Selasa, 15 Oktober 2013

Yang Paling

Yang Paling
 
Percakapan umat dan jawaban dari orang bijak.

1.  Apakah yang PALING TAJAM di dunia ini?
Umat menjawab dengan serentak, "Pedang."
Jawab orang bijak, “Yang paling tajam adalah lidah manusia, karena menggunakan lidah, manusia dengan mudah memfitnah orang, menyakiti hati, melukai perasaan orang.”

2.  Apa yang PALING JAUH dari diri kita di dunia ini?
Umat menjawab, "Antariksa, bulan, matahari."
Jawab orang bijak, “Yang paling jauh adalah masa lalu.  Siapa pun kita, bagaimana pun & betapa pun kayanya kita, tetap kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu.  Oleh sebab itu kita harus menjaga tingkah laku kita, perkataan kita hari ini & hari-hari yang akan datang, agar kita tidak menyesali masa lalu kita.”

3.  Apa yang PALING BESAR di dunia ini?
Umat menjawab, "Gunung, bumi, matahari.”                               
Jawab orang bijak, “Yang paling besar di dunia ini adalah nafsu.  Banyak manusia menjadi celaka karena menuruti hawa nafsunya.  Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi, oleh karena itu hati-hatilah dengan hawa nafsu!”

4.  Apa yang PALING BERAT di dunia ini?
Ada yang menjawab, "Baja, besi, gajah." 
Jawab orang bijak, “Yang paling berat adalah berjanji.  Hal yang gampang diucapkan, tapi amat sulit dilakukan.” 

5.  Apa yang PALING RINGAN di dunia ini?
Ada yang menjawab, "Kapas, angin, debu, daun."
Jawab orang bijak, “Yang paling ringan di dunia ini adalah Melupakan Tuhan & Meninggalkan Tuhan.  Lihatlah, banyak orang yang karena harta, tahta, nafsu dengan mudah meninggalkan Tuhan.”

6.  Apa yang PALING DEKAT dengan diri kita di dunia ini?
Ada yang menjawab, "Orang tua, sahabat, teman, kerabatnya."
Jawab orang bijak, “Yang paling dekat dengan kita adalah Kematian, sebab kematianPASTI terjadi & tiap detik bisa terjadi.  Dan tidak seorang manusia pun yang tahu kapan datangnya kematian itu.”
 
Diedit dari artikel kiriman Endro Widagdo

Salam, 
Alexander Sindoro

Embun Pagi

Embun Pagi
 
Banyak orang, termasuk aku, yang ingin menjadi kaya, tetapi kita lupa bahwa hidup sendiri adalah sebuah kekayaan

Ketika aku takut bersedekah, aku lupa bahwa semua yang kita miliki adalah
pemberian dan titipan Allah Harta kita yang sesungguhnya bukanlah harta yang
kita miliki, tetapi harta yang kita sedekahkan

Ketika aku ingin jadi yang terkuat, aku lupa bahwa dalam kelemahan, Allah
memberi aku kekuatan

Ketika aku takut rugi, aku lupa bahwa hidupku adalah sebuah keberuntungan karena
anugerah-Nya, ternyata hidup itu sangat indah ketika kita mau bersyukur
pada-Nya

Bukan karena hari ini indah kita bahagia, tetapi karena kita bahagia hari
ini menjadi indah

Bukan karena tidak ada rintangan kita menjadi optimis, tetapi karena kita
optimis rintangan menjadi tak terasa

Bukan karena mudah kita yakin bisa, tetapi karena kita yakin bisa, semuanya
menjadi mudah

Bukan karena semua baik kita tersenyum, tetapi karena kita tersenyum maka
semuanya jadi baik.

Semoga bermanfaat ....

Diambil dari tulisan Hendry Risjawan di internet

Salam, 
Alexander Sindoro

Kenapa Harus Berteriak?

Kenapa Harus Berteriak?
 
