah suara klakson mobil serta suara orang lalu-lalang. Apa yang kau dengar?"
"Ada seekor jangkrik di dekat sini dan saya bisa mendengar suara nyanyiannya." Teman dari kota itu mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Saya pikir kamu hanya bergurau. Tidak ada jangkrik di sini. Dan seandainya ada, bagaimana orang bisa mendengar suaranya di tengah kebisingan jalan ini? Jadi kamu pikir kamu bisa mendengarkan suara seekor jangkrik?"
Kata orang desa itu, "Ya! Ada satu ekor yang bernyanyi di sekitar sini, sekarang." Orang desa itu berjalan ke depan beberapa langkah, lalu berdiri di samping tembok suatu rumah. Di situ ada tanaman yang tumbuh merambat. Orang desa itu menyingkapkan beberapa helai daun, dan terlihat seekor jangkrik yang bernyanyi keras sekali.
Teman dari kota itu kini bisa melihat jangkrik itu, dan dia pun mulai bisa mendengarkan suara nyanyiannya. Ketika mereka kembali berjalan, orang kota itu berkata kepada teman desanya, "Kamu secara alami bisa mendengar lebih baik dari kami."
Orang desa itu tersenyum dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, "Saya tidak setuju dengan pendapatmu. Orang desa tidak bisa mendengar lebih baik daripada orang kota. Saya akan memperlihatkannya kepadamu!"
Lalu, orang desa itu mengambil uang logam dan menjatuhkannya di trotoar. Bunyi uang logam itu membuat banyak orang menoleh ke arahnya. Kemudian orang desa itu memungut uang logam itu dan menyimpannya kembali di kantongnya, dan kedua orang itu kembali berjalan.
Kata orang desa itu, "Tahukah kamu sobat, suara uang logam itu tidak lebih keras daripada nyanyian jangkrik tadi. Meski demikian, banyak orang kota mendengarnya dan menoleh ke arahnya. Di lain pihak, saya adalah satu-satunya orang yang mendengar suara jangkrik itu. Alasannya tentu bukan bahwa orang desa bisa mendengar lebih baik daripada orang kota. Bukan. Alasannya adalah bahwa kita selalu mendengar dengan lebih baik hal-hal yang biasanya kita perhatikan."
Sahabat, ...
Sering rutinitas pekerjaan membuat kita menjadi orang yang kehilangan hati nurani ... apalagi dalam situasi yang sulit, orang sering kehilangan arah. Semakin lama semakin tersesat dalam rimba kehidupan, sehingga orang tidak bisa lagi mendengarkan suara hati nuraninya sendiri, apa lagi suara TUHAN.
Mereka lebih melihat apa yang biasa dilihat dan lebih mendengarkan apa yang biasa dia dengar. Hati nuraninya menjadi tumpul, dan muncullah orang-orang yang suka menghalalkan segala cara. Mungkin hasil sementara bisa menyelesaikan masalah, tetapi hasil akhirnya pasti bisa ditebak, yaitu menuju ke sebuah titik yang namanya kehancuran.
Anjuran untuk hari ini adalah TETAPLAH MENDENGAR DENGAN HATI!!!
Diedit dari artikel di Internet
Alexander Sindoro
Suatu hari, seorang dari desa mengunjungi temannya di kota. Bunyi ribut mobil-mobil dan derap orang yang lalu-lalang sangat menganggu orang desa itu. Kedua orang itu kemudian berjalan-jalan dan tiba-tiba orang desa itu berhenti, menepuk pundak temannya dan berbisik, "Berhentilah sebentar. Apakah kamu mendengar suara yang kudengar?"
Teman kotanya itu menoleh ke arah orang desa itu sambil tersenyum, dan kemudian berkata, "Yang saya dengar hanyalah suara klakson mobil serta suara orang lalu-lalang. Apa yang kau dengar?"
"Ada seekor jangkrik di dekat sini dan saya bisa mendengar suara nyanyiannya." Teman dari kota itu mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Saya pikir kamu hanya bergurau. Tidak ada jangkrik di sini. Dan seandainya ada, bagaimana orang bisa mendengar suaranya di tengah kebisingan jalan ini? Jadi kamu pikir kamu bisa mendengarkan suara seekor jangkrik?"
Kata orang desa itu, "Ya! Ada satu ekor yang bernyanyi di sekitar sini, sekarang." Orang desa itu berjalan ke depan beberapa langkah, lalu berdiri di samping tembok suatu rumah. Di situ ada tanaman yang tumbuh merambat. Orang desa itu menyingkapkan beberapa helai daun, dan terlihat seekor jangkrik yang bernyanyi keras sekali.
Teman dari kota itu kini bisa melihat jangkrik itu, dan dia pun mulai bisa mendengarkan suara nyanyiannya. Ketika mereka kembali berjalan, orang kota itu berkata kepada teman desanya, "Kamu secara alami bisa mendengar lebih baik dari kami."
Orang desa itu tersenyum dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, "Saya tidak setuju dengan pendapatmu. Orang desa tidak bisa mendengar lebih baik daripada orang kota. Saya akan memperlihatkannya kepadamu!"
Lalu, orang desa itu mengambil uang logam dan menjatuhkannya di trotoar. Bunyi uang logam itu membuat banyak orang menoleh ke arahnya. Kemudian orang desa itu memungut uang logam itu dan menyimpannya kembali di kantongnya, dan kedua orang itu kembali berjalan.
Kata orang desa itu, "Tahukah kamu sobat, suara uang logam itu tidak lebih keras daripada nyanyian jangkrik tadi. Meski demikian, banyak orang kota mendengarnya dan menoleh ke arahnya. Di lain pihak, saya adalah satu-satunya orang yang mendengar suara jangkrik itu. Alasannya tentu bukan bahwa orang desa bisa mendengar lebih baik daripada orang kota. Bukan. Alasannya adalah bahwa kita selalu mendengar dengan lebih baik hal-hal yang biasanya kita perhatikan."
Sahabat, ...
Sering rutinitas pekerjaan membuat kita menjadi orang yang kehilangan hati nurani ... apalagi dalam situasi yang sulit, orang sering kehilangan arah. Semakin lama semakin tersesat dalam rimba kehidupan, sehingga orang tidak bisa lagi mendengarkan suara hati nuraninya sendiri, apa lagi suara TUHAN.
Mereka lebih melihat apa yang biasa dilihat dan lebih mendengarkan apa yang biasa dia dengar. Hati nuraninya menjadi tumpul, dan muncullah orang-orang yang suka menghalalkan segala cara. Mungkin hasil sementara bisa menyelesaikan masalah, tetapi hasil akhirnya pasti bisa ditebak, yaitu menuju ke sebuah titik yang namanya kehancuran.
Anjuran untuk hari ini adalah TETAPLAH MENDENGAR DENGAN HATI!!!
Diedit dari artikel di Internet
Alexander Sindoro
Mudah-mudahan Anda Tabah Menghadapinya
Mudah-mudahan Anda Tabah Menghadapinya
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Pak Untung adalah seorang yang ulet dan pekerja keras. Dia lahir dalam keluarga yang amat sederhana, sehingga sebelum dia sempat menamatkan sekolah di SMA, dia sudah harus bekerja membantu kedua orangtuanya. Berkat kepiawaian, keuletan, dan kejujurannya dia berhasil mempunyai sebuah warung ‘serba ada’ di sebuah kota besar. Suatu hari seorang pencuri berhasil masuk ke rumahnya dan membawa pulang sejumlah barang berharga seperti hp, komputer, uang, perhiasan, televisi. Tidak lama berselang dia dirampok saat akan meninggalkan bank. Dia mengambil uang dalam jumlah yang cukup besar, dan dia juga mengalami luka-luka akibat sambetan clurit perampok. Dua minggu setelah dia keluar dari rumah sakit, anak sulungnya jatuh dari motor karena ikut kebut-kebutan dengan temannya.
Kerabat, sahabat, dan kenalan pak Untung datang menengoknya setiap kali dia mengalami cobaan. Banyak di antara mereka yang menghibur dan membesarkan hati pak Untung, mendoakannya agar pak Untung dan keluarga tabah dalam menghadapi cobaan.
Memang biasanya kita beranggapan bahwa mereka yang mengalami kecelakaan, ketidakberuntungan, sakit, jatuh miskin, kematian orang yang dicintai, ditipu, kehilangan harta benda, dan berbagai kesedihan lain sebagai sedang mengalami cobaan. Apakah Anda sependapat?
Bagaimana dengan orang-orang yang sedang ‘naik daun’, seperti usaha berhasil, memperoleh rezeki ‘nomplok’, karier terus menanjak, berhasil dalam sekolah, pindah ke rumah baru yang lebih besar, dan mengalami banyak keberhasilan lain? Apakah mereka memperoleh berkah atau sedang diberi cobaan?
Saya berpendapat bahwa mereka juga sedang dicobai. Apakah mereka tetap berada di jalan yang lurus, tidak korupsi, bersikap adil ketika diizinkan untuk menjadi penguasa? Apakah mereka tidak menjadi sombong ketika pengetahuannya ditambah, ketika menjadi juara dalam perlombaan, ketika disanjung-sanjung oleh banyak orang? Apakah mereka tidak menjadi serakah bila diberi rezeki berlimpah? Apakah mereka tidak akan merendahkan orang lain bila menjadi orang terkenal? Apakah mereka masih mau bermurah hati, menolong mereka yang berkekurangan, berbagi rezeki, jujur, bila harta mereka semakin banyak?
Mungkin, cobaan dari Sang Maha Pencipta dengan memberikan ‘kelimpahan duniawi’ sebenarnya lebih berat dan membuat banyak orang yang ‘tergelincir’ dan ‘tidak lulus ujian’ dibandingkan dengan cobaan berupa musibah.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Alexander Sindoro
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Pak Untung adalah seorang yang ulet dan pekerja keras. Dia lahir dalam keluarga yang amat sederhana, sehingga sebelum dia sempat menamatkan sekolah di SMA, dia sudah harus bekerja membantu kedua orangtuanya. Berkat kepiawaian, keuletan, dan kejujurannya dia berhasil mempunyai sebuah warung ‘serba ada’ di sebuah kota besar. Suatu hari seorang pencuri berhasil masuk ke rumahnya dan membawa pulang sejumlah barang berharga seperti hp, komputer, uang, perhiasan, televisi. Tidak lama berselang dia dirampok saat akan meninggalkan bank. Dia mengambil uang dalam jumlah yang cukup besar, dan dia juga mengalami luka-luka akibat sambetan clurit perampok. Dua minggu setelah dia keluar dari rumah sakit, anak sulungnya jatuh dari motor karena ikut kebut-kebutan dengan temannya.
Kerabat, sahabat, dan kenalan pak Untung datang menengoknya setiap kali dia mengalami cobaan. Banyak di antara mereka yang menghibur dan membesarkan hati pak Untung, mendoakannya agar pak Untung dan keluarga tabah dalam menghadapi cobaan.
Memang biasanya kita beranggapan bahwa mereka yang mengalami kecelakaan, ketidakberuntungan, sakit, jatuh miskin, kematian orang yang dicintai, ditipu, kehilangan harta benda, dan berbagai kesedihan lain sebagai sedang mengalami cobaan. Apakah Anda sependapat?
Bagaimana dengan orang-orang yang sedang ‘naik daun’, seperti usaha berhasil, memperoleh rezeki ‘nomplok’, karier terus menanjak, berhasil dalam sekolah, pindah ke rumah baru yang lebih besar, dan mengalami banyak keberhasilan lain? Apakah mereka memperoleh berkah atau sedang diberi cobaan?
Saya berpendapat bahwa mereka juga sedang dicobai. Apakah mereka tetap berada di jalan yang lurus, tidak korupsi, bersikap adil ketika diizinkan untuk menjadi penguasa? Apakah mereka tidak menjadi sombong ketika pengetahuannya ditambah, ketika menjadi juara dalam perlombaan, ketika disanjung-sanjung oleh banyak orang? Apakah mereka tidak menjadi serakah bila diberi rezeki berlimpah? Apakah mereka tidak akan merendahkan orang lain bila menjadi orang terkenal? Apakah mereka masih mau bermurah hati, menolong mereka yang berkekurangan, berbagi rezeki, jujur, bila harta mereka semakin banyak?
Mungkin, cobaan dari Sang Maha Pencipta dengan memberikan ‘kelimpahan duniawi’ sebenarnya lebih berat dan membuat banyak orang yang ‘tergelincir’ dan ‘tidak lulus ujian’ dibandingkan dengan cobaan berupa musibah.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Alexander Sindoro
Atlit Tertua Di Olimpiade London 2012
ATLIT TERTUA DI OLIMPIADE LONDON 2012:
Atlet berkuda Jepang, Hiroshi Hoketsu, merupakan atlet tertua yang berlaga di Olimpiade 2012 di London dengan usia 71 tahun.
Keberadaannya di pentas olahraga paling bergengsi di dunia merupakan hasil dari pengorbanan yang luar biasa. Pengorbanan Hoketsu menjadi semakin istimewa mengingat lelaki seusianya biasanya tengah menikmati masa pensiunnya.
"Saya tak bisa bertemu istri saya, Motoko, selama lebih dari setahun," kata Hoketsu yang harus tinggal dan berlatih bersama kudanya, Whisper, di Aachen, Jerman sebagai persiapan untuk Olimpiade kali ini.
