Kisah Li-Li dan Ibu Mertuanya
Hari itu adalah hari yang amat menggembirakan bagi Li-Li, dia menikah dengan pemuda idamannya, seorang petani yang rajin bekerja di desanya. Setelah menikah Li-Li tinggal di rumah mertuanya. Ayah mertuanya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Hanya dalam hitungan hari, jelas terlihat bahwa Li-Li tidak cocok dengan ibu mertuanya. Hampir segala tindakannya tidak berkenan bagi ibu mertuanya, sehingga hubungan keduanya semakin hari semakin meruncing. Pertengkaran sering terjadi antara mertua dan menantu ini. Suami Li-Li sedih melihat kenyataan itu, karena dia mencintai keduanya.
Enam bulan terasa bagaikan enam tahun dan Li-Li merasa tidak tahan lagi hidup serumah dengan ibu mertuanya. Saat Li-Li harus ke kota untuk membeli berbagai keperluan, dia mampir di tempat praktik seorang tabib kenalan ayahnya. Dengan sengit dia menceritakan bagaimana hubungannya dengan ibu mertuanya dan minta sang tabib untuk membuat ramuan racun untuk membunuh ibu mertuanya perlahan-lahan. Sang tabib, mendekatkan wajahnya dan menurunkan volume suaranya ketika memberi saran, ”Aku akan membuatkan ramuan rahasia. Masukkan sedikit bubuk ini dalam masakan yang harus kau siapkan sendiri untuk ibu mertuamu. Buatkan masakan yang lezat supaya dia tidak curiga. Selain itu, agar orang tidak curiga padamu, kamu harus bersikap baik kepada ibu mertuamu. Dengarkan dan lakukan nasihatnya, jangan membantah, sebab nanti dia tidak mau makan masakanmu.”
Dengan gembira Li-Li membawa ramuan dari sang tabib dan sesampai di rumah dia menyapa ibu mertuanya dengan sopan dan memberikan oleh-oleh dari kota. Hari demi hari berlalu, setiap hari Li-Li membuat masakan yang lezat untuk ibu mertuanya, dia menghormati ibu mertuanya, dan tidak membantah apa yang diperintahkannya. Ibu mertuanya juga mulai berubah, dia sayang terhadap Li-Li dan selalu memujinya di depan teman-temannya. Keadaan itu membuat Li-Li mulai mencintai ibu mertuanya. Suami Li-Li juga senang dengan perkembangan yang terjadi.
Beberapa bulan kemudian saat dia pergi ke kota lagi, Li-Li bergegas ke rumah tabib. Dia minta obat penawar racun kepada sang tabib, karena dia tidak menghendaki ibu mertua yang baik itu meninggal. Sang tabib mendekatkan wajah dan menurunkan volume suaranya, “Tidak usah khawatir. Aku memberikan ramuan penguat tubuh supaya ibu mertuamu menjadi lebih sehat. Racun itu ada dalam pikiranmu, tetapi sekarang sudah lenyap disapu oleh cinta.”
Pelajaran yang dapat ditarik dari sini adalah kalau kita berbuat baik kepada seseorang, besar kemungkinan orang itu akan membalas berbuat baik kepada kita, paling sedikit dia tidak akan membenci kita.
Alexander Sindoro
Tidak ada komentar:
Posting Komentar