Jalan Hidup
Alkisah beberapa ratus tahun yang lalu di daratan Tiongkok, hidup seorang petani muda bernama Zhang di sebuah desa. Walaupun dia dikaruniai wajah yang tampan, badan yang kekar, dan otak yang cemerlang, sebagai petani di desa, hidupnya pas-pasan. Zhang mempunyai istri yang cantik dan pandai memasak serta menyanyi, bernama Li. Mereka telah mempunyai dua orang anak, seorang laki-laki dan adiknya perempuan. Atas desakan dari istri dan keluarganya, Zhang mempersiapkan diri dan mengumpulkan dana untuk ikut ujian seleksi pegawai kerajaan di ibukota. Oleh karena jarak desa dan ibukota jauh, dan Zhang harus berjalan kaki ke sana, dia berangkat kira-kira sebulan sebelum ujian dilakukan diiringi dengan doa dari keluarganya.
Setelah berjalan hampir 4 minggu, Zhang sampai di ibukota. Dia menginap di penginapan yang sederhana, sebab bekalnya minim. Peserta ujian cukup banyak dan Zhang adalah salah seorang peserta yang berpenampilan paling sederhana. Peserta ujian yang lain memandang sebelah mata kepada Zhang. “Bajunya saja seperti pengemis, kok berani ikut ujian negara, ya? Apakah dia bisa membaca?” ejek salah seorang peserta yang mengenakan baju dari kain sutra dan badannya harum semerbak mewangi. Teman-temannya serentak tertawa terbahak-bahak. Akan tetapi, Zhang pura-pura tidak mendengar. Beberapa hari kemudian hasil ujian diumumkan, ternyata Zhang memperoleh nilai paling tinggi dan keesokan harinya dia diundang ke istana untuk memperoleh penghargaan dari kaisar.
Sebagai lulusan paling baik Zhang langsung diangkat menjadi pegawai kerajaan. Oleh karena itu dia mendapat rumah dinas dan memperoleh gaji tinggi, beberapa puluh kali lipat dari hasil penjualan panennya dalam satu musim. Dalam upacara dan pesta pengangkatan pegawai-pegawai baru, Zhang tampil sederhana dan sopan. Dia tidak dendam kepada peserta ujian yang menghinanya. Sikapnya ini ternyata mendapat perhatian dari kaisar.
Zhang ternyata juga cekatan dalam menjalankan tugasnya sebagai pegawai kerajaan. Beberapa minggu setelah bekerja di ibukota, kaisar mengundang Zhang untuk santap bersama. Kaisar menerima Zhang di ruang yang besar. Di situ sudah ada permaisuri dan salah seorang putri kaisar. Sambil menikmati hidangan yang serba lezat, kaisar menanyakan apakah Zhang sudah berkeluarga. Sebelum Zhang sempat menjawab, kaisar melanjutkan niatnya untuk menjodohkannya dengan putrinya. Hati Zhang terombang-ambing antara mengaku bahwa dia sudah berkeluarga atau berbohong bahwa dia masih lajang. Rupanya iming-iming kelimpahan harta dan fasilitas yang akan bisa direguknya sebagai menantu kaisar mengalahkan kesetiaan dan kecintaannya pada keluarga. Zhang akhirnya menjadi menantu kaisar.
Di desa, keluarga Zhang hidup dengan amat susah karena saat itu kekeringan melanda. Panen gagal, air bersih sulit diperoleh, penyakit merajalela, dan salah satu korbannya adalah orangtua Zhang. Setelah menguburkan kedua mertuanya secara sederhana, Li membawa kedua anaknya berjalan ke ibukota untuk mencari Zhang, yang sama sekali tidak ada beritanya setelah berangkat untuk mengikuti ujian seleksi pegawai kerajaan. Li terpaksa minta-minta atau bekerja serabutan di sepanjang jalan, karena memang tidak mempunyai bekal.