"Sulit untuk tinggal jauh dari rumah selama itu sebagai orang yang sudah tua dan saya berutang segalanya kepada istri saya atas kesabaran dan pengertiannya.”
Ini merupakan keikutsertaan Hoketsu yang ketiga di Olimpiade. Menariknya, penampilan pertamanya pada pesta olahraga sedunia ini dibuat pada 1964 di Tokyo di mana ia finis di posisi ke-40 pada nomor halang rintang.
Meski terus bangun pada pukul 5 setiap pagi untuk menunggang kuda, Hoketsu memutuskan berhenti bertanding dan menjadi pengusaha internasional yang sukses di bidang farmasi.
Setelah pensiun, Hoketsu merasakan kembali gairahnya untuk bertanding dan memilih nomor keserasian atas desakan istrinya dan ia berhasil lolos ke Olimpiade di Beijing empat tahun silam.
Hoketsu merupakan atlet Olimpiade tertua dalam 92 tahun terakhir sejak petembak asal Swedia, Oscar Swahn, yang meraih medali perunggu pada 72 tahun di Antwerp, Belgia pada 1920.
Hoketsu bisa memecahkan rekor itu jika ia kembali tampil di Olimpiade Rio de Janeiro pada 2016. "Istri saya menginginkan ini menjadi tahun terakhir saya dalam kompetisi dan mungkin itu yang terjadi," kata Hoketsu. "Tapi, saya masih merasa keahlian saya menunggang kuda semakin meningkat sedikit demi sedikit. Itulah motivasi saya. Saya menunggang dengan lebih baik pada usia 70 tahun daripada saat masih 40 tahun."
"TUA ADALAH PERSEPSI. Selama ada semangat, usia tidak menjadi penghalang utk berprestasi!"
Best regards,
Anthony Dio Martin
Atlet berkuda Jepang, Hiroshi Hoketsu, merupakan atlet tertua yang berlaga di Olimpiade 2012 di London dengan usia 71 tahun.
Keberadaannya di pentas olahraga paling bergengsi di dunia merupakan hasil dari pengorbanan yang luar biasa. Pengorbanan Hoketsu menjadi semakin istimewa mengingat lelaki seusianya biasanya tengah menikmati masa pensiunnya.
"Saya tak bisa bertemu istri saya, Motoko, selama lebih dari setahun," kata Hoketsu yang harus tinggal dan berlatih bersama kudanya, Whisper, di Aachen, Jerman sebagai persiapan untuk Olimpiade kali ini.
"Sulit untuk tinggal jauh dari rumah selama itu sebagai orang yang sudah tua dan saya berutang segalanya kepada istri saya atas kesabaran dan pengertiannya.”
Ini merupakan keikutsertaan Hoketsu yang ketiga di Olimpiade. Menariknya, penampilan pertamanya pada pesta olahraga sedunia ini dibuat pada 1964 di Tokyo di mana ia finis di posisi ke-40 pada nomor halang rintang.
Meski terus bangun pada pukul 5 setiap pagi untuk menunggang kuda, Hoketsu memutuskan berhenti bertanding dan menjadi pengusaha internasional yang sukses di bidang farmasi.
Setelah pensiun, Hoketsu merasakan kembali gairahnya untuk bertanding dan memilih nomor keserasian atas desakan istrinya dan ia berhasil lolos ke Olimpiade di Beijing empat tahun silam.
Hoketsu merupakan atlet Olimpiade tertua dalam 92 tahun terakhir sejak petembak asal Swedia, Oscar Swahn, yang meraih medali perunggu pada 72 tahun di Antwerp, Belgia pada 1920.
Hoketsu bisa memecahkan rekor itu jika ia kembali tampil di Olimpiade Rio de Janeiro pada 2016. "Istri saya menginginkan ini menjadi tahun terakhir saya dalam kompetisi dan mungkin itu yang terjadi," kata Hoketsu. "Tapi, saya masih merasa keahlian saya menunggang kuda semakin meningkat sedikit demi sedikit. Itulah motivasi saya. Saya menunggang dengan lebih baik pada usia 70 tahun daripada saat masih 40 tahun."
"TUA ADALAH PERSEPSI. Selama ada semangat, usia tidak menjadi penghalang utk berprestasi!"
Best regards,
Anthony Dio Martin
Kisah Li-Li dan Ibu Mertuanya
Kisah Li-Li dan Ibu Mertuanya
Hari itu adalah hari yang amat menggembirakan bagi Li-Li, dia menikah dengan pemuda idamannya, seorang petani yang rajin bekerja di desanya. Setelah menikah Li-Li tinggal di rumah mertuanya. Ayah mertuanya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Hanya dalam hitungan hari, jelas terlihat bahwa Li-Li tidak cocok dengan ibu mertuanya. Hampir segala tindakannya tidak berkenan bagi ibu mertuanya, sehingga hubungan keduanya semakin hari semakin meruncing. Pertengkaran sering terjadi antara mertua dan menantu ini. Suami Li-Li sedih melihat kenyataan itu, karena dia mencintai keduanya.
Enam bulan terasa bagaikan enam tahun dan Li-Li merasa tidak tahan lagi hidup serumah dengan ibu mertuanya. Saat Li-Li harus ke kota untuk membeli berbagai keperluan, dia mampir di tempat praktik seorang tabib kenalan ayahnya. Dengan sengit dia menceritakan bagaimana hubungannya dengan ibu mertuanya dan minta sang tabib untuk membuat ramuan racun untuk membunuh ibu mertuanya perlahan-lahan. Sang tabib, mendekatkan wajahnya dan menurunkan volume suaranya ketika memberi saran, ”Aku akan membuatkan ramuan rahasia. Masukkan sedikit bubuk ini dalam masakan yang harus kau siapkan sendiri untuk ibu mertuamu. Buatkan masakan yang lezat supaya dia tidak curiga. Selain itu, agar orang tidak curiga padamu, kamu harus bersikap baik kepada ibu mertuamu. Dengarkan dan lakukan nasihatnya, jangan membantah, sebab nanti dia tidak mau makan masakanmu.”
Dengan gembira Li-Li membawa ramuan dari sang tabib dan sesampai di rumah dia menyapa ibu mertuanya dengan sopan dan memberikan oleh-oleh dari kota. Hari demi hari berlalu, setiap hari Li-Li membuat masakan yang lezat untuk ibu mertuanya, dia menghormati ibu mertuanya, dan tidak membantah apa yang diperintahkannya. Ibu mertuanya juga mulai berubah, dia sayang terhadap Li-Li dan selalu memujinya di depan teman-temannya. Keadaan itu membuat Li-Li mulai mencintai ibu mertuanya. Suami Li-Li juga senang dengan perkembangan yang terjadi.
Beberapa bulan kemudian saat dia pergi ke kota lagi, Li-Li bergegas ke rumah tabib. Dia minta obat penawar racun kepada sang tabib, karena dia tidak menghendaki ibu mertua yang baik itu meninggal. Sang tabib mendekatkan wajah dan menurunkan volume suaranya, “Tidak usah khawatir. Aku memberikan ramuan penguat tubuh supaya ibu mertuamu menjadi lebih sehat. Racun itu ada dalam pikiranmu, tetapi sekarang sudah lenyap disapu oleh cinta.”
Pelajaran yang dapat ditarik dari sini adalah kalau kita berbuat baik kepada seseorang, besar kemungkinan orang itu akan membalas berbuat baik kepada kita, paling sedikit dia tidak akan membenci kita.
Alexander Sindoro
Hari itu adalah hari yang amat menggembirakan bagi Li-Li, dia menikah dengan pemuda idamannya, seorang petani yang rajin bekerja di desanya. Setelah menikah Li-Li tinggal di rumah mertuanya. Ayah mertuanya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Hanya dalam hitungan hari, jelas terlihat bahwa Li-Li tidak cocok dengan ibu mertuanya. Hampir segala tindakannya tidak berkenan bagi ibu mertuanya, sehingga hubungan keduanya semakin hari semakin meruncing. Pertengkaran sering terjadi antara mertua dan menantu ini. Suami Li-Li sedih melihat kenyataan itu, karena dia mencintai keduanya.
Enam bulan terasa bagaikan enam tahun dan Li-Li merasa tidak tahan lagi hidup serumah dengan ibu mertuanya. Saat Li-Li harus ke kota untuk membeli berbagai keperluan, dia mampir di tempat praktik seorang tabib kenalan ayahnya. Dengan sengit dia menceritakan bagaimana hubungannya dengan ibu mertuanya dan minta sang tabib untuk membuat ramuan racun untuk membunuh ibu mertuanya perlahan-lahan. Sang tabib, mendekatkan wajahnya dan menurunkan volume suaranya ketika memberi saran, ”Aku akan membuatkan ramuan rahasia. Masukkan sedikit bubuk ini dalam masakan yang harus kau siapkan sendiri untuk ibu mertuamu. Buatkan masakan yang lezat supaya dia tidak curiga. Selain itu, agar orang tidak curiga padamu, kamu harus bersikap baik kepada ibu mertuamu. Dengarkan dan lakukan nasihatnya, jangan membantah, sebab nanti dia tidak mau makan masakanmu.”
Dengan gembira Li-Li membawa ramuan dari sang tabib dan sesampai di rumah dia menyapa ibu mertuanya dengan sopan dan memberikan oleh-oleh dari kota. Hari demi hari berlalu, setiap hari Li-Li membuat masakan yang lezat untuk ibu mertuanya, dia menghormati ibu mertuanya, dan tidak membantah apa yang diperintahkannya. Ibu mertuanya juga mulai berubah, dia sayang terhadap Li-Li dan selalu memujinya di depan teman-temannya. Keadaan itu membuat Li-Li mulai mencintai ibu mertuanya. Suami Li-Li juga senang dengan perkembangan yang terjadi.
Beberapa bulan kemudian saat dia pergi ke kota lagi, Li-Li bergegas ke rumah tabib. Dia minta obat penawar racun kepada sang tabib, karena dia tidak menghendaki ibu mertua yang baik itu meninggal. Sang tabib mendekatkan wajah dan menurunkan volume suaranya, “Tidak usah khawatir. Aku memberikan ramuan penguat tubuh supaya ibu mertuamu menjadi lebih sehat. Racun itu ada dalam pikiranmu, tetapi sekarang sudah lenyap disapu oleh cinta.”
Pelajaran yang dapat ditarik dari sini adalah kalau kita berbuat baik kepada seseorang, besar kemungkinan orang itu akan membalas berbuat baik kepada kita, paling sedikit dia tidak akan membenci kita.
Alexander Sindoro
12 Falsafah Hidup Orang Jawa Untuk Membangun Kedamaian Hidup
12 Falsafah Hidup Orang Jawa Untuk Membangun Kedamaian Hidup
1. Urip Iku Urup
Hidup itu [bagaikan] nyala [api], hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita.
2. Memayu Hayuning Bawono, Ambrasta Dur Hangkoro
[Kita] harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.
3. Sura Dira Joyoningrat, Lebur Dening Pangastuti
Segala sifat keras hati, picik, angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.
4. Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bondho
[Kita bisa] berjuang tanpa perlu membawa massa, menang tanpa merendahkan/ mempermalukan, berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan/kekuatan/kekayaan/ keturunan, kaya tanpa didasari hal-hal yang bersifat materi.
5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
[Kita hendaknya] tidak gampang sakit hati tatkala musibah menimpa diri, tidak sedih [berkepanjangan] tatkala kehilangan sesuatu.
6. Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman
[Kita hendaknya] tidak mudah merasa heran, tidak mudah merasa menyesal, jangan mudah terkejut dengan sesuatu, tidak kolokan atau manja.
7. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan Lan Kemareman
[Kita hendaknya] tidak terobsesi atau terkungkung dengan kedudukan, materi dan kepuasan duniawi.
8. Ojo Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka
[Kita hendaknya] tidak merasa paling pandai/pintar agar tidak tersesat, tidak suka berbuat curang [ingkar] agar tidak celaka.
9. Ojo Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendho
[Kita hendaknya] tidak tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah dan tidak berpikir gamang/plin-plan agar tidak kendor niat dan kendor semangat.
10. Ojo Adigang, Adigung, Adiguno
[Kita hendaknya] tidak sombong saat sedang berkuasa, sedang populer/kaya, sedang jaya.
11. Alang Alang Dudu Aling Aling Margining Kautaman
Berbagai persoalan dalam hidup bukanlah penghambat jalan [menuju] ke kesempurnaan.
12. Sopo Weruh Ing Panuju Sasat Sugih Pager Wesi
Dalam kehidupan orang yang mempunyai cita-cita luhur, jalannya seakan tertuntun.
Diedit dari artikel kiriman Budi Sulistyo
Salam,
Alexander Sindoro
1. Urip Iku Urup
Hidup itu [bagaikan] nyala [api], hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita.
2. Memayu Hayuning Bawono, Ambrasta Dur Hangkoro
[Kita] harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.
3. Sura Dira Joyoningrat, Lebur Dening Pangastuti
Segala sifat keras hati, picik, angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.
4. Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bondho
[Kita bisa] berjuang tanpa perlu membawa massa, menang tanpa merendahkan/ mempermalukan, berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan/kekuatan/kekayaan/ keturunan, kaya tanpa didasari hal-hal yang bersifat materi.
5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
[Kita hendaknya] tidak gampang sakit hati tatkala musibah menimpa diri, tidak sedih [berkepanjangan] tatkala kehilangan sesuatu.
6. Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman
[Kita hendaknya] tidak mudah merasa heran, tidak mudah merasa menyesal, jangan mudah terkejut dengan sesuatu, tidak kolokan atau manja.
7. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan Lan Kemareman
[Kita hendaknya] tidak terobsesi atau terkungkung dengan kedudukan, materi dan kepuasan duniawi.
8. Ojo Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka
[Kita hendaknya] tidak merasa paling pandai/pintar agar tidak tersesat, tidak suka berbuat curang [ingkar] agar tidak celaka.
9. Ojo Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendho
[Kita hendaknya] tidak tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah dan tidak berpikir gamang/plin-plan agar tidak kendor niat dan kendor semangat.
10. Ojo Adigang, Adigung, Adiguno
[Kita hendaknya] tidak sombong saat sedang berkuasa, sedang populer/kaya, sedang jaya.
11. Alang Alang Dudu Aling Aling Margining Kautaman
Berbagai persoalan dalam hidup bukanlah penghambat jalan [menuju] ke kesempurnaan.
12. Sopo Weruh Ing Panuju Sasat Sugih Pager Wesi
Dalam kehidupan orang yang mempunyai cita-cita luhur, jalannya seakan tertuntun.
Diedit dari artikel kiriman Budi Sulistyo
Salam,
Alexander Sindoro
Meditasi
MEDITASI
Pada umumnya orangtua mendidik anak-anaknya untuk berdoa menurut agama masing-masing. Akan tetapi, mungkin jarang ada orangtua yang mengajari anaknya untuk bermediatasi. Barangkali sang orangtua juga tidak pernah, atau jarang bermeditasi. Menurut Wikipedia, meditasi adalah kegiatan mental terstruktur, dilakukan selama jangka waktu tertentu, untuk menganalisis, menarik kesimpulan, dan mengambil langkah-langkah lebih lanjut untuk menyikapi, menentukan tindakan atau penyelesaian masalah pribadi, hidup, dan perilaku.
Manfaat meditasi
Meditasi sering disalahartikan, dianggap sama dengan melamun sehingga dianggap hanya membuang-buang waktu dan tidak ada gunanya. Meditasi justru merupakan suatu tindakan sadar, karena orang yang melakukan meditasi paham akan apa yang sedang dia lakukan.
Manfaat meditasi, jika dilakukan dengan benar, adalah kesembuhan dari berbagai penyakit (terutama penyakit karena stres) dan merupakan anti-stres yang paling baik. Banyak peneliti dari dunia Barat yang sudah meneliti dan mengakui bahwa meditasi bermanfaat bagi manusia terutama untuk menyeimbangkan kehidupan jasmani dan rohani. Bila Anda secara rutin melakukan meditasi, organ-organ dan sel-sel tubuh akan mengalami keadaan baik dan bekerja lebih teratur. Anda akan menjadi lebih sabar dalam menghadapi berbagai cobaan hidup, mampu dan rela memaafkan kesalahan orang, dan lebih bisa memahami jalan pikiran orang lain.
Bagaimana orang bermeditasi?
Kita mohon rahmat apa yang kita harapkan dari meditasi ini. Bacalah Kitab Suci (apa pun agama Anda) sebagai bahan meditasi, berhenti sejenak untuk merenungkan dan meresapkan dalam hati. Kita dapat membaca sekali lagi perlahan-lahan dengan irama doa.
Mencoba menempatkan diri kita dalam kehadiran Tuhan. Tutup mata, kendurkan badan, pusatkan perhatikan pada pernapasan. Lewat pernapasan itu Tuhan hadir. Kalau Tuhan berkenan membuat kehadiran-Nya terasa, kita akan merasakan ketenangan dan damai yang mendalam. Kalau kita merasakan hal ini, tetaplah dalam posisi membuka diri, jangan bergerak, berkomunikasi diam dengan Tuhan sampai rasa itu hilang. Jangan mencoba membuat diri kita merasakan kehadiran Tuhan, itu tindakan keliru. Merasakan kehadiran-Nya adalah anugerah. Kita hanya perlu membuka hati pada kehendak-Nya.
Refleksikan teks Kitab Suci dengan kehidupan kita. Berbicaralah kepada Tuhan dari lubuk hati, sesuai dengan apa yang kita rasakan. Ucapkan syukur atas anugerah-Nya, serahkan diri ke Tangan-Nya, dan kita dapat mengakhiri meditasi kita.
Bahan-bahan yang dapat dipakai sebagai penuntun renungan
· Dapatkah Anda memberikan dua puluh macam jawaban atas pertanyaan “Siapakah saya?” Berbicaralah kepada Tuhan, mengapa Anda menjawab dengan kata-kata atau definisi itu. Apakah Anda mengalami kesulitan menjawab pertanyaan di atas?
· Kalau Anda diminta memilih dua buah kata yang menggambarkan diri Anda, apa kata yang Anda pilih? Berbicaralah kepada Tuhan, mengapa Anda memilih kata itu.
· Apa yang paling Anda senangi tentang diri Anda sendiri? Menurut Anda, apa yang paling disukai Tuhan dari diri Anda? Berbicaralah kepada Tuhan, mengapa Anda menduga demikian.
· Apa saja bakat yang Anda terima dari Tuhan? Bagaimana Anda menggunakan bakat tersebut? Apakah Anda sudah menggunakannya sesuai dengan kehendak Tuhan? Berbicaralah kepada Tuhan. Menurut Anda, apa yang Tuhan kehendaki dari bakat yang diberikan-Nya kepada Anda?
· Jika Anda diminta menilai diri sendiri, TANPA membandingkan dengan orang lain, seperti apa penilaian Anda? Berbicaralah kepada Tuhan, bagaimana kira-kira penilaian Tuhan terhadap Anda?
· Waktu kecil saya kagum melihat pemain sandiwara yang semuanya tampak cantik dan gagah. Sebaliknya saya takut sekali melihat reog Ponorogo yang “menyeramkan”. Setelah agak besar, saya baru menyadari bahwa pemain sandiwara dan pemain reog tampak sama dengan orang kebanyakan, bila tidak sedang bertugas. Apakah Anda mempunyai dua kepribadian, pribadi di panggung (“penampilan lahiriah”) dan di luar panggung (“di dalam hati”) , seperti pemain sandiwara? Apa perbedaannya? Berbicaralah kepada Tuhan, apa yang disukai Tuhan yang ada di “dalam hati” Anda?
· Di sebuah kelas Sekolah Dasar, dua anak duduk sebangku. Seorang anak rupanya mempunyai otak yang lebih “encer”, nilai ulangannya sering bagus, sehingga dia sering dipuji bu Guru, dijadikan contoh, akibatnya lama kelamaan anak ini menjadi sombong, malas belajar. Teman sebangkunya rupanya kurang sigap mengikuti pelajaran sekolah, tetapi semangat belajarnya besar sekali. Beberapa tahun kemudian di bangku kuliah, keadaan kedua anak tadi berbalikan, anak yang di SD pandai terpaksa drop out, sedangkan anak yang gigih belajar berhasil lulus dengan pujian.
Apakah Anda sudah berusaha untuk menjadi pribadi seperti diharapkan Tuhan, ataukah Anda menyia-nyiakan bakat yang dianugerahkan Tuhan kepada Anda? Berbicaralah kepada Tuhan, apa saja yang telah Anda lakukan, apa saja kesulitan yang Anda jumpai.
Dirangkum dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.
Salam,
Alexander Sindoro
Pada umumnya orangtua mendidik anak-anaknya untuk berdoa menurut agama masing-masing. Akan tetapi, mungkin jarang ada orangtua yang mengajari anaknya untuk bermediatasi. Barangkali sang orangtua juga tidak pernah, atau jarang bermeditasi. Menurut Wikipedia, meditasi adalah kegiatan mental terstruktur, dilakukan selama jangka waktu tertentu, untuk menganalisis, menarik kesimpulan, dan mengambil langkah-langkah lebih lanjut untuk menyikapi, menentukan tindakan atau penyelesaian masalah pribadi, hidup, dan perilaku.
Manfaat meditasi
Meditasi sering disalahartikan, dianggap sama dengan melamun sehingga dianggap hanya membuang-buang waktu dan tidak ada gunanya. Meditasi justru merupakan suatu tindakan sadar, karena orang yang melakukan meditasi paham akan apa yang sedang dia lakukan.
Manfaat meditasi, jika dilakukan dengan benar, adalah kesembuhan dari berbagai penyakit (terutama penyakit karena stres) dan merupakan anti-stres yang paling baik. Banyak peneliti dari dunia Barat yang sudah meneliti dan mengakui bahwa meditasi bermanfaat bagi manusia terutama untuk menyeimbangkan kehidupan jasmani dan rohani. Bila Anda secara rutin melakukan meditasi, organ-organ dan sel-sel tubuh akan mengalami keadaan baik dan bekerja lebih teratur. Anda akan menjadi lebih sabar dalam menghadapi berbagai cobaan hidup, mampu dan rela memaafkan kesalahan orang, dan lebih bisa memahami jalan pikiran orang lain.
Bagaimana orang bermeditasi?
Kita mohon rahmat apa yang kita harapkan dari meditasi ini. Bacalah Kitab Suci (apa pun agama Anda) sebagai bahan meditasi, berhenti sejenak untuk merenungkan dan meresapkan dalam hati. Kita dapat membaca sekali lagi perlahan-lahan dengan irama doa.
Mencoba menempatkan diri kita dalam kehadiran Tuhan. Tutup mata, kendurkan badan, pusatkan perhatikan pada pernapasan. Lewat pernapasan itu Tuhan hadir. Kalau Tuhan berkenan membuat kehadiran-Nya terasa, kita akan merasakan ketenangan dan damai yang mendalam. Kalau kita merasakan hal ini, tetaplah dalam posisi membuka diri, jangan bergerak, berkomunikasi diam dengan Tuhan sampai rasa itu hilang. Jangan mencoba membuat diri kita merasakan kehadiran Tuhan, itu tindakan keliru. Merasakan kehadiran-Nya adalah anugerah. Kita hanya perlu membuka hati pada kehendak-Nya.
Refleksikan teks Kitab Suci dengan kehidupan kita. Berbicaralah kepada Tuhan dari lubuk hati, sesuai dengan apa yang kita rasakan. Ucapkan syukur atas anugerah-Nya, serahkan diri ke Tangan-Nya, dan kita dapat mengakhiri meditasi kita.
Bahan-bahan yang dapat dipakai sebagai penuntun renungan
· Dapatkah Anda memberikan dua puluh macam jawaban atas pertanyaan “Siapakah saya?” Berbicaralah kepada Tuhan, mengapa Anda menjawab dengan kata-kata atau definisi itu. Apakah Anda mengalami kesulitan menjawab pertanyaan di atas?
· Kalau Anda diminta memilih dua buah kata yang menggambarkan diri Anda, apa kata yang Anda pilih? Berbicaralah kepada Tuhan, mengapa Anda memilih kata itu.
· Apa yang paling Anda senangi tentang diri Anda sendiri? Menurut Anda, apa yang paling disukai Tuhan dari diri Anda? Berbicaralah kepada Tuhan, mengapa Anda menduga demikian.
· Apa saja bakat yang Anda terima dari Tuhan? Bagaimana Anda menggunakan bakat tersebut? Apakah Anda sudah menggunakannya sesuai dengan kehendak Tuhan? Berbicaralah kepada Tuhan. Menurut Anda, apa yang Tuhan kehendaki dari bakat yang diberikan-Nya kepada Anda?
· Jika Anda diminta menilai diri sendiri, TANPA membandingkan dengan orang lain, seperti apa penilaian Anda? Berbicaralah kepada Tuhan, bagaimana kira-kira penilaian Tuhan terhadap Anda?
· Waktu kecil saya kagum melihat pemain sandiwara yang semuanya tampak cantik dan gagah. Sebaliknya saya takut sekali melihat reog Ponorogo yang “menyeramkan”. Setelah agak besar, saya baru menyadari bahwa pemain sandiwara dan pemain reog tampak sama dengan orang kebanyakan, bila tidak sedang bertugas. Apakah Anda mempunyai dua kepribadian, pribadi di panggung (“penampilan lahiriah”) dan di luar panggung (“di dalam hati”) , seperti pemain sandiwara? Apa perbedaannya? Berbicaralah kepada Tuhan, apa yang disukai Tuhan yang ada di “dalam hati” Anda?
· Di sebuah kelas Sekolah Dasar, dua anak duduk sebangku. Seorang anak rupanya mempunyai otak yang lebih “encer”, nilai ulangannya sering bagus, sehingga dia sering dipuji bu Guru, dijadikan contoh, akibatnya lama kelamaan anak ini menjadi sombong, malas belajar. Teman sebangkunya rupanya kurang sigap mengikuti pelajaran sekolah, tetapi semangat belajarnya besar sekali. Beberapa tahun kemudian di bangku kuliah, keadaan kedua anak tadi berbalikan, anak yang di SD pandai terpaksa drop out, sedangkan anak yang gigih belajar berhasil lulus dengan pujian.
