Minggu, 19 Mei 2013

Dua Kantung

Dua Kantong yang Berbeda
 
Alkisah, ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan & ketenangan di dalam hidupnya.  Orang tersebut mempunyai dua kantong yang dibawa ke mana pun dia pergi.  Di kantong yang satu terdapat lubang di bawahnya, tetapi kantong yang lain rapat.
 
Segala pengalaman menyakitkan yang didengarnya seperti makian, sindiran, dan kata amarah orang, ditulisnya di secarik kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang berlubang.  Sedangkan semua pengalaman yang indah, benar, dan bermanfaat, juga ditulisnya di ecarik kertas, digulung kecil, dan dimasukkannya ke dalam kantong yang rapat.
 
Di malam hari, dia mengeluarkan semua gulungan kertas dari dalam kantong yang rapat, membacanya, dan menikmati lagi hal-hal indah yang sudah dirasakannya sepanjang hari itu.  Kemudian ia merogoh kantong yang berlubang, dan dia tidak menemukan apa pun.  Oleh karena itu dia pun tertawa dan tetap bersukacita, karena tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwanya.
 
Teman-teman, seperti itulah yang seharusnya kita lakukan.  Menyimpan semua yang baik di dalam “kantong yang rapat”, sehingga tidak satu pun yang baik akan hilang dari hidup kita.  Sebaliknya, masukkanlah semua pengalaman buruk dalam “kantong yang berlubang”, sehingga semuanya itu akan jatuh, hilang, dan tidak perlu kita ingat lagi.
 
Namun sayang sekali, banyak orang yang melakukan secara terbalik!  Mereka memasukkan semua pengalaman baik dalam “kantong yang berlubang”, dan pengalaman buruk dalam “kantong yang rapat”.  Artinya, mereka mengendapkan semua pengalaman yang menyakitkan hati, iri, dengki, niat untuk membalas dendam di dalam hati.  Oleh karena itu, beban berat ini membuat jiwanya menjadi tertekan & tidak ada gairah dalam menjalani hidup.  Banyak keindahan dalam hidup yang kemudian tertutup dan tidak bisa dinikmatinya.
 
Oleh karena itu, agar Anda bisa menikmati kehidupan yang bahagia dan tenang jangan menyimpan apa yang tidak baik di dalam hidup kita (tahukah Anda bahwa sakit hati, iri hati, dendam, dan kemarahan juga bisa menyebabkan penyakit serius, bahkan kematian).  Marilah kita belajar untuk menyimpan hanya pengalaman yang baik dan bermanfaat, dan melupakan pengalaman buruk.
 
Diedit dari artikel kiriman ibu MLT
Salam,
 
Alexander Sindoro

Selasa, 07 Mei 2013

Huruf “A” yang Hilang

Huruf “A” yang Hilang
 
Mesin tik tu2 ini  2d2l2h s2h2b2t seti2 s2y2 seb2g2i seor2ng w2rt2w2n.  Mesin tik ini seben2rny2 m2sih b2gus, h2ny2 tuts huruf ‘2’ ny2 sud2h p2t2h, sehingg2 tid2k bis2 digun2k2n l2gi.  J2di terp2ks2 s2y2 g2nti deng2n angka ‘2’, y2ng bentukny2 mirip deng2n huruf ‘2’.  Terny2t2 h2silny2 cukup mengg2nggu.
 
Huruf “a” hanya SATU dari 26 huruf standar dalam abjad Latin.  Untuk menyusun huruf menjadi kata yang bermakna, peran masing-masing huruf sama.  Kalau salah satu dari 26 huruf itu hilang atau diganti dengan huruf yang lain, maka kata yang terbentuk akan menjadi lebih sulit dibaca.
 
Dalam sebuah perusahaan, semua karyawan/wati secara bersama-sama bekerja untuk mencapai sasaran perusahaan.  Masing-masing karyawan mempunyai tugas sendiri-sendiri.  Keadaan ini dapat disetarakan seperti huruf-huruf yang disusun oleh wartawan untuk membentuk kata, kalimat, dan cerita.  Memang ada karyawan yang lebih sering muncul daripada yang lain, seperti halnya dengan huruf, tetapi masing-masing karyawan ikut berperan serta.  Tanpa peran salah seorang karyawan, proses untuk mencapai sasaran perusahaan akan terganggu, seperti kalau kita harus membaca kalimat tanpa salah satu huruf.  Semoga bermanfaat.
 
Dalam kehidupan sehari-hari, kita, saya dan Anda, mempunyai peran masing-masing dalam lingkaran pergaulan kita.  Setiap orang mempunyai peran unik dan berbeda, ada orang yang mempunyai peran ‘besar’, ada yang ‘kecil’.  Akan tetapi, sekecil apa pun peran seseorang, peran itu tidak mudah digantikan oleh orang lain.  Jadi, jangan berkecil hati. Setiap kita mempunyai peran, syukuri peran yang Anda dan berusahalah untuk melaksanakan sepenuhnya serta sebaik-baiknya.  Kalau orang lain ditugaskan untuk menggantikan peran Anda, pasti ada sesuatu yang mengganggu, ada sesuatu yang ‘tidak seperti dulu’.
 
Digubah dari inspirasi oleh Lius Wijaya
 
 
Alexander Sindoro

Terima kasih mengubah "Dunia"

Mengubah “Dunia”

 Larry dan Jo Ann adalah pasangan biasa.  Mereka tinggal di rumah yang biasa, di jalan yang biasa.  Sama seperti pasangan-pasangan lain, tak ada yang istimewa.  Mereka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.  Kadang-kadang mereka bertengkar, masing-masing mengatakan pihak lainlah yang bersalah.  Merupakan hal yang biasa kalau Larry melontarkan kritik kepada anggota keluarga yang bertingkah laku tidak sesuai dengan seleranya.  

Suatu hari Larry berkata, “Jo Ann, sudah lama aku memperhatikan laci lemari itu selalu berisi kaos kaki dan pakaian dalamku.  Terima kasih atas kesediaanmu memperhatikan keperluanku.”  Jo Ann mengangkat matanya dari majalah yang sedang dibacanya, “Apa yang kamu inginkan, Larry?”  “Tidak ada.  Aku sungguh menghargai perhatianmu padaku.” 

Beberapa hari kemudian Larry berkata, “Jo Ann, kamu benar-benar teliti sekarang.  Dari enam belas nomor cek dalam pembukuan kita yang kau catat, lima belas betul.  Terima kasih.”  Jo Ann menunda jahitannya, “Biasanya kamu mengeluh tentang kesalahanku mencatat nomor cek.”  “Aku sungguh menghargai usahamu mencatat nomor cek dengan lebih teliti.”  “Kerasukan apa dia?” kata Jo Ann dalam hati. 

Dua hari kemudian, ketika Jo Ann menggunakan cek untuk membayar aneka makanan yang dibelinya, dia memeriksa lagi nomor cek sebelum menyerahkannya ke kasir.  Jo Ann sendiri heran mengapa dia menjadi lebih teliti sekarang. 

Suatu malam, “Masakanmu malam ini enak benar, terima kasih,” kata Larry kepada istrinya.  “Dalam 15 tahun ini, paling sedikit kamu sudah memasak 14.000 kali untukku dan anak-anak.”  Beberapa hari kemudian, “Jo Ann, rumah kita tampak rapi.  Kamu pasti sudah bekerja keras membuat rumah kita menjadi bersih dan menyenangkan.  Terima kasih.”  Jo Ann merasa heran dan khawatir, “Apa yang terjadi pada dirinya?  Dia bukan Larry yang kukenal. 

Putrinya yang berumur enam belas tahun juga merasakan keanehan itu.  “Apakah ayah sakit, bu?  Kamarku berantakan dan dia mengatakan aku manis.  Apa yang terjadi, bu?” Setelah beberapa minggu berlalu, Jo Ann kadang-kadang mulai menggumamkan ucapan, “Terima kasih”atas pujian Larry.  Dalam hati dia masih percaya bahwa suatu saat keadaan akan kembali menjadi “normal” lagi. 

Suatu malam sehabis makan, “Jo Ann, pasti kau lelah telah bekerja seharian.  Biar aku yang mencuci perabot makan kita.  Istirahatlah.”  Ada keheningan, lama.  “Terima kasih Larry.  Terima kasih banyak,” kata Jo Ann sambil beranjak dari dapur. 

Hari-hari Jo Ann terasa lebih ringan, rasa percaya dirinya meningkat, kadang-kadang dia bersenandung.  Dia tidak demikian murung lagi sekarang.  “Aku lebih menyukai sikap Larry yang sekarang,” kata Jo Ann dalam hati.

 Suatu hari, “Larry, aku mengucapkan terima kasih atas kesediaanmu bekerja dan menjamin kehidupan keluarga selama ini.  Tak pernah terpikirkan olehku untuk memberitahumu bahwa aku amat menghargai jerih payahmu.

Larry tidak pernah menceritakan apa yang membuatnya berubah, walaupun Jo Ann mendesaknya.  Dan hal itu menjadi misteri kehidupan, dan itu amat disyukuri oleh Jo Ann.

Diedit dari cerita yang dituturkan oleh Jo Ann kepada Desert News dalam Chicken Soup for the Soul


Salam,

Alexander Sindoro

Gado - Gado

Gado-gado

“Saya paling doyan gado-gado buatan mpok Ani yang berjualan di pasar. Bumbu kacangnya mantap, manisnya pas, asam dari rasa asam Jawa pas, pedasnya cukup. Sayurnya segar,” kata seorang teman. “Ah, itu sih terlalu manis untukku. Aku lebih suka yang lebih asin. Pak Jarot yang berjualan di depan toko kelontong itu menambahkan sedikit terasi dalam bumbu kacangnya. Uenak banget,” kata teman lain yang berasal dari Surabaya. “Kalau gado-gado, tidak ada yang bisa melawan buatan bik Rampet. Bumbu kacangnya bukan semua kacang tanah, tapi dicampur dengan kacang mete. Wah, gurih benar,” tutur teman lain dari Bandung.

Gado-gado pada dasarnya adalah aneka macam sayuran yang disiram bumbu kacang untuk memberikan rasa. Ada yang menyediakan ketupat, lontong, atau nasi sebagai “makanan pokok”, ada yang menambahkan telur, dan biasanya dilengkapi dengan kerupuk dan/atau emping. Masalah selera, tentu tergantung pada orang yang menyantapnya. Bagi penggemar pedas, tentu ingin yang cabainya banyak; orang yang lahir di Jawa Tengah mungkin lebih gemar bumbu yang dominan manis. Tentu saja ada rasa gado-gado yang “universal”, banyak penggemarnya, karena rasanya tidak ekstrem.

Kita, saya dan Anda, mirip dengan peracik gado-gado. Dalam pergaulan sehari-hari, kita bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Semanis apa senyuman Anda, seramah apa tegur sapa Anda, setulus apa tertawa Anda, seserius apa Anda mendengarkan keluh-kesah teman, pertolongan apa yang Anda berikan pada teman terkena musibah, dan masih banyak faktor lain, bagaikan aneka bumbu yang diambil oleh peracik gado-gado. Apakah teman-teman Anda menilai Anda sebagai orang yang suka menolong, atau judes, atau si biang kerok, atau bikin sebel, atau pemarah, atau kehadiran Anda dirindukan oleh mereka tergantung dari bumbu apa saja dan seberapa banyak yang Anda gunakan untuk meracik “gado-gado” Anda.

Kalau Anda sudah puas dengan “gado-gado” racikan Anda, tidak ada orang yang bisa menyalahkan Anda. Akan tetapi, kalau Anda ingin mengubah kesan dari teman-teman Anda, tentu Anda perlu mengubah bumbu “gado-gado” yang Anda gunakan. Anda perlu mawas diri, melihat orang yang ideal, menurut Anda, mengenali perbedaan apa saja antara dia dan Anda, kemudian mengubah diri Anda. Tentu Anda tidak mungkin menjadi persis seperti orang yang Anda idolakan, tetapi Anda dapat mendekati agar mirip kepribadiannya. Selamat mencoba “bumbu baru”.

Salam,


Alexander Sindoro

Kamis, 02 Mei 2013

Kisah Empat Apel

Kisah Empat Apel!



Seorang anak ditanya gurunya, “Kalau saya kasih kamu sebuah apel, lalu saya kasih satu lagi dan kemudian saya kasih kamu satu lagi. Berapa apelmu sekarang?”

Si Jenny menjawab, “Empat!”. Murid yang lain menertawakannya.

Lho, “Kok bisa. Saya ulangi lagi, saya kasih kamu satu apel, trus saya kasihkan satu, lalu kemudian ditambahkan satu lagi. Jadi berapa?”

Si Jenny masih berteriak, “Empat!”

Bodohnya anak ini, pikir gurunya. Lantas, si guru mendapat ide lain untuk menerangkan.

“Gini deh, Jenny. Saya pakai contoh yang mudah. Di tangan Pak guru ada buah strawberry. Nah, bapak kasih satu, lalu kasih satu, lantas dikasih satu lagi. Berapa jumlahnya?”

“Tiga!”

“Pinter! Nah sekarang saya kasih apel satu, lalu dikasih apel lagi lalu dikasih lagi sebuah apel. Berapa dong jumlahnya?”

“Empat!”

“Lha kok bisa?”

“Soalnya, di tas saya sudah ada satu apel, Pak!”



Hmmm, yang bodoh siapa, gurunya atau muridnya?

Jangan cepat menyimpulkan, sebelum engkau mencari tahu apa yang ada di dalam pikiran sesekarang.

@anthony_dmartin