MEDITASI
Pada umumnya orangtua mendidik anak-anaknya untuk berdoa menurut agama masing-masing. Akan tetapi, mungkin jarang ada orangtua yang mengajari anaknya untuk bermediatasi. Barangkali sang orangtua juga tidak pernah, atau jarang bermeditasi. Menurut Wikipedia, meditasi adalah kegiatan mental terstruktur, dilakukan selama jangka waktu tertentu, untuk menganalisis, menarik kesimpulan, dan mengambil langkah-langkah lebih lanjut untuk menyikapi, menentukan tindakan atau penyelesaian masalah pribadi, hidup, dan perilaku.
Manfaat meditasi
Meditasi sering disalahartikan, dianggap sama dengan melamun sehingga dianggap hanya membuang-buang waktu dan tidak ada gunanya. Meditasi justru merupakan suatu tindakan sadar, karena orang yang melakukan meditasi paham akan apa yang sedang dia lakukan.
Manfaat meditasi, jika dilakukan dengan benar, adalah kesembuhan dari berbagai penyakit (terutama penyakit karena stres) dan merupakan anti-stres yang paling baik. Banyak peneliti dari dunia Barat yang sudah meneliti dan mengakui bahwa meditasi bermanfaat bagi manusia terutama untuk menyeimbangkan kehidupan jasmani dan rohani. Bila Anda secara rutin melakukan meditasi, organ-organ dan sel-sel tubuh akan mengalami keadaan baik dan bekerja lebih teratur. Anda akan menjadi lebih sabar dalam menghadapi berbagai cobaan hidup, mampu dan rela memaafkan kesalahan orang, dan lebih bisa memahami jalan pikiran orang lain.
Bagaimana orang bermeditasi?
Kita mohon rahmat apa yang kita harapkan dari meditasi ini. Bacalah Kitab Suci (apa pun agama Anda) sebagai bahan meditasi, berhenti sejenak untuk merenungkan dan meresapkan dalam hati. Kita dapat membaca sekali lagi perlahan-lahan dengan irama doa.
Mencoba menempatkan diri kita dalam kehadiran Tuhan. Tutup mata, kendurkan badan, pusatkan perhatikan pada pernapasan. Lewat pernapasan itu Tuhan hadir. Kalau Tuhan berkenan membuat kehadiran-Nya terasa, kita akan merasakan ketenangan dan damai yang mendalam. Kalau kita merasakan hal ini, tetaplah dalam posisi membuka diri, jangan bergerak, berkomunikasi diam dengan Tuhan sampai rasa itu hilang. Jangan mencoba membuat diri kita merasakan kehadiran Tuhan, itu tindakan keliru. Merasakan kehadiran-Nya adalah anugerah. Kita hanya perlu membuka hati pada kehendak-Nya.
Refleksikan teks Kitab Suci dengan kehidupan kita. Berbicaralah kepada Tuhan dari lubuk hati, sesuai dengan apa yang kita rasakan. Ucapkan syukur atas anugerah-Nya, serahkan diri ke Tangan-Nya, dan kita dapat mengakhiri meditasi kita.
Bahan-bahan yang dapat dipakai sebagai penuntun renungan
· Dapatkah Anda memberikan dua puluh macam jawaban atas pertanyaan “Siapakah saya?” Berbicaralah kepada Tuhan, mengapa Anda menjawab dengan kata-kata atau definisi itu. Apakah Anda mengalami kesulitan menjawab pertanyaan di atas?
· Kalau Anda diminta memilih dua buah kata yang menggambarkan diri Anda, apa kata yang Anda pilih? Berbicaralah kepada Tuhan, mengapa Anda memilih kata itu.
· Apa yang paling Anda senangi tentang diri Anda sendiri? Menurut Anda, apa yang paling disukai Tuhan dari diri Anda? Berbicaralah kepada Tuhan, mengapa Anda menduga demikian.
· Apa saja bakat yang Anda terima dari Tuhan? Bagaimana Anda menggunakan bakat tersebut? Apakah Anda sudah menggunakannya sesuai dengan kehendak Tuhan? Berbicaralah kepada Tuhan. Menurut Anda, apa yang Tuhan kehendaki dari bakat yang diberikan-Nya kepada Anda?
· Jika Anda diminta menilai diri sendiri, TANPA membandingkan dengan orang lain, seperti apa penilaian Anda? Berbicaralah kepada Tuhan, bagaimana kira-kira penilaian Tuhan terhadap Anda?
· Waktu kecil saya kagum melihat pemain sandiwara yang semuanya tampak cantik dan gagah. Sebaliknya saya takut sekali melihat reog Ponorogo yang “menyeramkan”. Setelah agak besar, saya baru menyadari bahwa pemain sandiwara dan pemain reog tampak sama dengan orang kebanyakan, bila tidak sedang bertugas. Apakah Anda mempunyai dua kepribadian, pribadi di panggung (“penampilan lahiriah”) dan di luar panggung (“di dalam hati”) , seperti pemain sandiwara? Apa perbedaannya? Berbicaralah kepada Tuhan, apa yang disukai Tuhan yang ada di “dalam hati” Anda?
· Di sebuah kelas Sekolah Dasar, dua anak duduk sebangku. Seorang anak rupanya mempunyai otak yang lebih “encer”, nilai ulangannya sering bagus, sehingga dia sering dipuji bu Guru, dijadikan contoh, akibatnya lama kelamaan anak ini menjadi sombong, malas belajar. Teman sebangkunya rupanya kurang sigap mengikuti pelajaran sekolah, tetapi semangat belajarnya besar sekali. Beberapa tahun kemudian di bangku kuliah, keadaan kedua anak tadi berbalikan, anak yang di SD pandai terpaksa drop out, sedangkan anak yang gigih belajar berhasil lulus dengan pujian.
Apakah Anda sudah berusaha untuk menjadi pribadi seperti diharapkan Tuhan, ataukah Anda menyia-nyiakan bakat yang dianugerahkan Tuhan kepada Anda? Berbicaralah kepada Tuhan, apa saja yang telah Anda lakukan, apa saja kesulitan yang Anda jumpai.
Dirangkum dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.
Salam,
Alexander Sindoro
Tidak ada komentar:
Posting Komentar