Managing Generation Gap
“Kuno Ah! Tiap hari boss cerita nostagia ,soal kenangan lama terus. Bosen!”, kata si anak muda tentang bossnya.
Sementara si tua berkata, “Kok anak muda sekarang nggak punya sopan santun ya?” atau, “Kenapa generasi sekarag dikasih tantangan dikit aja udah ciut, terus banyak perhitungannya. Disuruh masuk untuk lembur aja udah protes dan ngeluh. Lembek banget ya generasi sekarang?”
Nah itu dia! Generation Gap! Beda Generasi, beda pula komunikasinya! Yang jelas, saat ini, tengah muncul 4 generasi yang saling berhubungan. Yakni generasi Baby Boomer, Gen X, Gen Y serta Gen Z. Mereka punya kepedulian, minat, tata nilai serta cara berinteraksi yang berbeda karena panggilan jaman mereka. Kini, ke-4 generasi ini hidup di waktu yang sama.
Tak heran, muncullah yang namanya “Generation Gap”. Hal ini bukan saja terjadi di keluarga tetapi juga di tempat kerja. Ketika dikelola dengan baik, maka ke-4 generasi ini akan saling menutupi kekurangan. Tetapi, berbagai sumber konflik, ketidakcocokan, perselisihan juga berawal dari perbedaan ini.
Berbagai Generasi di Indonesia
Untuk mudahnya, saya coba petakan kondisi generasi di Indonesia saat ini berdasarkan situasi riilnya. Pemetaan ini agak sedikit berbeda dengan klasifikasi dari luar negeri. misalkan saja, Harvard Joint Center yang memetakan Gen X berusia antara 1965 hingga 1984. Menurut saya, rentang 20 tahun itu terlalu jauh. Sehingga untuk mudahnya, dan kalau kita perhatikan situasi di Indonesia, maka generasi itu kita bagi menjadi 4 generasi dengan rentang waktu Baby Boomer (lahir tahun 50 ataupun 60-an); Gen X (lahir tahun 70-an), Gen Y (lahir tahun 80-an), Gen Z (lahir 2000an). Dan untuk mudahnya mari kita perhatikan masing-masing kondisi generasi tersebut!
Untuk Baby Boomer (lahir 1950-1960 an).
Inilah yang saya sebut generasi air tajin! Apa itu air tajin? Anak muda sekarang tidak akan mengenalnya. Itulah air hasil menanak nasi yang seringkali dijadikan sebagai pengganti susu karena susu sangat langka dan mahal pada waktu itu. Inilah generasi yang hidup barusan setelah PD ke-2 selesai. Inilah jaman susah. Bahkan sering kali dikatakan, “makan telur asin saja masih harus dibagi menjadi empat”. Pendidikan masih langka dan tidak mudah diperoleh. Kalaupun bisa sekolah, hanya segelintir beruntung yang bisa mendapatkannya. Dan biasanya kita akan mendengar kisah generasi ini yang harus berjalan berkilo-kilo bahkan bersepeda sangat jauh, haya untuk bisa bersekolah. Bagusnya, generasi Baby Boomer ini sangat mandiri. Dan biasanya, mereka dibesarkan dalam lingkungan dengan banyak saudara. Dan oleh karena orang tuanya sibuk bertani, berdagang ataupun menjadi buruh, akibatnya anak cenderung tidak terperhatikan. Merekapun telah belajar sangat mandiri sejak kecil. Tidak terlalu banyak hiburan pada saat itu. Televisi masih hitam putih. Inilah generasi Khoo Ping Ho, bacaan silat dalam bentuk buku-buku kecil yang dijilid berseri-seri. Nah apa kelebihan generasi Baby Boomer ini? Kelebihan utama adalah mereka punya totalitas kerja yang tinggi, tidak mudah mengeluh dalam kesusahan, disiplin dan etos kerja tinggi, dan cenderung radikal kalau menyangkut nilai-nilai tertentu sehingga terkesan agak memaksakan. Namun kekurangannya, kadang mereka suka bernostalgia, butuh respek atas pengalaman mereka dan repotnya, agak gaptek.
Gen X (lahir 1970-an).
Ini istilah dipopulerkan oleh Dauglas Coupland. Inilah generasi yang saya sebut generasi susu kental manis. Atau kita sebu generasi Tintin serta HC Andersen (bacaan populer saat itu). Ini merupakan generasi transisi. Generasi yang terimbas langsung dari generasi Baby Boomer, tapi udah lebih kompromistis. Generasi ini mulai memberontak serta tidak lagi terlalu percaya pada leader. Mereka ini generasi yang lebih kosmopolitan, mereka mulai bisa enjoy dengan hidupnya, tapi masih mengadopsi nilai-nilai kedisiplinan dan kesusahan. Berbeda dengan Baby Boomer yang keras, mereka ini berusaha tidak terlalu keras kepada anak-anaknya, dan cenderung lebih membiarkan. Dan menurut hasil sensus global : inilah generasi yang pendidikannya paling tinggi, dan umumnya punya kepedulian masalah sosial tinggi, dikarenakan mereka memberontak terhadap sistem sebelumnya. Nah, apa lebihnya Gen X ini? Untungnya, merek lebih fleksibel, lebih bisa enjoy hidupnya, lebih kompromistis serta moderat. Namun, kekurangannya kadang Gen X ini masih plin plan. Di satu sisi nggak mau terlalu militeristik, tapi juga tidak bisa sepenuhnya enjoy.
