Selasa, 07 Mei 2013

Gado - Gado

Gado-gado

“Saya paling doyan gado-gado buatan mpok Ani yang berjualan di pasar. Bumbu kacangnya mantap, manisnya pas, asam dari rasa asam Jawa pas, pedasnya cukup. Sayurnya segar,” kata seorang teman. “Ah, itu sih terlalu manis untukku. Aku lebih suka yang lebih asin. Pak Jarot yang berjualan di depan toko kelontong itu menambahkan sedikit terasi dalam bumbu kacangnya. Uenak banget,” kata teman lain yang berasal dari Surabaya. “Kalau gado-gado, tidak ada yang bisa melawan buatan bik Rampet. Bumbu kacangnya bukan semua kacang tanah, tapi dicampur dengan kacang mete. Wah, gurih benar,” tutur teman lain dari Bandung.

Gado-gado pada dasarnya adalah aneka macam sayuran yang disiram bumbu kacang untuk memberikan rasa. Ada yang menyediakan ketupat, lontong, atau nasi sebagai “makanan pokok”, ada yang menambahkan telur, dan biasanya dilengkapi dengan kerupuk dan/atau emping. Masalah selera, tentu tergantung pada orang yang menyantapnya. Bagi penggemar pedas, tentu ingin yang cabainya banyak; orang yang lahir di Jawa Tengah mungkin lebih gemar bumbu yang dominan manis. Tentu saja ada rasa gado-gado yang “universal”, banyak penggemarnya, karena rasanya tidak ekstrem.

Kita, saya dan Anda, mirip dengan peracik gado-gado. Dalam pergaulan sehari-hari, kita bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Semanis apa senyuman Anda, seramah apa tegur sapa Anda, setulus apa tertawa Anda, seserius apa Anda mendengarkan keluh-kesah teman, pertolongan apa yang Anda berikan pada teman terkena musibah, dan masih banyak faktor lain, bagaikan aneka bumbu yang diambil oleh peracik gado-gado. Apakah teman-teman Anda menilai Anda sebagai orang yang suka menolong, atau judes, atau si biang kerok, atau bikin sebel, atau pemarah, atau kehadiran Anda dirindukan oleh mereka tergantung dari bumbu apa saja dan seberapa banyak yang Anda gunakan untuk meracik “gado-gado” Anda.

Kalau Anda sudah puas dengan “gado-gado” racikan Anda, tidak ada orang yang bisa menyalahkan Anda. Akan tetapi, kalau Anda ingin mengubah kesan dari teman-teman Anda, tentu Anda perlu mengubah bumbu “gado-gado” yang Anda gunakan. Anda perlu mawas diri, melihat orang yang ideal, menurut Anda, mengenali perbedaan apa saja antara dia dan Anda, kemudian mengubah diri Anda. Tentu Anda tidak mungkin menjadi persis seperti orang yang Anda idolakan, tetapi Anda dapat mendekati agar mirip kepribadiannya. Selamat mencoba “bumbu baru”.

Salam,


Alexander Sindoro

Tidak ada komentar:

Posting Komentar