Setelah kira-kira 3 bulan, Li akhirnya sampai di ibukota dan masih harus minta-minta atau mencari pekerjaan, sambil mencari keterangan tentang suaminya. Setelah bertanya-tanya ke banyak orang, akhirnya dia mendengar juga bahwa suaminya sekarang telah menjadi pegawai kerajaan dan menantu kaisar. Antara percaya dan tidak dia mencari tempat suaminya bekerja dan menemuinya. Di pintu masuk Li dan kedua anaknya dicegah masuk oleh penjaga, karena dianggap sebagai peminta-minta biasa. Li kemudian menyuruh kedua anaknya lari menyelinap di antara kedua penjaga dan masuk mencari ayah mereka. Ketika melihat ayahnya, kedua anak itu senang sekali dan berteriak, “Ayah, ayah!” Terkejut melihat kenyataan itu, Zhang semula ingin memeluk kedua anaknya, tetapi segera dia menyadari kerumitan yang akan timbul dan dengan suara keras dia menghardik, “Siapa kamu, bocah-bocah nakal? Beraninya kamu masuk ke ruang kerjaku! Penjaga! Keluarkan mereka!” Saat itu Li berhasil masuk menyusul kedua anaknya. Zhang sedih sekali melihat wajah istrinya yang tampak kurus dan kotor, tetapi dia mengeraskan hati dan mengusirnya keluar.
Setelah di luar gedung, Li bertanya-tanya di mana letak gedung pengadilan. Dia pergi ke sana dan mengadukan perkaranya kepada hakim. Untunglah dia bertemu dengan hakim yang jujur dan berani. Hakim itu menampung Li dan kedua anaknya di rumahnya serta meminta keterangan rinci kepada Li tentang keluarganya. Berbekal pada informasi yang diperoleh, hakim tadi menjadwalkan persidangan untuk menuntut Zhang, menantu kaisar. Sebelum hari persidangan tiba, permaisuri dan putri kaisar berusaha mempengaruhi sang hakim untuk membatalkan sidang. Mereka juga membujuk Li agar mencabut tuntutannya dengan imbalan uang yang amat banyak, yang pasti cukup untuk membiayai hidupnya bersama kedua anaknya secara memadai. Akan tetapi, Li bersikukuh untuk tetap menuntut suaminya yang tidak bertanggung jawab. Hakim tadi berkata, “Baiklah besok kita semua menghadap kaisar. Kita ceritakan kisah ini kepada kaisar dan memohon keputusan kaisar. Kalau kaisar menyatakan Zhang tidak bersalah, saya akan mengundurkan diri sebagai hakim.”
Moral cerita
· Selama hidup manusia menghadapi bermacam-macam godaan. Bila hati kita lemah dan menyerah pada godaan (harta, jabatan, seks), kita akan jatuh ke dalam dosa (Zhang). Banyak manusia yang rela mengorbankan integritasnya demi mencicipi kenikmatan duniawi. Mereka rela berbohong, berkhianat untuk mengejar kesenangan sesaat. Cepat atau lambat kebohongan dan pengkhianatan akan terungkap.
· Kalau sedang menghadapi masalah, alangkah baiknya bila kita berjuang tanpa kenal lelah (Li). Tidak banyak orang yang tidak menyerah ketika berbagai kesulitan sedang melanda dan menghimpit dirinya. Keteguhan hati diperlukan untuk tetap bertahan.
· Kalau kebetulan kita mempunyai harta dan kekuasaan, janganlah menyalahgunakannya untuk menekan orang kecil (permaisuri & putri kaisar). Sering orang yang mempunyai harta dan kekuasaan (menjadi pejabat) merasa bahwa kekayaan dan kekuasaan itu bersifat abadi. Mereka lupa bahwa bencana (kebakaran, banjir, gempa bumi, penyakit, kematian) mudah sekali terjadi dan manusia tidak mampu mencegahnya.
· Jangan takut membela kebenaran, walaupun konsekuensinya besar (hakim). Sering seseorang enggan mengemukakan kebenaran bila dengan tindakan itu keselamatan (jabatan) dirinya atau keluarganya terancam. Tidak banyak orang yang berani mengatakan bahwa yang salah adalah salah dan tidak mengikutinya, apalagi kalau kesalahan itu (melanggar peraturan lalu lintas, korupsi, hubungan seks bebas, aborsi, membuang sampah sembarangan) sudah menjadi arus utama (dilakukan oleh banyak orang).
Semoga bermanfaat
Alexander Sindoro
Tidak ada komentar:
Posting Komentar