Apakah Anda sudah berusaha untuk menjadi pribadi seperti diharapkan Tuhan, ataukah Anda menyia-nyiakan bakat yang dianugerahkan Tuhan kepada Anda? Berbicaralah kepada Tuhan, apa saja yang telah Anda lakukan, apa saja kesulitan yang Anda jumpai.
Dirangkum dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.
Salam,
Alexander Sindoro
Air Tuba dibalas dengan Air Susu
Air Tuba dibalas dengan Air Susu
Setelah Perang Dunia II berakhir, Jerman, sebagai negara yang kalah perang, dibagi menjadi 2, Jerman Timur (dikuasai oleh blok Timur) dan Jerman Barat (dikuasai oleh blok Barat). Berlin, ibukota Jerman sebelum perang, juga dibagi menjadi 2, walaupun letaknya di wilayah Jerman Timur. Untuk mencegah perpindahan penduduk dari Berlin Timur ke Berlin Barat, yang kehidupan ekonominya lebih baik, pemerintah Jerman Timur mulai tahun 13 Agustus 1961 membangun pemisah di sepanjang garis perbatasan. Mula-mula pemisah itu menggunakan kawat berduri, lama kelamaan dibangunlah tembok tinggi, Tembok Berlin, yang membelah kota Berlin menjadi 2 dan mengelilingi seluruh wilayah Berlin Barat. Akibatnya, Berlin Barat menjadi wilayah terisolasi yang dijalankan dengan perekonomian ala barat di wilayah Jerman Timur. Di sisi wilayah Timur dari tembok itu ada wilayah terlarang yang banyak ditanami ranjau.
Sebelum Tembok Berlin dengan segala perlengkapan perangnya itu berdiri, ada sebagian penduduk Berlin Timur yang iri hati dengan keadaan di Berlin Barat yang jauh lebih baik. Mereka beramai-ramai mengumpulkan sampah dan membuangnya melewati perbatasan ke wilayah Berlin Barat. Tindakan itu didukung oleh pihak militer di Berlin Timur untuk memprovokasi konflik Blok Timur dan Blok Barat.
Hal yang mengagumkan adalah reaksi dari penduduk Berlin Barat. Mereka tidak marah, apalagi membalas dengan membuang sampah ke wilayah Timur. Mereka mengumpulkan makanan, yang dilengkapi dengan spanduk, dan dilemparkan ke wilayah Timur. Tulisan di spanduk itu berbunyi, "Terima kasih atas pemberian yang kalian miliki. Kami hanya bisa memberikan apa yang kami miliki. Semoga bisa bermanfaat, Saudara sebangsaku"
Penduduk Berlin Timur yang mencoba untuk memprovokasi merasa sangat malu atas balasan yang diterima dari Saudara sebangsanya yang tinggal di Berlin Barat. Mereka berhenti melemparkan sampah ke wilayah Berlin Barat.
Pesan Moral
1. Kebencian tidak akan berakhir bila dibalas dengan kebencian. Kebencian baru akan berakhir bila dibalas dengan cinta kasih.
2. Membalas dendam hanya akan menurunkan derajat pelakunya menjadi serendah musuhnya. Saling balas hanya akan menimbulkan kebencian yang tidak ada akhirnya.
3. Memaafkan bukan tindakan yang lemah. Memaafkan adalah tindakan yang menunjukkan bahwa pelakunya kuat dan dewasa untuk memahami tingginya nilai kedamaian.
Diedit dari artikel di internet
Alexander Sindoro
Setelah Perang Dunia II berakhir, Jerman, sebagai negara yang kalah perang, dibagi menjadi 2, Jerman Timur (dikuasai oleh blok Timur) dan Jerman Barat (dikuasai oleh blok Barat). Berlin, ibukota Jerman sebelum perang, juga dibagi menjadi 2, walaupun letaknya di wilayah Jerman Timur. Untuk mencegah perpindahan penduduk dari Berlin Timur ke Berlin Barat, yang kehidupan ekonominya lebih baik, pemerintah Jerman Timur mulai tahun 13 Agustus 1961 membangun pemisah di sepanjang garis perbatasan. Mula-mula pemisah itu menggunakan kawat berduri, lama kelamaan dibangunlah tembok tinggi, Tembok Berlin, yang membelah kota Berlin menjadi 2 dan mengelilingi seluruh wilayah Berlin Barat. Akibatnya, Berlin Barat menjadi wilayah terisolasi yang dijalankan dengan perekonomian ala barat di wilayah Jerman Timur. Di sisi wilayah Timur dari tembok itu ada wilayah terlarang yang banyak ditanami ranjau.
Sebelum Tembok Berlin dengan segala perlengkapan perangnya itu berdiri, ada sebagian penduduk Berlin Timur yang iri hati dengan keadaan di Berlin Barat yang jauh lebih baik. Mereka beramai-ramai mengumpulkan sampah dan membuangnya melewati perbatasan ke wilayah Berlin Barat. Tindakan itu didukung oleh pihak militer di Berlin Timur untuk memprovokasi konflik Blok Timur dan Blok Barat.
Hal yang mengagumkan adalah reaksi dari penduduk Berlin Barat. Mereka tidak marah, apalagi membalas dengan membuang sampah ke wilayah Timur. Mereka mengumpulkan makanan, yang dilengkapi dengan spanduk, dan dilemparkan ke wilayah Timur. Tulisan di spanduk itu berbunyi, "Terima kasih atas pemberian yang kalian miliki. Kami hanya bisa memberikan apa yang kami miliki. Semoga bisa bermanfaat, Saudara sebangsaku"
Penduduk Berlin Timur yang mencoba untuk memprovokasi merasa sangat malu atas balasan yang diterima dari Saudara sebangsanya yang tinggal di Berlin Barat. Mereka berhenti melemparkan sampah ke wilayah Berlin Barat.
Pesan Moral
1. Kebencian tidak akan berakhir bila dibalas dengan kebencian. Kebencian baru akan berakhir bila dibalas dengan cinta kasih.
2. Membalas dendam hanya akan menurunkan derajat pelakunya menjadi serendah musuhnya. Saling balas hanya akan menimbulkan kebencian yang tidak ada akhirnya.
3. Memaafkan bukan tindakan yang lemah. Memaafkan adalah tindakan yang menunjukkan bahwa pelakunya kuat dan dewasa untuk memahami tingginya nilai kedamaian.
Diedit dari artikel di internet
Alexander Sindoro
Garam Kehidupan vs Telaga Hati
Garam Kehidupan vs Telaga Hati
Alkisah di sebuah kota kecil di kaki bukit, terlihat seorang pemuda dengan wajah murung, duduk termenung di sudut pasar sejak pagi hari. Menjelang siang ada seorang tua, yang masih terlihat amat sehat walaupun rambutnya sudah tampak putih, berjalan mendekatinya. Disapanya pemuda tadi, “Nak, mengapa kau seharian duduk termenung seorang diri?” “Saya memang sedang bingung, memikirkan masalah yang saya hadapi,” jawab pemuda tadi. “Kalau engkau percaya padaku, datanglah besok ke pondokku di balik bukit itu,” kata kakek itu sambil menunjuk ke arah bukit. “Mungkin aku bisa sedikit membantumu.” “Terima kasih, pak,” jawab pemuda tadi.
Keesokan harinya, pemuda itu pergi ke balik bukit untuk mencari kakek yang kemarin dijumpainya. Setelah cukup lama berjalan, dia melihat sebuah telaga yang cukup besar, airnya jernih. Ada sebuah rumah kecil yang dikelilingi oleh pepohonan rimbun. Udara di situ terasa sejuk, walaupun langit cerah. Sekali-sekali dia mendengar kicau burung di sana-sini. Dia merasakan pengaruh dari keasrian alam pada dirinya. Hatinya agak tentram melihat pemandangan itu.
Dari kejauhan dia melihat kakek yang kemarin dijumpainya sedang bekerja di halaman rumah, merawat tanaman di sekitar rumahnya. “Selamat datang anak muda,” sapa kakek itu. “Bagaimana keadaanmu hari ini? Lebih baikkah?” “Pak, terima kasih bapak mempedulikan saya. Saya ke mari mau mendengarkan nasihat bapak,” jawab pemuda itu. “Mari, silakan masuk.”
Mereka berdua berjalan ke arah pondok dan duduk di teras rumah. “Sebentar, nak,” kata kakek itu dan masuk ke dalam. Tak lama kemudian kakek itu keluar membawa nampan dengan dua buah gelas berisi air di atasnya. Diletakkannya sebuah gelas di depan pemuda itu dan satu lagi di dekat dia duduk. “Silakan diminum, nak,” kata kakek ini sambil berjalan masuk lagi menenteng nampan. Tanpa menunggu undangan kedua kalinya, pemuda itu langsung mengambil gelas dan meminum airnya. Akan tetapi, baru setengah teguk air masuk ke mulutnya, secara refleks dipalingkannya wajahnya ke arah halaman, dan “Bruuuur,” disemburkannya lagi air itu dan dia terbatuk-batuk. “Maaf, nak. Aku memang sudah pikun. Aku salah meletakkan gelasnya. Seharusnya itu untukku,” kata kakek itu sambil berbalik dan menyodorkan gelas yang satunya untuk tamunya. “Aku biasa minum air garam,” jelas kakek itu. Pemuda tadi agak ragu-ragu sebelum mengangkat gelas yang satunya, dan perlahan-lahan dia mencicipi air dalam gelas itu. Segar, dan dalam sekejap air itu diminum habis.
Setelah balik ke teras, kakek itu mengajak tamunya berjalan ke telaga. Dia menenteng sebuah bungkusan yang lumayan besar. Di jalan kakek ini bercerita tentang sekelumit hidupnya dan keprihatinannya tentang keadaan masyarakat dewasa ini. Di tepi telaga ada semacam darmaga kecil dari kayu. Mereka berdiri di situ dan kakek tadi meminta tamunya untuk menuangkan isi bungkusan, yang ternyata berisi garam, ke dalam telaga. Walaupun tidak memahami maksudnya, pemuda itu mengikuti permintaan kakek itu. Menggunakan sebatang tongkat, kakek itu mengaduk air di tempat pemuda tadi menuangkan garam. Beberapa saat kemudian dia mengambil air telaga menggunakan sebuah ember dan dia meminta pemuda tadi mencicipi rasanya. “Tawar dan segar,” katanya.
Dalam perjalanan pulang dari telaga ke rumahnya, sang kakek bercerita. “Aku memang dengan sengaja memasukkan 2 sendok garam ke dalam gelasmu. Bagaimana rasanya?” “Aneh, asin,” jawab pemuda itu. “Sadarkah kamu bahwa garam yang cukup banyak, mungkin 1 kg, bahkan lebih banyak lagi, tidak membuat air telaga menjadi asin. Sedangkan 2 sendok saja sudah membuat air dalam gelas menjadi asin. Kalau engkau menghadapi masalah kehidupan, seperti garam, hadapilah dengan hati yang seperti air telaga. Semakin luas hatimu dapat menerima garam kehidupan, semakin engkau terbebas dari kepahitan hidup. Bersyukurlah kepada-Nya atas segala anugerah yang telah kau terima. Ikhlaslah menerima cobaan dari-Nya, tetapi jangan lupa mohon kekuatan dari-Nya agar engkau berhasil melewati cobaan.”
Dengan pembukaan seperti itu berbagai nasihat praktis sang kakek untuk mengatasi masalahnya menjadi jauh lebih mudah diterima oleh pemuda tadi.
Diedit dari artikel tulisan Feri Susanto di internet
Alexander Sindoro
Alkisah di sebuah kota kecil di kaki bukit, terlihat seorang pemuda dengan wajah murung, duduk termenung di sudut pasar sejak pagi hari. Menjelang siang ada seorang tua, yang masih terlihat amat sehat walaupun rambutnya sudah tampak putih, berjalan mendekatinya. Disapanya pemuda tadi, “Nak, mengapa kau seharian duduk termenung seorang diri?” “Saya memang sedang bingung, memikirkan masalah yang saya hadapi,” jawab pemuda tadi. “Kalau engkau percaya padaku, datanglah besok ke pondokku di balik bukit itu,” kata kakek itu sambil menunjuk ke arah bukit. “Mungkin aku bisa sedikit membantumu.” “Terima kasih, pak,” jawab pemuda tadi.
Keesokan harinya, pemuda itu pergi ke balik bukit untuk mencari kakek yang kemarin dijumpainya. Setelah cukup lama berjalan, dia melihat sebuah telaga yang cukup besar, airnya jernih. Ada sebuah rumah kecil yang dikelilingi oleh pepohonan rimbun. Udara di situ terasa sejuk, walaupun langit cerah. Sekali-sekali dia mendengar kicau burung di sana-sini. Dia merasakan pengaruh dari keasrian alam pada dirinya. Hatinya agak tentram melihat pemandangan itu.
Dari kejauhan dia melihat kakek yang kemarin dijumpainya sedang bekerja di halaman rumah, merawat tanaman di sekitar rumahnya. “Selamat datang anak muda,” sapa kakek itu. “Bagaimana keadaanmu hari ini? Lebih baikkah?” “Pak, terima kasih bapak mempedulikan saya. Saya ke mari mau mendengarkan nasihat bapak,” jawab pemuda itu. “Mari, silakan masuk.”
Mereka berdua berjalan ke arah pondok dan duduk di teras rumah. “Sebentar, nak,” kata kakek itu dan masuk ke dalam. Tak lama kemudian kakek itu keluar membawa nampan dengan dua buah gelas berisi air di atasnya. Diletakkannya sebuah gelas di depan pemuda itu dan satu lagi di dekat dia duduk. “Silakan diminum, nak,” kata kakek ini sambil berjalan masuk lagi menenteng nampan. Tanpa menunggu undangan kedua kalinya, pemuda itu langsung mengambil gelas dan meminum airnya. Akan tetapi, baru setengah teguk air masuk ke mulutnya, secara refleks dipalingkannya wajahnya ke arah halaman, dan “Bruuuur,” disemburkannya lagi air itu dan dia terbatuk-batuk. “Maaf, nak. Aku memang sudah pikun. Aku salah meletakkan gelasnya. Seharusnya itu untukku,” kata kakek itu sambil berbalik dan menyodorkan gelas yang satunya untuk tamunya. “Aku biasa minum air garam,” jelas kakek itu. Pemuda tadi agak ragu-ragu sebelum mengangkat gelas yang satunya, dan perlahan-lahan dia mencicipi air dalam gelas itu. Segar, dan dalam sekejap air itu diminum habis.
Setelah balik ke teras, kakek itu mengajak tamunya berjalan ke telaga. Dia menenteng sebuah bungkusan yang lumayan besar. Di jalan kakek ini bercerita tentang sekelumit hidupnya dan keprihatinannya tentang keadaan masyarakat dewasa ini. Di tepi telaga ada semacam darmaga kecil dari kayu. Mereka berdiri di situ dan kakek tadi meminta tamunya untuk menuangkan isi bungkusan, yang ternyata berisi garam, ke dalam telaga. Walaupun tidak memahami maksudnya, pemuda itu mengikuti permintaan kakek itu. Menggunakan sebatang tongkat, kakek itu mengaduk air di tempat pemuda tadi menuangkan garam. Beberapa saat kemudian dia mengambil air telaga menggunakan sebuah ember dan dia meminta pemuda tadi mencicipi rasanya. “Tawar dan segar,” katanya.
Dalam perjalanan pulang dari telaga ke rumahnya, sang kakek bercerita. “Aku memang dengan sengaja memasukkan 2 sendok garam ke dalam gelasmu. Bagaimana rasanya?” “Aneh, asin,” jawab pemuda itu. “Sadarkah kamu bahwa garam yang cukup banyak, mungkin 1 kg, bahkan lebih banyak lagi, tidak membuat air telaga menjadi asin. Sedangkan 2 sendok saja sudah membuat air dalam gelas menjadi asin. Kalau engkau menghadapi masalah kehidupan, seperti garam, hadapilah dengan hati yang seperti air telaga. Semakin luas hatimu dapat menerima garam kehidupan, semakin engkau terbebas dari kepahitan hidup. Bersyukurlah kepada-Nya atas segala anugerah yang telah kau terima. Ikhlaslah menerima cobaan dari-Nya, tetapi jangan lupa mohon kekuatan dari-Nya agar engkau berhasil melewati cobaan.”
Dengan pembukaan seperti itu berbagai nasihat praktis sang kakek untuk mengatasi masalahnya menjadi jauh lebih mudah diterima oleh pemuda tadi.
Diedit dari artikel tulisan Feri Susanto di internet
Alexander Sindoro
Apa yang Hidup pasti akan Mati
Apa yang Hidup pasti akan Mati
Di zaman dahulu kala ada seorang raja bijaksana bernama Raja Asoka. Beliau memerintah dengan bijaksana dan adil, oleh karena itu rakyatnya merasa tentram. Raja Asoka mempunyai seorang adik yang mempunyai karakter jauh berbeda dari kakaknya. Oleh karena dia adalah adik seorang raja, dia memanfaatkan segala fasilitas yang bisa diperolehnya. Berbagai kehidupan gemerlap, sisi-sisi gelap duniawi, makan dan minum enak disukainya. Raja Asoka sedih melihat perangai adiknya dan ingin mengubahnya.
Setelah berunding dengan para penasihat dan orang-orang terdekatnya, Raja Asoka menjalankan siasat. Suatu hari dia masuk ke pemandian (zaman itu belum ada kamar mandi). Busana kebesaran dan mahkota diletakkannya di bangku dekat pintu masuk pemandian. Tak lama kemudian sang adik “dibawa” oleh orang-orang kepercayaan raja, “tidak sengaja” lewat di depan pemandian. Orang-orang yang mengiringinya mengatakan, “Coba lihat, itu busana raja. Tentu Andika amat pantas mengenakannya. Mengapa Andika tidak mencobanya? Dengan busana itu pasti Andika tampak tampan dan gagah.” Walaupun semula adik raja menolak, tetapi bujukan berulang-ulang menggoyahkan imannya dan dia mengenakan mahkota serta busana raja.
Saat itulah Raja Asoka keluar dari pemandian dan langsung membentaknya, “Apa yang kau lakukan? Kau bermaksud makar dan menggulingkan kekuasaanku? Pengawal, tangkap dia!” Langsung para pengawal menangkap adik raja, melucuti busana raja, membawanya ke depan raja, dan memerintahkannya untuk berlutut. Raja langsung mengadakan sidang pengadilan (belum ada jaksa, hakim, dan pembela). Keputusannya, walaupun dia adik raja, dia harus dihukum mati. Sang adik terkejut luar biasa. Dia mengatakan bahwa dia dibujuk oleh orang-orang yang berjalan bersama dengannya untuk mengenakan busana raja, sama sekali tidak ada maksud jahat dibalik itu. Akan tetapi, keputusan raja tidak berubah, hukuman harus dilaksanakan. Hanya sebagai “hak istinewa” dia diperkenankan untuk menikmati segala kemewahan di istana, termasuk selir raja, selama seminggu.
Seminggu kemudian, di pagi hari raja memerintahkan agar adiknya dibawa menghadap. “Apakah engkau sudah menikmati segala kemewahan istana selama seminggu ini?” tanya sang raja. “Bagaimana hamba bisa menikmatinya, karena hamba tahu hari ini hamba akan dihukum mati. Tidur pun tak nyenyak,” jawab adiknya.
Raja tersenyum, menyuruh semua pengawal pergi dan menjelaskan maksudnya untuk mengubah perangai adiknya. Sejak saat itu perangai adiknya berubah, dia lebih memikirkan orang lain, bukan hanya egonya sendiri.
Ketika seseorang mengetahui kapan dia akan mati, biasanya dia akan merasa stres, sehingga tidak bisa menikmati hal-hal duniawi. Kita semua, saya dan Anda, suatu saat pasti akan mati. Biasanya, kita tidak tahu kapan, di mana, dan dengan cara apa kita akan mati. Alangkah baiknya, bila kita setiap pagi merenung bahwa ada kemungkinan hari ini kita akan mati. Oleh karena itu lakukan apa yang masih harus kita lakukan (hal-hal yang mendesak) tetapi belum. Kalau Anda merasa bersalah kepada seseorang, segeralah minta maaf, apalagi kalau orang itu adalah anggota keluarga. Kalau Anda berniat untuk membantu seseorang, bergegaslah mewujudkannya. Kalau Anda belum mencintai pasangan hidup Anda, putra-putri, orangtua lakukanlah segera, jangan ditunda-tunda, sebab menunda bisa berarti Anda tidak punya waktu lagi.
Diedit dari artikel tulisan Ajahn Brahm dalam buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya.
Catatan: tidak semua orang bisa dididik/disadarkan dengan cara di atas.
Salam,
Alexander Sindoro
Di zaman dahulu kala ada seorang raja bijaksana bernama Raja Asoka. Beliau memerintah dengan bijaksana dan adil, oleh karena itu rakyatnya merasa tentram. Raja Asoka mempunyai seorang adik yang mempunyai karakter jauh berbeda dari kakaknya. Oleh karena dia adalah adik seorang raja, dia memanfaatkan segala fasilitas yang bisa diperolehnya. Berbagai kehidupan gemerlap, sisi-sisi gelap duniawi, makan dan minum enak disukainya. Raja Asoka sedih melihat perangai adiknya dan ingin mengubahnya.
Setelah berunding dengan para penasihat dan orang-orang terdekatnya, Raja Asoka menjalankan siasat. Suatu hari dia masuk ke pemandian (zaman itu belum ada kamar mandi). Busana kebesaran dan mahkota diletakkannya di bangku dekat pintu masuk pemandian. Tak lama kemudian sang adik “dibawa” oleh orang-orang kepercayaan raja, “tidak sengaja” lewat di depan pemandian. Orang-orang yang mengiringinya mengatakan, “Coba lihat, itu busana raja. Tentu Andika amat pantas mengenakannya. Mengapa Andika tidak mencobanya? Dengan busana itu pasti Andika tampak tampan dan gagah.” Walaupun semula adik raja menolak, tetapi bujukan berulang-ulang menggoyahkan imannya dan dia mengenakan mahkota serta busana raja.
Saat itulah Raja Asoka keluar dari pemandian dan langsung membentaknya, “Apa yang kau lakukan? Kau bermaksud makar dan menggulingkan kekuasaanku? Pengawal, tangkap dia!” Langsung para pengawal menangkap adik raja, melucuti busana raja, membawanya ke depan raja, dan memerintahkannya untuk berlutut. Raja langsung mengadakan sidang pengadilan (belum ada jaksa, hakim, dan pembela). Keputusannya, walaupun dia adik raja, dia harus dihukum mati. Sang adik terkejut luar biasa. Dia mengatakan bahwa dia dibujuk oleh orang-orang yang berjalan bersama dengannya untuk mengenakan busana raja, sama sekali tidak ada maksud jahat dibalik itu. Akan tetapi, keputusan raja tidak berubah, hukuman harus dilaksanakan. Hanya sebagai “hak istinewa” dia diperkenankan untuk menikmati segala kemewahan di istana, termasuk selir raja, selama seminggu.
Seminggu kemudian, di pagi hari raja memerintahkan agar adiknya dibawa menghadap. “Apakah engkau sudah menikmati segala kemewahan istana selama seminggu ini?” tanya sang raja. “Bagaimana hamba bisa menikmatinya, karena hamba tahu hari ini hamba akan dihukum mati. Tidur pun tak nyenyak,” jawab adiknya.
Raja tersenyum, menyuruh semua pengawal pergi dan menjelaskan maksudnya untuk mengubah perangai adiknya. Sejak saat itu perangai adiknya berubah, dia lebih memikirkan orang lain, bukan hanya egonya sendiri.
Ketika seseorang mengetahui kapan dia akan mati, biasanya dia akan merasa stres, sehingga tidak bisa menikmati hal-hal duniawi. Kita semua, saya dan Anda, suatu saat pasti akan mati. Biasanya, kita tidak tahu kapan, di mana, dan dengan cara apa kita akan mati. Alangkah baiknya, bila kita setiap pagi merenung bahwa ada kemungkinan hari ini kita akan mati. Oleh karena itu lakukan apa yang masih harus kita lakukan (hal-hal yang mendesak) tetapi belum. Kalau Anda merasa bersalah kepada seseorang, segeralah minta maaf, apalagi kalau orang itu adalah anggota keluarga. Kalau Anda berniat untuk membantu seseorang, bergegaslah mewujudkannya. Kalau Anda belum mencintai pasangan hidup Anda, putra-putri, orangtua lakukanlah segera, jangan ditunda-tunda, sebab menunda bisa berarti Anda tidak punya waktu lagi.
Diedit dari artikel tulisan Ajahn Brahm dalam buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya.
Catatan: tidak semua orang bisa dididik/disadarkan dengan cara di atas.
Salam,
Alexander Sindoro
Tepung Terigu
KEAJAIBAN TEPUNG TERIGU
(berbagi ilmu yang bermanfaat)
Pada suatu hari saya memasak jagung dan menusukkan garpu ke jagung yang sedang direbus dalam air mendidih, untuk mengetahui apakah jagung itu sudah matang. Tetapi garpu itu meleset dan akibatnya tangan saya masuk ke dalam air mendidih itu.
Teman saya, seorang veteran tentara Vietnam, masuk ke dalam rumah ketika saya sedang menjerit kesakitan. Dia bertanya, apakah saya punya tepung terigu. Saya ambil sekantung terigu dan teman saya langsung memasukkan tangan saya yang terkena air panas itu ke kantung terigu itu. Dia mengatakan agar saya membiarkan tangan saya terendam tepung terigu selama 10 menit. Kemudian dia bercerita bahwa suatu ketika di Vietnam dia melihat ada orang yang terbakar. Semua orang yang melihat panik dan ada orang, entah siapa, yang melemparkan sekarung terigu ke tubuh orang itu untuk memadamkan api. Ternyata bukan saja apinya padam, tapi tubuh orang itu sama sekali tidak melepuh terkena api.
Mendengar cerita itu, saya membiarkan tangan saya selama 10 menit di dalam kantung terigu itu. Ketika saya menarik keluar tangan saya, kulit tangan saya sama sekali tidak ada yang merah atau melepuh, dan TIDAK SAKIT.
Sekarang saya selalu menyediakan sekantung tepung terigu di dalam lemari es. Setiap kali tangan saya terkena sesuatu yang panas, saya memasukkannya ke kantung terigu itu. Kulit saya tidak pernah satu kali pun menjadi merah, hitam, atau melepuh.
Tepung dingin terasa lebih enak/nyaman daripada tepung hangat (suhu kamar).
Mujizat. Simpanlah selalu sekantung tepung terigu di lemari es. Suatu saat Anda akan bersyukur bahwa ada terigu di sana. Ketika lidah saya terbakar minuman panas, saya bubuhi tepung terigu dan membiarkan tepung terigu tetap di lidah selama 10 menit. Ternyata sakitnya hilang dan tidak ada bekas terbakar. Cobalah.
Janganlah menyiram bagian tubuh yang terbakar (terkena benda panas) dengan air dingin dulu. Langsung masukkan dan rendam di kantung tepung terigu selama 10 menit, dan saksikanlah/ rasakanlah suatu keajaiban.
Anonim
Diedit dari artikel kiriman Magdalena Lumbantoruan
Alexander Sindoro
(berbagi ilmu yang bermanfaat)
Pada suatu hari saya memasak jagung dan menusukkan garpu ke jagung yang sedang direbus dalam air mendidih, untuk mengetahui apakah jagung itu sudah matang. Tetapi garpu itu meleset dan akibatnya tangan saya masuk ke dalam air mendidih itu.
Teman saya, seorang veteran tentara Vietnam, masuk ke dalam rumah ketika saya sedang menjerit kesakitan. Dia bertanya, apakah saya punya tepung terigu. Saya ambil sekantung terigu dan teman saya langsung memasukkan tangan saya yang terkena air panas itu ke kantung terigu itu. Dia mengatakan agar saya membiarkan tangan saya terendam tepung terigu selama 10 menit. Kemudian dia bercerita bahwa suatu ketika di Vietnam dia melihat ada orang yang terbakar. Semua orang yang melihat panik dan ada orang, entah siapa, yang melemparkan sekarung terigu ke tubuh orang itu untuk memadamkan api. Ternyata bukan saja apinya padam, tapi tubuh orang itu sama sekali tidak melepuh terkena api.
Mendengar cerita itu, saya membiarkan tangan saya selama 10 menit di dalam kantung terigu itu. Ketika saya menarik keluar tangan saya, kulit tangan saya sama sekali tidak ada yang merah atau melepuh, dan TIDAK SAKIT.
Sekarang saya selalu menyediakan sekantung tepung terigu di dalam lemari es. Setiap kali tangan saya terkena sesuatu yang panas, saya memasukkannya ke kantung terigu itu. Kulit saya tidak pernah satu kali pun menjadi merah, hitam, atau melepuh.
Tepung dingin terasa lebih enak/nyaman daripada tepung hangat (suhu kamar).
Mujizat. Simpanlah selalu sekantung tepung terigu di lemari es. Suatu saat Anda akan bersyukur bahwa ada terigu di sana. Ketika lidah saya terbakar minuman panas, saya bubuhi tepung terigu dan membiarkan tepung terigu tetap di lidah selama 10 menit. Ternyata sakitnya hilang dan tidak ada bekas terbakar. Cobalah.
Janganlah menyiram bagian tubuh yang terbakar (terkena benda panas) dengan air dingin dulu. Langsung masukkan dan rendam di kantung tepung terigu selama 10 menit, dan saksikanlah/ rasakanlah suatu keajaiban.
Anonim
Diedit dari artikel kiriman Magdalena Lumbantoruan
Alexander Sindoro
Uang Bicara
Uang Bicara
Namaku UANG! Wajahku biasa saja, fisikku juga lemah, namun aku mampu merombak tatanan dunia. Aku juga bisa mengatur negara. Coba saja lihat gejolak mata uang dunia, lihat kebangkrutan negara-negara anggota Uni Eropa satu per satu dan Anda akan tahu betapa besar kekuatanku, sehingga semua negara akan mengubah kebijakannya hanya karena aku.
Dulu seluruh dunia menganggap US dollar yang terhebat, selanjutnya Euro, dan sekarang Renminbi. Kepribadianku suka berubah-ubah, mataku susah diprediksi.
Aku juga "bisa" mengubah 'Perilaku, bahkan sifat Manusia', karena manusia mengidolakan aku. Banyak orang berubah kepribadiannya, mengkhianati teman, menjual tubuh, bahkan meninggalkan keyakinan imannya, demi aku!
Aku tidak mengerti perbedaan orang saleh dan orang bejat, tapi manusia memakai aku menjadi patokan derajat, menentukan kaya atau miskin dan dihormati atau dihina. Aku bukan iblis, tapi sering orang melakukan kekejian demi aku. Aku juga bukan orang ketiga, tapi banyak suami-istri bercerai gara-gara aku. Saudara kandung bertengkar dan bermusuhan atau anak dan orangtua berselisih gara-gara aku. Demi aku ada orang yang tega menjual anaknya; menculik anak orang lain; membunuh orang; mengkhianati keluarga; mencelakakan orang, dan aneka perbuatan rendah lainnya.
Sangat jelas juga bahwa aku bukan Tuhan, tapi manusia menyembah aku seperti Tuhan, bahkan kerap kali hamba-hamba Tuhan lebih menghormati aku daripada Tuhan sendiri, padahal Tuhan sudah berpesan agar manusia tidak menjadi hamba uang. Seharusnya aku melayani manusia, tapi kenapa malah manusia mau jadi budakku?
Aku tidak pernah mengorbankan diriku untuk siapa pun, tapi banyak orang rela mati demi aku. Perlu aku ingatkan, aku hanya bisa menjadi alat pembayar resep obat Anda, tapi tidak mampu memperpanjang hidup Anda.
Kalau suatu hari Anda dipanggil Tuhan, aku tidak akan bisa menemani Anda, apalagi menjadi penebus dosa-dosa Anda..., Anda sendiri yang harus menghadap ke depan Sang Pencipta, lalu menerima penghakimanNYA.
Saat itu, Tuhan pasti akan melakukan perhitungan dengan Anda, APAKAH SELAMA HIDUP ANDA MENGUNAKAN aku dengan baik, atau sebaliknya MENJADIKAN aku sebagai TUHAN Anda???
Ini informasi terakhirku: Aku TIDAK ADA DI SURGA!!! Jadi jangan mencari aku di sana yaah!
Diedit dari artikel kiriman MLT
Alexander Sindoro
Namaku UANG! Wajahku biasa saja, fisikku juga lemah, namun aku mampu merombak tatanan dunia. Aku juga bisa mengatur negara. Coba saja lihat gejolak mata uang dunia, lihat kebangkrutan negara-negara anggota Uni Eropa satu per satu dan Anda akan tahu betapa besar kekuatanku, sehingga semua negara akan mengubah kebijakannya hanya karena aku.
Dulu seluruh dunia menganggap US dollar yang terhebat, selanjutnya Euro, dan sekarang Renminbi. Kepribadianku suka berubah-ubah, mataku susah diprediksi.
Aku juga "bisa" mengubah 'Perilaku, bahkan sifat Manusia', karena manusia mengidolakan aku. Banyak orang berubah kepribadiannya, mengkhianati teman, menjual tubuh, bahkan meninggalkan keyakinan imannya, demi aku!
Aku tidak mengerti perbedaan orang saleh dan orang bejat, tapi manusia memakai aku menjadi patokan derajat, menentukan kaya atau miskin dan dihormati atau dihina. Aku bukan iblis, tapi sering orang melakukan kekejian demi aku. Aku juga bukan orang ketiga, tapi banyak suami-istri bercerai gara-gara aku. Saudara kandung bertengkar dan bermusuhan atau anak dan orangtua berselisih gara-gara aku. Demi aku ada orang yang tega menjual anaknya; menculik anak orang lain; membunuh orang; mengkhianati keluarga; mencelakakan orang, dan aneka perbuatan rendah lainnya.
Sangat jelas juga bahwa aku bukan Tuhan, tapi manusia menyembah aku seperti Tuhan, bahkan kerap kali hamba-hamba Tuhan lebih menghormati aku daripada Tuhan sendiri, padahal Tuhan sudah berpesan agar manusia tidak menjadi hamba uang. Seharusnya aku melayani manusia, tapi kenapa malah manusia mau jadi budakku?
Aku tidak pernah mengorbankan diriku untuk siapa pun, tapi banyak orang rela mati demi aku. Perlu aku ingatkan, aku hanya bisa menjadi alat pembayar resep obat Anda, tapi tidak mampu memperpanjang hidup Anda.
Kalau suatu hari Anda dipanggil Tuhan, aku tidak akan bisa menemani Anda, apalagi menjadi penebus dosa-dosa Anda..., Anda sendiri yang harus menghadap ke depan Sang Pencipta, lalu menerima penghakimanNYA.
Saat itu, Tuhan pasti akan melakukan perhitungan dengan Anda, APAKAH SELAMA HIDUP ANDA MENGUNAKAN aku dengan baik, atau sebaliknya MENJADIKAN aku sebagai TUHAN Anda???
Ini informasi terakhirku: Aku TIDAK ADA DI SURGA!!! Jadi jangan mencari aku di sana yaah!
Diedit dari artikel kiriman MLT
Alexander Sindoro
Monyet dan Angin
Monyet dan Angin
Di zaman dahulu kala, Angin Utara bertemu dengan Angin Timur, Angin Selatan, dan Angin Barat. Mereka saling membanggakan kekuatan masing-masing. Untuk menentukan siapa yang paling kuat mereka mencari objek untuk dijadikan sebagai bukti. Mereka melihat ada seekor monyet yang bergelayutan di sebuah pohon rambutan dan melahap buah rambutan yang kebetulan sedang berbuah lebat.
“Mari kita buktikan, siapa di antara kita yang paling kuat. Secara bergilir kita meniup selama 5 menit untuk menjatuhkan monyet itu. Syaratnya pohon itu dan pohon-pohon di sekitarnya tidak boleh ada yang tumbang,” kata Angin Utara. Semua setuju dengan usul itu.
Angin Utara meniup lebih dahulu, dengan kekuatan yang terukur agar tidak menumbangkan pohon. Monyet yang menjadi sasaran itu berpegang erat-erat di batang pohon. Lima menit berlalu, tetapi monyet itu tetap bertahan di pohon rambutan. Selanjutnya giliran Angin Timur, disusul oleh Angin Selatan, ternyata ketiganya gagal menjauhkan monyet tadi. Terakhir giliran Angin Barat. Angin Barat mulai dengan meniupkan angin sepoi-sepoi. Monyet itu, setelah cukup lelah berpegangan erat mempertahankan diri agar tidak jatuh, tampak mengantuk dengan tiupan angin sepoi-sepoi. Melihat kesempatan itu, Angin Barat tiba-tiba meniup dengan kuat dan lepaslah pegangan monyet, dan dia jatuh.
Ketika kita diuji dengan kesusahan, penderiaan, malapetaka, mungkin kita berusaha untuk menjadi lebih kuat agar tidak terjatuh dan berhasil melewati semua cobaan tadi. Akan tetapi, ketika kita diuji dengan kenikmatan, kesenangan, kelimpahan, kemakmuran, pujian, kekaguman, banyak orang yang kurang tahan uji. Kita mungkin jatuh dengan lupa pada orang-orang terdekat kita, lupa pada keluarga, lupa pada diri sendiri, lupa pada Tuhan. Saat kemakmuran datang, banyak “teman” baru datang “mengagumi” diri kita, membawa serta seribu satu godaan nan kemilau yang menyeret kita menjauh dari keluarga dan iman.
Oleh karena itu saat kita mengalami sukses dalam pekerjaan, jangan lalai untuk tetap meningkatkan kemampuan diri dengan inovasi, kreativitas, belajar dan belajar lagi. Jangan pernah puas dengan apa yang telah kita capai, sebab pengetahuan yang dapat kita pelajari amat luas. Kita dapat belajar dari siapa saja, dari alam, dari buku, dari teman, dari atasan, bahkan dari bawahan dan orang yang kita anggap “tidak terpelajar”. Jangan sampai kita menepuk dada, bangga pada keberhasilan usaha kita, menyepelekan pendapat orang lain, menganggap diri kita sendiri yang paling hebat, paling benar, paling pandai. Jangan pernah takabur.
Diedit dari tulisan Ariesandi di www.ariesandi.com
Salam,
Alexander Sindoro
Di zaman dahulu kala, Angin Utara bertemu dengan Angin Timur, Angin Selatan, dan Angin Barat. Mereka saling membanggakan kekuatan masing-masing. Untuk menentukan siapa yang paling kuat mereka mencari objek untuk dijadikan sebagai bukti. Mereka melihat ada seekor monyet yang bergelayutan di sebuah pohon rambutan dan melahap buah rambutan yang kebetulan sedang berbuah lebat.
“Mari kita buktikan, siapa di antara kita yang paling kuat. Secara bergilir kita meniup selama 5 menit untuk menjatuhkan monyet itu. Syaratnya pohon itu dan pohon-pohon di sekitarnya tidak boleh ada yang tumbang,” kata Angin Utara. Semua setuju dengan usul itu.
Angin Utara meniup lebih dahulu, dengan kekuatan yang terukur agar tidak menumbangkan pohon. Monyet yang menjadi sasaran itu berpegang erat-erat di batang pohon. Lima menit berlalu, tetapi monyet itu tetap bertahan di pohon rambutan. Selanjutnya giliran Angin Timur, disusul oleh Angin Selatan, ternyata ketiganya gagal menjauhkan monyet tadi. Terakhir giliran Angin Barat. Angin Barat mulai dengan meniupkan angin sepoi-sepoi. Monyet itu, setelah cukup lelah berpegangan erat mempertahankan diri agar tidak jatuh, tampak mengantuk dengan tiupan angin sepoi-sepoi. Melihat kesempatan itu, Angin Barat tiba-tiba meniup dengan kuat dan lepaslah pegangan monyet, dan dia jatuh.
Ketika kita diuji dengan kesusahan, penderiaan, malapetaka, mungkin kita berusaha untuk menjadi lebih kuat agar tidak terjatuh dan berhasil melewati semua cobaan tadi. Akan tetapi, ketika kita diuji dengan kenikmatan, kesenangan, kelimpahan, kemakmuran, pujian, kekaguman, banyak orang yang kurang tahan uji. Kita mungkin jatuh dengan lupa pada orang-orang terdekat kita, lupa pada keluarga, lupa pada diri sendiri, lupa pada Tuhan. Saat kemakmuran datang, banyak “teman” baru datang “mengagumi” diri kita, membawa serta seribu satu godaan nan kemilau yang menyeret kita menjauh dari keluarga dan iman.
Oleh karena itu saat kita mengalami sukses dalam pekerjaan, jangan lalai untuk tetap meningkatkan kemampuan diri dengan inovasi, kreativitas, belajar dan belajar lagi. Jangan pernah puas dengan apa yang telah kita capai, sebab pengetahuan yang dapat kita pelajari amat luas. Kita dapat belajar dari siapa saja, dari alam, dari buku, dari teman, dari atasan, bahkan dari bawahan dan orang yang kita anggap “tidak terpelajar”. Jangan sampai kita menepuk dada, bangga pada keberhasilan usaha kita, menyepelekan pendapat orang lain, menganggap diri kita sendiri yang paling hebat, paling benar, paling pandai. Jangan pernah takabur.
Diedit dari tulisan Ariesandi di www.ariesandi.com
Salam,
Alexander Sindoro
Filosofi Ular
FILOSOFI ULAR
Tahun 2013 ini, dirayakan sebagai tahun ular. Berbeda dengan peradaban barat yang cenderung melihat ular sebagai mahkluk dengan pandangan yang negatif, dalam penanggalan Timur khususnya di China, ular dipandang sebagai sisi feminim dari makhluk yang mirip tetapi lebih maskulin yakni naga. Karena itulah, dalam pandangan Timur ini, ular lebih diartikan sebagai perwujudan dari sifat-sifat ketenangan, kehati-hatian serta penuh pertimbangan sebelum melakukan sesuatu.
Namun, meski budaya tersebut melihat soal ular dari sisi yang lebih netral, bagaimanapun sulit kiranya melepaskan dari persepsi yang buruk soal ular. Ular seringkali digambarkan sebagai sosok yang menakutkan, licik serta penuh tipu muslihat. Bicara ular, rasanya tidak bisa kita lepaskan dari kisah Adam dan Hawa yang akhirnya berdosa, gara-gara seekor ular. Namun, kali ini, kita tidak akan mencoba melihat dari sisi negatifnya, tetapi, bagaimana melihat sisi “netral” binatang ini serta mengambil pembelajaran ular bagi motivasi kehidupan kita.
Belajar Filosofi Ular
Saya pernah menyaksikan kisah ular yang menarik di acara Animal Planet. Salah satu yang paling menarik adalah melihat bagaimana kisah ular besar disekitar wilayah gurun bersemak-semak di pegunungan di Amerika Latin.
Dikisahkan bagaimana ular-ular yang bertumbuh akhirnya akan mengalami masa pelepasan kulitnya beberapa kali. Berbeda dengan mahkluk yang punya tangan yang mungkin bisa mencopot bajunya, ular tidak bisa melakukannya. Karena itulah, hal paling menderita yang dilakukannya adalah membuat dirinya melewati semak-semak berduri dan membiarkan durinya menusuk tubuhnya lantas menarik lapisan kulit lamanya. Tak jarang, yang lepas bukan hanya kulitnya saja, tetapi sebagian tubuhnya pun terluka penuh baret karena duri-duri tajam tersebut. Dan hal ini berulang kali dilakukannya, hingga akhirnya kulitnya lepas sama sekali.
Dari sinilah saya melihat bahwa ada pelajaran kehidupan yang sebenarnya bisa kita petik. Pertama-tama adalah soal melepaskan kulit lama kita. Kadang-kadang kita terjebak dengan posisi, situasi ataupun kebiasaan lama. Akibatnya, sangatlah sulit bagi kita untuk melepaskannya serta keluar dari kondisi tersebut. Misalkan saja, ketika seorang karyawan memutuskan untuk menjadi seorang pebisnis. Ataupun, katakanlah yang lebih mudah yakni ketika seseorang yang lajang memutuskan ‘ganti kulit’ menjadi berstatus menikah. Semuanya tidak gampang, dan dibutuhkan keberanian serta pengorbanan untuk mengganti kulit itu. Karena itulah, mirip dengan kondisi tersebut, maka ularpun ‘mencemplungkan’ dirinya agar proses pergantian kulit itu terjadi. Dan disitulah proses rasa sakitnya dimulai. Seperti itu pula saat kita memasuki sesuatu yang baru, fase baru, situasi baru ataupun kebiasaan baru. Ada rasa tidak menyenangkan, rasa sakit, benturan dan gesekan, tetapi semuanya dibutuhkan sebagai bagian dari proses pendewasaan kita menjadi yang baru.
Karena itulah, dari pembelajaran filosofi yang pertama ini, janganlah melihat halangan serta rintangan sebagai sesuatu yang membuat kita frustrasi. Mirip seperti ular dalam contoh kita yang nekat melewati semak berduri itu, seharusnya semangat itu menjadi bagian dari kehidupan kita. Masalahnya, di ujung sebelah sana, setelah melewati semak berduri tersebut, si ular tahu bahwa ia akan memiliki kulit yang baru. Dan betul juga kan dalam kehidupan kita? Setelah melewati berbagai kesulitan bertubi-tubi dan tantangan, kitapun menjadi manusia baru yang ototnya jauh lebih kuat.
Pembelajaran terpenting kedua yang bisa dipetik dari ular adalah soal gerakannya. Dengan gambaran yang sangat saintifik, di acara Aminal Planet tersebut, saya melihat bagaimana proses yang memungkinkan ular yang tanpa kaki itu bergerak. Mungkin seperti yang Anda duga, ular bergerak dengan dua proses penting, merilekskan lantas mengkontraksikan (menegangkan) ototnya. Ternyata, gerakan inilah yang memungkinkan ular bergerak maju. Nah, saya rasa filofosi itu pula yang perlu menjadi pembejaran dalam kehidupan kita, untuk maju! Rileks melulu, terlalu santai, tidak membuat kita maju kemana-mana. Tetapi, teralalu tegang dan stresspun tidak membuat kita bergerak. Kemajuan terjadi akibat prpaduan antara rileks dan stress yang sehat (orang menyebutnya ‘eustress’).
Cobalah perhatikan orang yang terlalu santai dalam hidupnya, tanpa goal yang jelas dan tidak punya ambisi sama sekali. Akhirnya, kita melihat orang seperti ini tidak mengalami kemajuan yang berarti. Begitu pula, hal yang sama kita perhatikan pada orang yang terlalu bekerja keras tanpa punya kesempatan berisitirahat. Akhirnya kitapun sering melihat orang itu berada pada posisi yang itu-itu saja, kerja sangat keras tetapi tidak punya kemajuan oleh karena kerjaaanya adalah sebuah kerjaan rutinitas. Mereka tidak sempat lagi rileks untuk memikirkan: apakah yang saya lakukan selama ini efektif? Bisakah cara ini dibuat lebih baik? Bagaimana membuat kemjuan yang lebih berarti? Mereka tidak sempat lagi memikirkannya karena terjebak dalm kesibukan mereka. Demikianlah, gerakan ular ini emberikan kita inpsirasi bahwa kemajuan hanya terjadi ketika kita sanggup memadukan rileks dan stress kita.
Dan akhirnya, pembelajaran utama teakhir yang bisa diperoleh dari ular adalah soal reputasinya. Kalau kita baca dan lihat di TV, ternyata banyak fakta menarik tentang ular yang tidak kita ketahuai. Kebanyakan, ular terkait dengan reputasinya yang buruk. Padahal, diketahui ada sekitar 3000 jenis ular dan hanya 375 ular yang berbisa, jadi hanya sekitar 10% spesies ular yang betul-betul berbahaya. Tetapi, pada kebanyakan kita persepsi yang muncul adalah seakan-akan semua ular itu berbisa, atau lebih banyak berbisanya daripada yang tidak berbisa. Selain itu, diketahui bahwa ular adalah mahkluk yang penakut dan pendiam selama tidak diganggu. Lalu, faktanya dalam setahun lebih banyak orang yang mati karena gigitan lebah daripada karena digigit ular. Nah, mengapa berbagai persepsi ini muncul? Alasannya sederhana sekali sebuah reputasi yang jahat, lebih cepat tersebar daripada reputasi yang baik. Lagipula, suatu kesalahan bisa menutupi banyak kelebihan. Itulah fakta yang kita saksikan dalam kehidupan kita sehari-hari juga bukan?
Dengan demikian, fakta tentang ular inipun menjadi pelajaran soal pentingnya menjaga reputasi kita. Setiap kata, ucapan, perilaku hingga apa yang kita tuliskan, bisa merusak reputasi yang sudah kita bangun bertahun-tahun. Tahun lalu, kita belajar misalnya dari ‘kicauan’ salah satu politikus dan ahli hukum yang kemudian harus diralatnya kembali. Meskipun disertai permintaan maaf dan pernyataan bahwa hal tersebut ‘tidak disengaja dan tidak dimaksudkan untuk menghina’ tetapi, sebuah reputasinya telah dipertaruhkan hanya lewat beberapa kalimat yang dituliskan.
Semoga pembelajaran terakhir di filosofi ular kali ini mengajarkan kepada kita soal pentingnya menjaga reputasi sepanjang tahun ini. Harta yang lenyap bisa dicari, rumah yang hilang bisa dibeli, tetapi reputasi yang jatuh sulit untuk dikembalikan. Itulah pembelajaran yang bisa kita petik di tahun ular ini.
-Anthony Dio Martin
Tahun 2013 ini, dirayakan sebagai tahun ular. Berbeda dengan peradaban barat yang cenderung melihat ular sebagai mahkluk dengan pandangan yang negatif, dalam penanggalan Timur khususnya di China, ular dipandang sebagai sisi feminim dari makhluk yang mirip tetapi lebih maskulin yakni naga. Karena itulah, dalam pandangan Timur ini, ular lebih diartikan sebagai perwujudan dari sifat-sifat ketenangan, kehati-hatian serta penuh pertimbangan sebelum melakukan sesuatu.
Namun, meski budaya tersebut melihat soal ular dari sisi yang lebih netral, bagaimanapun sulit kiranya melepaskan dari persepsi yang buruk soal ular. Ular seringkali digambarkan sebagai sosok yang menakutkan, licik serta penuh tipu muslihat. Bicara ular, rasanya tidak bisa kita lepaskan dari kisah Adam dan Hawa yang akhirnya berdosa, gara-gara seekor ular. Namun, kali ini, kita tidak akan mencoba melihat dari sisi negatifnya, tetapi, bagaimana melihat sisi “netral” binatang ini serta mengambil pembelajaran ular bagi motivasi kehidupan kita.
Belajar Filosofi Ular
Saya pernah menyaksikan kisah ular yang menarik di acara Animal Planet. Salah satu yang paling menarik adalah melihat bagaimana kisah ular besar disekitar wilayah gurun bersemak-semak di pegunungan di Amerika Latin.
Dikisahkan bagaimana ular-ular yang bertumbuh akhirnya akan mengalami masa pelepasan kulitnya beberapa kali. Berbeda dengan mahkluk yang punya tangan yang mungkin bisa mencopot bajunya, ular tidak bisa melakukannya. Karena itulah, hal paling menderita yang dilakukannya adalah membuat dirinya melewati semak-semak berduri dan membiarkan durinya menusuk tubuhnya lantas menarik lapisan kulit lamanya. Tak jarang, yang lepas bukan hanya kulitnya saja, tetapi sebagian tubuhnya pun terluka penuh baret karena duri-duri tajam tersebut. Dan hal ini berulang kali dilakukannya, hingga akhirnya kulitnya lepas sama sekali.
Dari sinilah saya melihat bahwa ada pelajaran kehidupan yang sebenarnya bisa kita petik. Pertama-tama adalah soal melepaskan kulit lama kita. Kadang-kadang kita terjebak dengan posisi, situasi ataupun kebiasaan lama. Akibatnya, sangatlah sulit bagi kita untuk melepaskannya serta keluar dari kondisi tersebut. Misalkan saja, ketika seorang karyawan memutuskan untuk menjadi seorang pebisnis. Ataupun, katakanlah yang lebih mudah yakni ketika seseorang yang lajang memutuskan ‘ganti kulit’ menjadi berstatus menikah. Semuanya tidak gampang, dan dibutuhkan keberanian serta pengorbanan untuk mengganti kulit itu. Karena itulah, mirip dengan kondisi tersebut, maka ularpun ‘mencemplungkan’ dirinya agar proses pergantian kulit itu terjadi. Dan disitulah proses rasa sakitnya dimulai. Seperti itu pula saat kita memasuki sesuatu yang baru, fase baru, situasi baru ataupun kebiasaan baru. Ada rasa tidak menyenangkan, rasa sakit, benturan dan gesekan, tetapi semuanya dibutuhkan sebagai bagian dari proses pendewasaan kita menjadi yang baru.