Suatu hari seorang guru bertanya kepada murid-muridnya, "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, dia akan berbicara dengan suara lantang atau berteriak?"

Setelah berpikir cukup lama seorang murid mengangkat tangan dan menjawab, "Saat seperti itu dia telah kehilangan kesabaran, maka dia lalu berteriak."  Tapi sang guru balik bertanya, "Bukankah saat itu lawan bicaranya justru berada di dekatnya?  Mengapa dia harus berteriak? Mengapa dia tak berbicara dengan suara yang halus dan lembut?"  Murid tadi tidak bisa menjawab.  Kemudian, berganti-ganti, hampir semua murid mengemukakan alasan yang, menurut pertimbangan mereka, benar.  Namun tidak satu pun jawaban yang memuaskan sang guru.  
 
Guru itu akhirnya berkata, "Ketika dua orang sedang berada dalam keadaan marah, jarak antara ke dua hati mereka justru menjadi amat jauh, walaupun secara fisik mereka begitu dekat.  Oleh karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian jauh, mereka merasa terpaksa harus berteriak.  Akan tetapi, semakin keras mereka berteriak, kemarahan mereka pun semakin bertambah dan, dengan sendirinya, jarak hati mereka pun menjadi lebih jauh lagi.  Oleh karena itu mereka merasa harus berteriak lebih keras lagi."

Sang guru masih melanjutkan, "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta?  Ketika mereka berbicara, mereka bukan hanya tidak berteriak, namun suara yang keluar dari mulut mereka pun begitu halus dan lembut.  Sehalus apa pun suara itu, keduanya bisa saling mendengarkan dengan begitu jelas.  Mengapa demikian?"
 
Mereka tampak berpikir amat dalam namun tak satu pun berani mengemukakan jawaban.  "Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak.  Pada akhirnya, sepatah kata pun tak perlu diucapkan.  Sebuah pandangan mata saja sudah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin disampaikan oleh pasangannya."

Sang guru masih melanjutkan, "Ketika kamu sedang marah kepada seseorang, janganlah menciptakan jarak bagi kedua hatimu.  Lebih baik lagi kalau kamu dapat menahan diri sehingga tidak mengucapkan kata-kata yang memperlebar jarak hati kamu berdua.  Mungkin cara yang bijaksana adalah di saat seperti itu, kamu tidak berkata apa pun.  Waktu dapat membantu kamu agar bisa mengatakan apa yang ingin kamu katakan tanpa kemarahan.  Lebih baik lagi kalau nadanya penuh kasih sayang."

Semoga Bermanfaat
 
Diedit dari artikel di internet

Salam, 
Alexander Sindoro

Cerita Seekor Tikus

Cerita Seekor Tikus
 
Dikisahkan di zaman dahulu kala hidup seekor tikus muda yang lincah dan sehat di rumah seorang petani dalam desa di pinggir hutan.  Suatu hari ketika tikus ini sedang mencari makanan, dia mendengar bunyi derapan yang keras.  Ketika menoleh, dia melihat seekor kucing berlari ke arahnya dengan wajah beringas.  Cepat-cepat dia membalik badan, lari terbirit-birit menyelamatkan diri.  Di tempat yang aman di bawah atap rumah petani, tikus ini berhenti, terengah-engah, dan berkata dalam hatinya, “Aduh, nyaris aku mampus diterkam kucing itu.  Alangkah senangnya kalau aku adalah seekor kucing.” 
 
Di zaman itu hidup seorang kakek sihir yang sakti dan kakek sihir itu dapat memahami pikiran binatang.  Dengan kesaktiannya dia mengubah wujud tikus ini menjadi seekor kucing yang elok dan kuat.  Kucing baru ini mulai bertualang, dia mengejar binatang kecil, termasuk tikus-tikus yang menjadi temannya.  Dia berhasil menangkap beberapa ekor dan senanglah hatinya.  Saat dia akan menggigit seekor tikus, dia mendengar bunyi gonggongan anjing yang berlari kencang ke arahnya.  Segera dia melepaskan tikus yang ada dalam cengkeraman kakinya, melompat lari, naik ke atas pohon.  Di tempat yang aman, kucing ini istirahat, terengah-engah dan berkata dalam hati, “Aduh, hampir saja. Alangkah senangnya kalau aku adalah seekor anjing yang besar.”
 
Tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi seekor anjing pemburu yang besar, berkat mantra dari kakek sihir tadi.  Anjing ini pun berlari-lari mencari kucing untuk dikejar.  Dia merasa dirinya gagah dan mengejar seekor kucing yang lari masuk ke dalam hutan.  Saat dia nyaris berhasil menerkam kucing tadi, dia mendengar auman seekor harimau, yang berlari ke arahnya.  Secepat kilat dia membalik arah dan berlari sekencang-kencangnya.  Di tempat yang aman, dalam desa, karena harimau tadi takut masuk ke desa, anjing ini berhenti dan berkata dalam hati, “Untung aku bisa lari cukup kencang tadi.  Andaikata aku seekor harimau.”
 
Dan, ‘buuuum’, badannya berubah menjadi seekor harimau.  Tak lama kemudian, dari jauh terlihat beberapa orang petani yang berjalan ke arahnya.  Mereka terkejut melihat ada harimau dalam desa.  Segera mereka berlarian, ada yang memukul kentongan, sambil berteriak ‘harimau, harimau!’, yang lain masuk ke dalam rumah mengambil pentungan, golok, tombak, panah, dan berbagai senjata.  Mereka kemudian beramai-ramai mengejar harimau tadi.  Beberapa lemparan batu mengenai tubuhnya, harimau itu merasa sakit dan segera lari masuk ke dalam hutan. 
 
Setelah berhasil menjauh dari kejaran penduduk desa, harimau ini istirahat dan berkata dalam hati, “Nyaris mati aku.  Alangkah senangnya kalau aku adalah manusia.”  Dan, dalam sekejap, badannya berubah menjadi manusia.  Dia berjalan kembali ke desa.  Di jalan dia bertemu dengan seorang tetangga yang menagih utang yang sudah beberapa bulan belum dibayarnya.  Mereka berdua terlibat dalam pertengkaran yang seru, sampai tetangga yang lain keluar dan menanyakan penyebab pertengkaran itu.  Mereka semua menyalahkan dirinya, karena memang dia belum membayar utangnya.  Sesampai di rumah dia duduk termenung, tiba-tiba dia melihat seekor tikus yang berlari sambil membawa makanan di moncongnya.  “Wah, memang lebih enak menjadi seekor tikus.  Tidak perlu memikirkan utang.”  Tiba-tiba, ‘wuuuus’, berkat campur tangan kakek sihir, kembalilah dia menjadi seekor tikus.
 
Dongeng di atas menggambarkan sifat manusia yang serakah, iri dengan berkat orang lain, dan tidak puas atas karunia yang diberikan oleh-Nya.  Banyak di antara kita yang sering iri dan menginginkan apa yang dimiliki oleh orang lain.  Kita tidak menghargai dan/atau tidak mengucapkan syukur atas segudang berkat yang sudah kita terima.  Kita menduga kita paling tahu apa yang kita butuhkan, padahal kita tidak tahu apakah yang kita inginkan memang kita perlukan.  Mungkin yang kita inginkan justru membahayakan diri kita.  Tuhan-lah yang paling mengetahui tentang apa yang kita perlukan.  Jadi, belajarlah bersyukur, nikmati karunia-Nya, dan serahkanlah semua masalah Anda kepada-Nya.  Dia akan menuntun kita dan memberikan yang paling baik bagi kita.
 
Semoga bermanfaat.

Salam, 
Alexander Sindoro