Cerita Seekor Tikus
Dikisahkan di zaman dahulu kala hidup seekor tikus muda yang lincah dan sehat di rumah seorang petani dalam desa di pinggir hutan. Suatu hari ketika tikus ini sedang mencari makanan, dia mendengar bunyi derapan yang keras. Ketika menoleh, dia melihat seekor kucing berlari ke arahnya dengan wajah beringas. Cepat-cepat dia membalik badan, lari terbirit-birit menyelamatkan diri. Di tempat yang aman di bawah atap rumah petani, tikus ini berhenti, terengah-engah, dan berkata dalam hatinya, “Aduh, nyaris aku mampus diterkam kucing itu. Alangkah senangnya kalau aku adalah seekor kucing.”
Di zaman itu hidup seorang kakek sihir yang sakti dan kakek sihir itu dapat memahami pikiran binatang. Dengan kesaktiannya dia mengubah wujud tikus ini menjadi seekor kucing yang elok dan kuat. Kucing baru ini mulai bertualang, dia mengejar binatang kecil, termasuk tikus-tikus yang menjadi temannya. Dia berhasil menangkap beberapa ekor dan senanglah hatinya. Saat dia akan menggigit seekor tikus, dia mendengar bunyi gonggongan anjing yang berlari kencang ke arahnya. Segera dia melepaskan tikus yang ada dalam cengkeraman kakinya, melompat lari, naik ke atas pohon. Di tempat yang aman, kucing ini istirahat, terengah-engah dan berkata dalam hati, “Aduh, hampir saja. Alangkah senangnya kalau aku adalah seekor anjing yang besar.”
Tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi seekor anjing pemburu yang besar, berkat mantra dari kakek sihir tadi. Anjing ini pun berlari-lari mencari kucing untuk dikejar. Dia merasa dirinya gagah dan mengejar seekor kucing yang lari masuk ke dalam hutan. Saat dia nyaris berhasil menerkam kucing tadi, dia mendengar auman seekor harimau, yang berlari ke arahnya. Secepat kilat dia membalik arah dan berlari sekencang-kencangnya. Di tempat yang aman, dalam desa, karena harimau tadi takut masuk ke desa, anjing ini berhenti dan berkata dalam hati, “Untung aku bisa lari cukup kencang tadi. Andaikata aku seekor harimau.”
Dan, ‘buuuum’, badannya berubah menjadi seekor harimau. Tak lama kemudian, dari jauh terlihat beberapa orang petani yang berjalan ke arahnya. Mereka terkejut melihat ada harimau dalam desa. Segera mereka berlarian, ada yang memukul kentongan, sambil berteriak ‘harimau, harimau!’, yang lain masuk ke dalam rumah mengambil pentungan, golok, tombak, panah, dan berbagai senjata. Mereka kemudian beramai-ramai mengejar harimau tadi. Beberapa lemparan batu mengenai tubuhnya, harimau itu merasa sakit dan segera lari masuk ke dalam hutan.
Setelah berhasil menjauh dari kejaran penduduk desa, harimau ini istirahat dan berkata dalam hati, “Nyaris mati aku. Alangkah senangnya kalau aku adalah manusia.” Dan, dalam sekejap, badannya berubah menjadi manusia. Dia berjalan kembali ke desa. Di jalan dia bertemu dengan seorang tetangga yang menagih utang yang sudah beberapa bulan belum dibayarnya. Mereka berdua terlibat dalam pertengkaran yang seru, sampai tetangga yang lain keluar dan menanyakan penyebab pertengkaran itu. Mereka semua menyalahkan dirinya, karena memang dia belum membayar utangnya. Sesampai di rumah dia duduk termenung, tiba-tiba dia melihat seekor tikus yang berlari sambil membawa makanan di moncongnya. “Wah, memang lebih enak menjadi seekor tikus. Tidak perlu memikirkan utang.” Tiba-tiba, ‘wuuuus’, berkat campur tangan kakek sihir, kembalilah dia menjadi seekor tikus.
Dongeng di atas menggambarkan sifat manusia yang serakah, iri dengan berkat orang lain, dan tidak puas atas karunia yang diberikan oleh-Nya. Banyak di antara kita yang sering iri dan menginginkan apa yang dimiliki oleh orang lain. Kita tidak menghargai dan/atau tidak mengucapkan syukur atas segudang berkat yang sudah kita terima. Kita menduga kita paling tahu apa yang kita butuhkan, padahal kita tidak tahu apakah yang kita inginkan memang kita perlukan. Mungkin yang kita inginkan justru membahayakan diri kita. Tuhan-lah yang paling mengetahui tentang apa yang kita perlukan. Jadi, belajarlah bersyukur, nikmati karunia-Nya, dan serahkanlah semua masalah Anda kepada-Nya. Dia akan menuntun kita dan memberikan yang paling baik bagi kita.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Alexander Sindoro
Tidak ada komentar:
Posting Komentar