Karena itulah, dari pembelajaran filosofi yang pertama ini, janganlah melihat halangan serta rintangan sebagai sesuatu yang membuat kita frustrasi. Mirip seperti ular dalam contoh kita yang nekat melewati semak berduri itu, seharusnya semangat itu menjadi bagian dari kehidupan kita. Masalahnya, di ujung sebelah sana, setelah melewati semak berduri tersebut, si ular tahu bahwa ia akan memiliki kulit yang baru. Dan betul juga kan dalam kehidupan kita? Setelah melewati berbagai kesulitan bertubi-tubi dan tantangan, kitapun menjadi manusia baru yang ototnya jauh lebih kuat.
Pembelajaran terpenting kedua yang bisa dipetik dari ular adalah soal gerakannya. Dengan gambaran yang sangat saintifik, di acara Aminal Planet tersebut, saya melihat bagaimana proses yang memungkinkan ular yang tanpa kaki itu bergerak. Mungkin seperti yang Anda duga, ular bergerak dengan dua proses penting, merilekskan lantas mengkontraksikan (menegangkan) ototnya. Ternyata, gerakan inilah yang memungkinkan ular bergerak maju. Nah, saya rasa filofosi itu pula yang perlu menjadi pembejaran dalam kehidupan kita, untuk maju! Rileks melulu, terlalu santai, tidak membuat kita maju kemana-mana. Tetapi, teralalu tegang dan stresspun tidak membuat kita bergerak. Kemajuan terjadi akibat prpaduan antara rileks dan stress yang sehat (orang menyebutnya ‘eustress’).
Cobalah perhatikan orang yang terlalu santai dalam hidupnya, tanpa goal yang jelas dan tidak punya ambisi sama sekali. Akhirnya, kita melihat orang seperti ini tidak mengalami kemajuan yang berarti. Begitu pula, hal yang sama kita perhatikan pada orang yang terlalu bekerja keras tanpa punya kesempatan berisitirahat. Akhirnya kitapun sering melihat orang itu berada pada posisi yang itu-itu saja, kerja sangat keras tetapi tidak punya kemajuan oleh karena kerjaaanya adalah sebuah kerjaan rutinitas. Mereka tidak sempat lagi rileks untuk memikirkan: apakah yang saya lakukan selama ini efektif? Bisakah cara ini dibuat lebih baik? Bagaimana membuat kemjuan yang lebih berarti? Mereka tidak sempat lagi memikirkannya karena terjebak dalm kesibukan mereka. Demikianlah, gerakan ular ini emberikan kita inpsirasi bahwa kemajuan hanya terjadi ketika kita sanggup memadukan rileks dan stress kita.
Dan akhirnya, pembelajaran utama teakhir yang bisa diperoleh dari ular adalah soal reputasinya. Kalau kita baca dan lihat di TV, ternyata banyak fakta menarik tentang ular yang tidak kita ketahuai. Kebanyakan, ular terkait dengan reputasinya yang buruk. Padahal, diketahui ada sekitar 3000 jenis ular dan hanya 375 ular yang berbisa, jadi hanya sekitar 10% spesies ular yang betul-betul berbahaya. Tetapi, pada kebanyakan kita persepsi yang muncul adalah seakan-akan semua ular itu berbisa, atau lebih banyak berbisanya daripada yang tidak berbisa. Selain itu, diketahui bahwa ular adalah mahkluk yang penakut dan pendiam selama tidak diganggu. Lalu, faktanya dalam setahun lebih banyak orang yang mati karena gigitan lebah daripada karena digigit ular. Nah, mengapa berbagai persepsi ini muncul? Alasannya sederhana sekali sebuah reputasi yang jahat, lebih cepat tersebar daripada reputasi yang baik. Lagipula, suatu kesalahan bisa menutupi banyak kelebihan. Itulah fakta yang kita saksikan dalam kehidupan kita sehari-hari juga bukan?
Dengan demikian, fakta tentang ular inipun menjadi pelajaran soal pentingnya menjaga reputasi kita. Setiap kata, ucapan, perilaku hingga apa yang kita tuliskan, bisa merusak reputasi yang sudah kita bangun bertahun-tahun. Tahun lalu, kita belajar misalnya dari ‘kicauan’ salah satu politikus dan ahli hukum yang kemudian harus diralatnya kembali. Meskipun disertai permintaan maaf dan pernyataan bahwa hal tersebut ‘tidak disengaja dan tidak dimaksudkan untuk menghina’ tetapi, sebuah reputasinya telah dipertaruhkan hanya lewat beberapa kalimat yang dituliskan.
Semoga pembelajaran terakhir di filosofi ular kali ini mengajarkan kepada kita soal pentingnya menjaga reputasi sepanjang tahun ini. Harta yang lenyap bisa dicari, rumah yang hilang bisa dibeli, tetapi reputasi yang jatuh sulit untuk dikembalikan. Itulah pembelajaran yang bisa kita petik di tahun ular ini.
-Anthony Dio Martin
Orang Asing (Stranger)
Orang Asing (Stranger)
Beberapa tahun setelah saya lahir, ayah saya bertemu dengan pendatang yang masih baru di kota kecil kami. Sejak awal, ayah amat terpesona dengan pendatang baru yang memikat ini dan dia mengundangnya untuk tinggal dalam keluarga kami. Orang asing ini dengan cepat diterima dan terus bersama kami sejak saat itu.
Saat saya semakin besar, saya tidak pernah mempertanyakan posisinya dalam keluarga saya. Dalam pikiran saya saat itu, dia adalah keluarga khusus.
Orangtua saya saling mengisi sebagai pengajar. Ibu mengajarkan kepada saya apa yang baik dan apa yang buruk, dan ayah membimbing saya untuk patuh. Tetapi orang asing ini ... dia adalah penutur cerita. Dia dapat membuat kami terpesona selama berjam-jam dengan kisah petualangan, misteri, dan komedi.
Bila saya ingin tahu apa pun mengenai politik, sejarah, atau ilmu pengetahuan, dia selalu mengetahui jawaban mengenai masa lalu, memahami apa yang terjadi sekarang, dan bahkan tampaknya dapat meramalkan apa yang akan terjadi! Dia membawa keluarga kami menyaksikan pertandingan sepakbola yang seru. Dia membuat saya tertawa, dia dapat pula membuat saya menangis. Dia tidak pernah berhenti berbicara, tetapi ayah tampaknya tidak keberatan.
Kadang-kadang, diam-diam ibu bangkit dari duduk dan berjalan ke dapur mencari tempat yang tenang, sedangkan kami saling mengingatkan untuk diam dan mendengarkan apa yang dikatakannya. Mungkin ibu berdoa agar dia pergi.
Ayah membuat aturan moral dalam rumah, tetapi dia tidak mematuhinya. Kami tidak boleh mengumpat dalam rumah, teman dan tamu juga pasti diingatkan. Tetapi pendatang ini dapat berkata-kata tidak senonoh, yang dapat membuat kami malu. Dia tidak ragu-ragu membuka aib, menceritakan perselingkuhan, perceraian, perseteruan, tindak kekerasan, dan permusuhan dari banyak orang. Kadang-kadang dia menganggap kami seakan-akan orang bodoh dengan cerita yang tidak masuk akal. Walaupun berulang kali nilai-nilai yang dikemukakannya berlawanan dengan keyakinan orangtua saya, tetapi dia jarang diomeli. ... Dan dia TIDAK PERNAH diusir dari rumah kami.
Lebih dari empat puluh tahun berlalu sejak dia masuk ke rumah kami. Dia sudah menyatu dan sekarang dia sudah tidak demikian memikat seperti di masa lalu. Akan tetapi, dia masih ada di rumah orangtua saya, duduk di tempatnya menunggu orang yang mau mendengarnya berbicara dan melihat dia menampilkan gambar.
Namanya? ... Kami menyebutnya TV.
Sekitar 15 tahun yang lalu dia punya istri, kami menyebutnya ‘Komputer’.
Anak pertama mereka adalah “Telepon Seluler”. Anak kedua “I Pod”. Belum lama berselang lahirlah cucu mereka: “IPAD”. Ada juga sepupu mereka yang disebut “Blackberry”.
Bagian yang menakutkan dari cerita ini adalah mereka amat subur dan periode “kehamilan”-nya semakin lama semakin pendek! Selain itu daya pikat generasi baru ini jauh lebih besar dibandingkan dengan pendahulunya. Ukuran yang kecil dapat dibawa ke mana-mana, kemampuan menampilkan gambar lebih dapat dipilih, pilihan gambar dan video (dan game!) jauh lebih banyak dan mempesona. Akibatnya mereka mendekatkan yang jauh, tapi MENJAUHKAN YANG DEKAT.
Catatan: Setiap rumah tangga perlu membaca ini!
Diterjemahkan dan diedit dari artikel berjudul Stranger kiriman MLT
Salam,
Alexander Sindoro
Beberapa tahun setelah saya lahir, ayah saya bertemu dengan pendatang yang masih baru di kota kecil kami. Sejak awal, ayah amat terpesona dengan pendatang baru yang memikat ini dan dia mengundangnya untuk tinggal dalam keluarga kami. Orang asing ini dengan cepat diterima dan terus bersama kami sejak saat itu.
Saat saya semakin besar, saya tidak pernah mempertanyakan posisinya dalam keluarga saya. Dalam pikiran saya saat itu, dia adalah keluarga khusus.
Orangtua saya saling mengisi sebagai pengajar. Ibu mengajarkan kepada saya apa yang baik dan apa yang buruk, dan ayah membimbing saya untuk patuh. Tetapi orang asing ini ... dia adalah penutur cerita. Dia dapat membuat kami terpesona selama berjam-jam dengan kisah petualangan, misteri, dan komedi.
Bila saya ingin tahu apa pun mengenai politik, sejarah, atau ilmu pengetahuan, dia selalu mengetahui jawaban mengenai masa lalu, memahami apa yang terjadi sekarang, dan bahkan tampaknya dapat meramalkan apa yang akan terjadi! Dia membawa keluarga kami menyaksikan pertandingan sepakbola yang seru. Dia membuat saya tertawa, dia dapat pula membuat saya menangis. Dia tidak pernah berhenti berbicara, tetapi ayah tampaknya tidak keberatan.
Kadang-kadang, diam-diam ibu bangkit dari duduk dan berjalan ke dapur mencari tempat yang tenang, sedangkan kami saling mengingatkan untuk diam dan mendengarkan apa yang dikatakannya. Mungkin ibu berdoa agar dia pergi.
Ayah membuat aturan moral dalam rumah, tetapi dia tidak mematuhinya. Kami tidak boleh mengumpat dalam rumah, teman dan tamu juga pasti diingatkan. Tetapi pendatang ini dapat berkata-kata tidak senonoh, yang dapat membuat kami malu. Dia tidak ragu-ragu membuka aib, menceritakan perselingkuhan, perceraian, perseteruan, tindak kekerasan, dan permusuhan dari banyak orang. Kadang-kadang dia menganggap kami seakan-akan orang bodoh dengan cerita yang tidak masuk akal. Walaupun berulang kali nilai-nilai yang dikemukakannya berlawanan dengan keyakinan orangtua saya, tetapi dia jarang diomeli. ... Dan dia TIDAK PERNAH diusir dari rumah kami.
Lebih dari empat puluh tahun berlalu sejak dia masuk ke rumah kami. Dia sudah menyatu dan sekarang dia sudah tidak demikian memikat seperti di masa lalu. Akan tetapi, dia masih ada di rumah orangtua saya, duduk di tempatnya menunggu orang yang mau mendengarnya berbicara dan melihat dia menampilkan gambar.
Namanya? ... Kami menyebutnya TV.
Sekitar 15 tahun yang lalu dia punya istri, kami menyebutnya ‘Komputer’.
Anak pertama mereka adalah “Telepon Seluler”. Anak kedua “I Pod”. Belum lama berselang lahirlah cucu mereka: “IPAD”. Ada juga sepupu mereka yang disebut “Blackberry”.
Bagian yang menakutkan dari cerita ini adalah mereka amat subur dan periode “kehamilan”-nya semakin lama semakin pendek! Selain itu daya pikat generasi baru ini jauh lebih besar dibandingkan dengan pendahulunya. Ukuran yang kecil dapat dibawa ke mana-mana, kemampuan menampilkan gambar lebih dapat dipilih, pilihan gambar dan video (dan game!) jauh lebih banyak dan mempesona. Akibatnya mereka mendekatkan yang jauh, tapi MENJAUHKAN YANG DEKAT.
Catatan: Setiap rumah tangga perlu membaca ini!
Diterjemahkan dan diedit dari artikel berjudul Stranger kiriman MLT
Salam,
Alexander Sindoro
Langganan:
Postingan (Atom)