Gen Y (lahir 1980-an).
Kita sebut Generasi Millenium atau lebih mudahnya, inilah generasi susu formula. Mereka disebut pula generasi Dragon Ball, Power Rangers (hiburan populer buat mereka saat itu). Banyak yang menyebut inilah generasi yang narsis, pintar serta agresif. Pola kerja cenderung “teng-go”. Habis kerja Anda akan melihat mereka sibuk main futsal, finess ataupun ngopi bareng temen. Kalau weekend? Sudah punya acara sendiri. Kelebihan generasi ini adalah mereka sangat metroseksual, trendy serta branded dalam menggunakan produk. Apa kekurangannya? Masalahnya, kadang mereka sukar menerima proses yang lama bahkan cenderung tidak sabaran.
Gen Z (1990-sekarang).
Kita sebut Generasi Platinum. Inilah generasi ponsel atau generasi computer games. Tak heran kalau untuk generasi ini, survey pada mereka, sebagian besarnya (70%) mengatakan, “smartfphone adalah bagian dari kehidupan saya”. Mereka generasi yang lebih narsis serta ekpresif. Liat dong social mereka. Semua ide dan perilaku mereka didokumentasikan disana. Inilah generasi yang oleh Time Magazine disebut “The Me..Me..Me…generation!”. Yakni lebih tergantung pada teknologi: tersambung 7 hari dan 24 jam. Lebih memprioritaskan jadwal diri ataupun keluarga (kalau sudah berkeluarga). Mereka pun achievement oriented, dalam arti sangat berorientasi prestasi bahkan cenderung ambisius. Kelebihan utama Gen Z ini adalah IQ mereka lebih tinggi, lebih kritis, lebih pede, lebih berani mengekspreasikan diri, menyesuaikan diri dengan cepat, mengambil manfaat dari teknologi, heterogen, lebih terbuka terhadap perbedaan, lagipula lebih menikmati hidup. Namun, kekurangan yang banyak dikeluhkan adalah: mereka mengejar kesetaraan sehingga kadang terkesan nggak sopan pada yang lebih tua. Terlalu berorientasi diri sehingga agak kurang peka dengan masalah social. Banyak yang semboyannya: hidup sekarang konsekuensinya nanti, mau cepat mendapatkan hasilnya. Misalkan saja, ada seorang rekruter HRD di perusahaan yang mengatakan, “Pak Anthony. Saya bingung, baru saja ada pelamar kerja anak kemarin sore, minta gaji 10juta dengan pengalaman 1 tahun kerja.”
Bagaimana Mengelola Gen Y ataupun Gen Z Di Kantor?
Pertama-tama, kenali bahasa mereka. “The best to enter people’s wrls s to speak their language”. Kenali istilah-istilah yang mereka pakai, dan bergaullah dengan cara mereka. Kalau perlu belajar pula bahasa gaya alay yang sering mereka pakai. Termasuk jadi atasanpun, harus mulai bisa mencoba menyesuaikan dengan bahasa-bahasa mereka ini. Termasuk, kenali gadget yang mereka pakai dan pakailah untuk berkomunikasi dengan mereka. Kalau perlu jadilah follower mereka di twitter ataupun komunikasikah lewat media social dengan mereka.
Kedua, janganlah terlalu micromanagement, terlalu detil. Kasihlah mereka kepercayaan, diskusi dengan mereka soal tujuan dan cara mengerjakan. Kalau perlu kasih mereka menentukan, kapan akan selesai. Bebaskan mereka untuk mengerjakan, tapi seringlah diajak diskusi dan sharing soal perkembangan mereka kerja mereka. Mereka suka mendapatkan sentuhan yang sifatnya personal.
Ketiga, kasihlah ruang untuk mengekpresikan diri. Libatkanlah. Kalau misalkan di perusahaan ada majalah perusahaan, kasih kesempatan bagi mereka untuk eksis. Kalau perlu ada kolom khusus untuk berita komunitas mereka, komunitas bersepeda, komunitas futsal, komunitas fotografi, dll. Juga kasih rubric untuk mengekpresikan diri dan ide mereka. Mereka akan suka!
Keempat, kurangilah sekat-sekat birokrasi. Libatkanlah feedback dan masukan dari mereka. Sebagai contoh, DBS Bank di Singapore memberi kesempatan karyawan untuk interaksi secara langsung dengan pimpinan tertingginya!
Kelima, kasih rewards yang sifatnya lebih personal. Bukan lagi cuma gaji, tapi juga misalkan hadiah berlibur, ataupun hadiah yang lebih sesuai dengan hobi dan minat mereka.
Dan terakhir, perusahaan dan manajemen memang perlu lebih “gaul”. Ciptakanlah ruang bermain, ruang game, dll. Kalau tidak percaya, lihatlah daftar perusahaan yang tergolong: “Best Companies to Work”. Google misalnya. Dan disitu Anda akan melihat tata ruang kerja yang sama sekali berbeda. Intinya, generasi telah berbeda, makanya dituntut pula pendekatan Anda yang juga berbeda! Ini bukan cuma teori, tapi mesti dipraktekkan agar tidak terjadi konflik komunikasi serta bisa sukses mengelola generasi sekarang.
Best regards,
Anthony Dio Martin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar